
Rara yang tidak ingin membuat kesalahan baru langsung melarikan diri ke dalam kamarnya, dan pada malam itu sepasang pengantin baru itu hanya menghabiskan malam mereka di dalam kamar mereka masing-masing
Langit di luar sana masih gelap gulita tetapi Rara sudah terbangun karena dia memang sengaja memasang alarm pada jam itu, dia hanya tidak ingin membuat kesalahan baru di pagi hari yang akan membuat dia mendapatkan serangan kata-kata indah dari sang suami
"Sebenarnya aku masih ngantuk banget tapi aku tetap harus bangun, sepertinya yang mas Adit bilang aku harus menjalankan kewajiban aku sebagai seorang istri. Semangat Ra!!"
Setelah membersihkan diri Rara pun mulai menyiapkan bahan makanan yang akan dia masak untuk menu sarapan, setelah dia selesai memasak dia pun mulai membersihkan apartemen tersebut
Di dalam kamar Adit alarm yang dia pasang pun berbunyi, tanpa menunggu lama Adit sudah mulai terbangun dari tidurnya. Saat Adit membuka pintu kamarnya dia pun bisa mencium aroma makanan
Adit pun tetap melanjutkan langkah kakinya dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, Adit sempat melirik sekilas ke arah Rara yang masih asik membersihkan apartemen tersebut
"Sudah mulai sadar anak ini tentang tanggung jawab seorang istri, jangan cuma mau menikah tanpa tau tanggung jawab masing-masing." ucap Adit di dalam hatinya
Sedangkan Rara yang mengetahui bahwa Adit sudah berada di dalam kamar mandi menghentikan semua yang sedang dia lakukan, dia pun segera menyiapkan secangkir teh hangat dengan sebuah irisan lemon seperti yang biasa Adit minum di pagi hari saat di kediamannya
Rara pun meletakkan teh tersebut di atas meja yang berada di ruang tamu lalu melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda, Adit yang sudah selesai membersihkan diri menuju kamarnya dan dia sempat melihat teh yang sudah Rara siapkan
"Bagus, kalau begini kan aku ga perlu selalu merasa marah kalau melihat anak itu." ucap Adit di dalam hatinya sambil tersenyum tipis
Adit pun segera masuk ke dalam kamarnya dan mulai berpakaian rapi untuk pergi bekerja, saat keluar dari dalam kamarnya Adit pun mendudukkan tubuhnya di ruang tamu dan mulai menikmati teh yang telah tersedia. Adit pun mulai melihat ke arah Rara yang masih di sibukkan dengan pekerjaan yang sedang dia lakukan
"Ra..."
"Ya mas," jawab Rara sambil menatap ke arah Adit
Adit pun melambaikan tangannya tanda dia meminta Rara untuk mendekat, Rara yang melihat hal tersebut langsung menghampiri Adit dengan gagang sapu masih berada di tangannya. Rara pun sudah berdiri di dekat Adit tetapi Adit hanya terdiam dan menatap ke arah Rara dengan tajam
__ADS_1
"Ya ampun sekarang apa lagi salah aku? kenapa muka masa dirinya begitu? aku udah berusaha melakukan semuanya dengan baik," ucap Rara di dalam hatinya
"Kenapa mas Adit panggil aku mas?"
"Apa maksud kamu Ra?" tanya Adit dengan tegas
Rara yang sudah merasa ketakutan hanya bisa terdiam sambil menundukkan kepalanya
"Apa kamu berniat untuk memukul saya?"
Entah apa yang ada di dalam pikiran Adit pada saat itu? bagaimana bisa dia mempunyai pikiran bahwa Rara akan memukul dirinya sedangkan untuk menatap ke arah dirinya pun Rara merasa takut
"Aku ga ada niat untuk pukul kamu kok mas, ini cuma ga sengaja kebawa aja karena tadi aku buru-buru." ucap Rara dengan hati-hati
"Astaga Aditya Putra Erlangga!! sebenarnya kepala kamu itu berisikan dengan apa? kalau kamu panggil dia waktu lagi nyapu ya ga salah kalau dia pegang sapu!! sumpah Adit kamu benar-benar bodoh!!" gerutu Adit di dalam hatinya
"Maaf mas kalau aku berbuat salah," ucap Rara dengan lirih
"Hem...."
Adit mulai mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan salah satu kartu yang berada di dalam dompet tersebut, dia pun mulai menyodorkan kartu tersebut kepada Rara
"Saya panggil kamu cuma mau kasih ini"
"Ini buat apa ya mas?" tanya Rara sambil menatap ke arah Adit
"Buat beli semua yang kamu butuhkan dan kebutuhan rumah, saya ga mau di bilang sebagai suami yang jahat karena ga memberi nafkah sama istrinya. Saya juga ga mau di bilang suami yang di kasih makan sama istrinya"
__ADS_1
"Ya mas"
Rara pun terpaksa mengambil kartu yang Adit berikan kepada dirinya untuk menghindari masalah yang baru, selain itu dia juga hanya berstatus sebagai seorang pelajar yang tidak akan mungkin sanggup bila harus terus menerus memenuhi semua kebutuhan di apartemen tersebut
"Kamu boleh pakai kartu itu untuk beli apapun yang kamu mau, saya cuma menjalankan tugas saya sebagai suami." ucap Adit dengan tegas
"Terima kasih mas"
"Karena saya sudah penuhi kewajiban saya sebagai suami, jadi jalani tugas kamu sebagai istri dengan baik"
"Ya mas, kalau kamu mau sarapan sudah aku siapkan mas"
Tanda banyak bicara Adit langsung bangkit dan melangkahkan kakinya ke arah meja makan, dia pun mendudukkan tubuhnya di meja makan. Adit pun menatap ke arah Rara sambil mengerutkan keningnya
"Jadi maksud dia apa?"
Yang sedang Rara lakukan pada saat itu adalah melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda, saat itu Rara hanya tidak mau Adit merasa kurang nyaman bila makan berbarengan dengan dirinya
"Apa kamu mau suruh saya makan sendirian?" tanya Adit dengan tegas
"Oh maaf mas"
Rara pun langsung menuju ke arah meja makan, dia melayani semua keperluan Adit untuk sarapan dengan sangat telaten. Bagaimana pun juga dia sudah tau semua kebiasaan Adit sehari-hari, dan entah mengapa saat itu hati kecil Adit merasa puas dengan semua yang Rara lakukan
Selama mereka sarapan beberapa kali Rara mencuri pandang ke arah Adit, dia seperti ingin menyampaikan sesuatu tetapi tidak memiliki keberanian untuk membuka suara lebih dulu. Sedangkan Adit dengan mudahnya mengetahui tentang hal tersebut
"Sekarang mau apa lagi anak ini? aku kan baru aja kasih dia kartu, jangan-jangan sekarang dia mau minta barang berharga yang lainnya. Jangan harap kamu bisa mendapatkan semua keinginan kamu dari saya Ra," ucap Adit di dalam hatinya
__ADS_1
Entah apa yang sudah merasuki pikiran Adit pada saat itu yang pasti dia seperti melupakan sifat Rara yang dulu, dan kini semua yang di lakukan oleh Rara akan selalu menimbulkan perasaan curiga di dalam hati Adit
Sedangkan Rara benar-benar tidak ada niat untuk memanfaatkan Adit sama sekali, dia benar-benar hanya berusaha untuk menjalani peran dirinya dengan baik