
Semua orang yang hadir di tempat itu menatap kagum ke arah Adit karena mereka berpikir bahwa Adit sangat memperdulikan buah hatinya, sedangkan Rara menatap ke arah Adit dengan senyuman tipis di bibirnya
"Terima kasih ya mas, terima kasih karena kamu tetap memperjuangkan keinginan aku walaupun kamu harus berbohong di hadapan keluarga kamu. Aku benar-benar bersyukur memiliki suami seperti kamu mas," batin Rara
Semua orang bisa saja melihat dengan perasaan kagum karena menjadi sosok laki-laki yang memikirkan perasaan sang buah hati, tetapi entah mengapa sang papa memberikan senyuman yang penuh arti kepada Adit
"Kamu bisa saja membodohi semua orang yang berada di tempat ini Dit, tapi kamu ga akan bisa membodohi papa kamu ini. Papa yakin alasan utama kamu memilih hal tersebut karena istri kamu bukan karena Ical, tapi papa jadi bangga sama kamu Dit karena dengan begini kamu menunjukkan sikap melindungi dari seorang suami." batin sang papa
Papanya Adit pun menatap ke arah Rara
"Kalau saya ga salah ingat seharusnya saat ini kamu masih kuliah kan?"
"Iya om, sebentar lagi saya sudah mulai menyusun skripsi om." jawab Rara dengan sopan
"Kalau aku ga salah ingat Adit pernah cerita mantan istri dia membawa anak ini tinggal bersama mereka untuk menyelesaikan kuliahnya, karena keinginan mertua Adit ingin semua anaknya mendapatkan pendidikan yang tinggi. Sebaiknya coba aku pastikan," batin sang papa
"Kalau menurut papa sih sebaiknya resepsi pernikahan kamu diadakan setelah dia lulus kuliah aja Dit, jadi masih ada cukup waktu untuk mempersiapkan semuanya dengan baik. Gimana menurut kamu Dit?" tanya sang papa dengan serius
Adit pun tersenyum dengan tulus kepada sang papa karena sang papa untuk ikut angkat suara, sang papa pun semakin yakin dengan apa yang ada di dalam benaknya pada saat itu
"Aku setuju dengan usulan dari papa," jawab Adit dengan yakin
Sang mama pun menganggukkan sedikit kepalanya tanda setuju dengan hal tersebut
"Betul juga ya, kita juga harus kasih waktu Rara untuk beradaptasi dengan anggota keluarga kita yang lainnya. Termasuk ga panggil mama dengan sebutan tante lagi"
__ADS_1
Semua orang tertawa geli mendengar ledekan untuk Rara pada saat itu, sedangkan Rara hanya bisa terdiam dengan senyuman di bibirnya tetapi jauh di dalam hatinya merasa bahagia karena dia bisa melalui itu semua dengan baik
Saat malam mulai semakin larut semua mulai membubarkan diri satu persatu dari rumah mewah tersebut, sang papa meminta Adit untuk bicara empat dan membawa Adit ke ruang kerjanya dan kini mereka sudah duduk saling berhadapan
"Aku mau mengucapkan terima kasih untuk bantuan dari papa tadi," ucap Adit dengan tulus
Sang papa terlihat menganggukkan sedikit kepalanya tanda mengerti
"Kenapa papa minta aku ke sini pah?"
"Apa kamu sudah yakin untuk memilih dia menjadi pendamping hidup kamu?" tanya sang papa dengan tegas
Adit menjawab dengan anggukan kepalanya tanpa rasa ragu sama sekali
"Papa mau mengingatkan kamu untuk menjaga keluarga kamu dengan baik, jadikan kegagalan kemarin sebagai sebuah pembelajaran yang berarti di dalam hidup kamu. Papa lihat sepertinya dia anak yang baik dan papa juga ga mau melihat kamu gagal dalam berumah tangga"
"Kamu juga pasti sadar kalau umur kalian terpaut cukup jauh, jadi kamu harus berusaha untuk mengerti anak seumuran dia dan jangan selalu memaksakan kehendak kamu sama dia." ucap sang papa dengan tegas
"Iya pah"
"Papa tau kalau kamu sekarang sudah besar tapi sebagai orang tua papa akan memberikan kamu sebuah nasihat"
Adit pun hanya terdiam dan menatap sang papa dengan serius
"Untuk menjaga hubungan di dalam rumah tangga ada saatnya kita harus mengalah terhadap istri kita selama masih di dalam batas garis wajar, jangan karena kita merasa sebagai kepala rumah tangga istri kita harus mengikuti semua keinginan kita. Terkadang apa yang kita anggap baik menurut kita belum tentu baik menurut istri kita," lanjut sang papa dengan serius
__ADS_1
"Adit mengerti pah, Adit janji akan berusaha untuk menjaga rumah tangga Adit dengan baik." jawab Adit penuh keyakinan
"Karena kamu adalah pilar dari keluarga besar Erlangga saat ini, jadi papa ga akan rela bila melihat kamu menjadi goyah karena permasalahan rumah tangga kamu. Tapi entah mengapa papa merasa kalau anak kecil itu akan membuat kamu semakin berani dan kuat, semua itu bisa terbukti dengan kamu kembali ke keluarga ini demi anak kecil itu." batin sang papa sambil tersenyum tipis
Waktu pun terus berlalu dengan sangat cepat dan tanpa terasa pernikahan Adel dan Jonathan sudah berada di depan mata, dan hari itu Adit datang ke kediaman lamanya bersama dengan Rara untuk membawa sang buah hati tinggal bersama dirinya
Adel yang mengetahui keinginan Adit datang ke tempat itu meminta sang pengasuh untuk menemani Haikal di dalam kamarnya, dia juga memerintahkan untuk menahan agar sang buah hati tidak keluar dari dalam kamarnya untuk sementara waktu
Adel ingin berusaha sekali lagi untuk mempertahankan sang buah hati karena kini dia harus berjuang seorang diri, entah mengapa Jonathan berubah pikiran dengan sebuah alasan bahwa dia tidak bisa membantu untuk melawan Adit di pengadilan
"Apa harus dengan cara seperti ini mas? kita bisa mengatur ulang waktu kamu untuk bertemu dengan Ical tapi tolong biarkan aku yang merawat Ical mas, bagaimana pun juga aku adalah ibu kandung dia mas dan seorang anak akan lebih baik bersama ibu kandungnya"
"Kamu apa-apaan sih Del? bukannya kita sudah pernah membahas tentang ini? apa kamu benar-benar mau kita memperebutkan hak asuh Ical di pengadilan?" tanya Adit dengan tegas
Pada saat itu Rara hanya bisa berdiam diri karena dia berada di posisi yang serba salah, di satu sisi dia bisa mengerti perasaan Adel pada saat itu sebagai sesama wanita. Tetapi di sisi lain ada sang suami yang memberikan sebuah alasan yang jelas mengapa dia tidak bisa membiarkan Haikal tetap tinggal bersama Adel
"Apa kamu harus berbuat sampai sejauh itu mas? aku bisa merawat Ical dengan baik mas, kamu bisa lihat sendiri kalau keadaan Ical baik-baik saja sampai saat ini." ucap Adel lirih
Adit pun tersenyum sinis
"Aku rasa kita sudah pernah membahas tentang ini, tapi kalau kamu memaksa aku untuk mengatakan tentang hal itu lagi aku ga akan keberatan. Apa lagi saat ini kamu sudah tau tentang semua kebenaran di malam itu," ucap Adit dengan tegas
"Saat ini aku sudah ga bisa menggunakan alasan perselingkuhan mas Adit karena itu semua tidak pernah terjadi, apa aku benar-benar harus kehilangan Ical?" batin Adel
"Aku tau kalau aku ga mungkin menang melawan kamu di pengadilan mas, itu juga alasan aku mengajak kamu untuk bicara secara baik-baik mas. Tolong mas jangan bawa Ical dari aku," ucap Adel lirih
__ADS_1
Untuk pertama kalinya seorang Adel terlihat bersikap lunak bahkan ekspresi wajah Adel saat itu sudah terlihat memelas