
"Mas Dirga bisa bantu Rara kan mas?" tanya Rara dengan lirih
"Apa maksud kamu Ra? pernikahan itu hal yang sakral dan bukan untuk main-main," ucap Dirga dengan tegas
"Aku tau mas"
"Gimana kamu bisa membahas tentang perceraian di hari yang sama dengan hari pernikahan kamu Ra?"
Rara sepertinya sudah kehilangan kendali untuk menahan air matanya pada hari itu, karena untuk kesekian kalinya dia menjatuhkan air matanya di hari itu
"Ibu selalu bilang kalau yang namanya sebuah pernikahan itu untuk menyatukan dua orang yang berbeda menjadi satu mas, ibu juga bilang sebuah pernikahan harus berlandaskan kepercayaan dan saling menghargai mas." ucap Rara dengan suara yang terputus-putus tertahan oleh tangisan
"Itu kamu masih ingat semua pesan ibu, ibu juga selalu bilang kalau pernikahan itu hanya sekali seumur hidup kita Ra." jawab Dirga dengan tegas
"Aku ingat semua pesan ibu mas, karena itu juga aku mau minta cerai dari mas Adit. Apa yang harus aku pertahankan mas? kalau aku ga bisa merasakan itu semua di pernikahan ini"
Rara yang sedang hanyut di dalam perasaanya tidak menyadari bahwa saat itu dia mendudukkan tubuhnya di meja makan, di saat yang bersamaan ternyata Adit sudah berada di ambang pintu kamarnya. Adit bahkan mendengar dengan jelas semua percakapan mereka di bagian akhir
"Kurang ajar!! apa maksud dia? setelah dia buat hancur keluarga saya dia mau pergi tinggalin saya!! apa dia pikir saya laki-laki yang ga punya harga diri?" ucap Adit di dalam hatinya sambil mengeraskan rahangnya
"Kamu jangan suka menilai sesuatu dengan cepat Ra, mbak Adel sering cerita kalau mas Adit itu laki-laki yang baik dan mas Dirga rasa kamu juga pasti tau itu"
"Rara tau mas, Rara tau kalau mas Adit itu orang baik tapi Rara juga takut mas. Rara sekarang benar-benar takut kalau ada di dekat mas Adit," ucap Rara dan tangisan Rara pun pecah
"Kamu harus sabar ya Ra, mas Dirga rasa saat ini mas Adit cuma ga bisa kontrol emosi dia aja. Kamu kan juga tau apa aja yang harus mas Adit hadapi saat ini"
__ADS_1
Dirga terus berusaha untuk membujuk sang adik agar mencoba mempertahankan rumah tangganya, dia meminta Rara untuk mengingat semua perlakuan baik Adit selama ini kepada dirinya. Dan Rara pun tak bisa memungkiri bahwa sikap Adit selama ini memang selalu baik terhadap dirinya
Sosok Adit yang dulu adalah sosok laki-laki yang membuat Rara merasa kagum, di segudang kegiatan yang dia punya dia akan selalu menyempatkan waktu untuk bermain bersama sang buah hati walau pun hanya sejenak. Adit yang dulu jangan berkata-kata kasar dia bahkan tidak pernah terlihat marah sama sekali
Adit bahkan tidak pernah membuat Rara merasa tersisih di rumah mewah tersebut, dia akan selalu membawa Rara bersama keluarga kecilnya bila dia dan keluarganya sedang berpergian ke mana pun
Dirga terus menasehati sang adik dengan lembut untuk tidak menyerah dengan mudah, baik itu di dalam kehidupannya atau pun di dalam rumah tangganya
"Ya sudah kalau begitu ya Ra, tapi kamu harus ingat semua pesan dari mas Dirga ya"
"Ya mas"
"Coba bertahan dulu Ra, tapi kalau kamu memang sudah tidak sanggup kamu bisa cerita sama mas Dirga. Karena pintu rumah mas Dirga akan selalu terbuka untuk kamu Ra," ucap Dirga dengan yakin
"Terima kasih ya mas"
"Ya mas"
Baru saja Rara meletakkan ponselnya di atas meja makan Adit langsung menunjukkan batang hidungnya di hadapan Rara
"Astaga!! sejak kapan mas Adit ada di situ? apa mas Adit dengar semua yang aku omongin sama mas Dirga? apa sekarang dia mau marah-marah lagi?" ucap Rara di dalam hatinya
Adit melangkahkan kakinya dengan pasti ke arah dapur, tetapi Rara merasa Adit sedang menghampiri dirinya karena posisi dapur berada di belakang meja makan. Sudah pasti perasaan takut langsung menyelimuti hati Rara pada saat itu
"Tuh kan mas Adit ke arah sini, pasti dia mau marah-marah lagi." ucap Rara di dalam hatinya sambil menundukkan kepalanya
__ADS_1
Pada saat itu Rara tidak mempunyai keberanian sama sekali untuk menatap ke arah Adit, dia bahkan sampai menutup kedua bola matanya dengan sempurna karena ketakutan. Sedangkan Adit melewati Rara begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun dari bibirnya
"Syukur deh ternyata mas Adit cuma mau pergi ke dapur, bisa aja mas Adit ga dengar atau mungkin dia memang ga perduli kalau aku mau minta cerai. Makanya mas Adit diam aja,"ucap Rara di dalam hatinya dan mulai membuka kedua bola matanya
Adit di dapur mulai menuangkan air putih ke dalam gelas seperti niat awalnya keluar dari dalam kamar
"Sudah puas ceritanya ke mas kamu?" tanya Adit dengan suara sinis
"Berarti mas Adit dengar semua omongan aku ke mas Dirga, ya ampun Ra kenapa juga kamu sebodoh itu!! kenapa kamu angkat telepon mas Dirga di sini?" maki Rara di dalam hatinya
Perasaan takut semakin menyelimuti hati Rara saat Adit yang akan kembali ke dalam kamarnya tiba-tiba saja menghentikan langkah kakinya tepat di samping Rara
"Kamu adalah orang yang menyebabkan rumah tangga saya menjadi berantakan, jadi jangan pernah berharap mendapat kata cerai dari saya sebelum saya mendapatkan pengganti kamu." ucap Adit dengan tegas
Rara hanya bisa terdiam tanpa berani untuk mengeluarkan suara sama sekali dengan posisi menundukkan kepalanya
"Astaga!! sekarang apa lagi yang mas Adit lakukan sama aku? tadi dia sudah lempar piring, apa sekarang dia akan pukul aku?"
Tubuh Rara mulai bergetar karena perasaan takut yang sedang dia rasakan, saat itu Rara sudah membayangkan hal-hal mengerikan yang akan dia terima dari laki-laki yang telah menjadi suaminya tersebut
"Kenapa anak ini? jangan bilang kalau dia mau nangis? apa ga ada hal lain yang bisa dia lakukan selain menangis?" gerutu Adit di dalam hatinya
Adit menundukkan sedikit tubuhnya untuk melihat wajah Rara dan saat itu Rara terlihat memejamkan kedua bola matanya dengan ekspresi wajah ketakutan, tiba-tiba saja Adit mengingat perkataan Rara kepada Dirga kalau dia merasa ketakutan berada di dekat Adit
"Ternyata anak ini lagi ketakutan? kalau kamu cuma anak yang penakut, kenapa kamu punya nyali yang besar untuk naik ke atas tempat tidur aku?" ucap Adit di dalam hatinya sambil tersenyum sinis
__ADS_1
Adit pun membuang nafasnya dengan kasar dan melanjutkan langkah kakinya masuk ke dalam kamarnya, sedangkan Rara yang masih merasa lemas hanya bisa memarahi kebodohan yang baru saja dia lakukan
"Sumpah Ra ternyata kamu benar-benar bodoh!! ga perlu melakukan kesalahan apapun mas Adit bisa ngamuk sama kamu, kenapa kamu malah cari mati sendiri sih Ra?!!"