
Acara tersebut terus berlangsung baik Adel maupun Jonathan sama-sama mengetahui keberadaan Adit di tempat itu, tetapi yang lebih gila adalah mereka seolah tidak perduli untuk terus mengumbar kemesraan mereka di tempat itu. Adit pun menatap ke arah mereka dengan pemikirannya sendiri
"Kok bisa-bisanya aku dulu suka sama perempuan seperti itu, seandainya aja ga ada Ical di antara kita maka aku ga akan segan untuk menghancurkan kamu menjadi berkeping-keping Del." ucap Adit di dalam hatinya sambil tersenyum sinis
Jonathan yang menyadari bahwa Adit sedang menatap ke arah dirinya dengan wajah seperti itu berpikiran bahwa saat itu Adit merasa cemburu dengan kemesraan antara dirinya dan Adel
"Ups... Permainan kita belum selesai tuan!! karena saya belum merasa puas sebelum kamu pergi dari tempat ini karena merasa cemburu," ucap Joe di dalam hatinya sambil tersenyum
Jonathan pun merangkul pinggang Adel
"Kenapa sayang?"
"Aku cuma mau kasih tau kamu sebuah kabar baik?"
Adel pun menatap ke arah Jonathan dengan serius, sedangkan laki-laki tersebut mendekatkan bibirnya ke telinga Adel
"Aku sudah membicarakan tentang kamu sama kedua orang tua aku sayang"
"Terus bagaimana tanggapan mereka tentang aku sayang?"
"Orang tua aku mau secepatnya ketemu sama kamu sayang," ucap Joe dengan lembut
"Kamu serius sayang?" tanya Adel dengan mata yang berbinar-binar
Jonathan pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum hangat lalu meletakkan tangannya di ujung kepala Adel dengan lembut
"Itu salah satu bukti kalau aku benar-benar mau menjalin hubungan yang serius sama kamu sayang"
"Aku percaya sama kamu kok sayang"
__ADS_1
"Apa aku ga dapat hadiah apapun dari kamu sayang?"
Tanpa rasa malu sama sekali Adel mencium pipi Jonathan dan Jonathan sengaja menatap ke arah Adit dengan senyuman penuh kemenangan
"Bagaimana pembalasan dari saya? apa sudah bisa membuat kamu merasa puas tuan?" ucap Joe di dalam hatinya
Hati Adit bergejolak dengan sangat hebat pada saat itu, dia membayangkan hal yang sama di lakukan oleh Rara kepada laki-laki lain. Dia membayangkan Rara mencium pipi laki-laki tersebut seperti yang Adel lakukan pada saat itu
"Padahal aku berharap banyak sama kamu Ra tapi apa yang aku dapatkan? pasti kamu akan melakukan hal yang sama dengan kakak kamu ini," ucap Adit di dalam hatinya
Adit yang merasa suasana hatinya menjadi semakin memburuk langsung menatap ke arah Wulan dengan wajah serius
"Maaf ya mbak sepertinya aku harus meninggalkan mbak sendirian di tempat ini, aku melihat para wanita bangga dengan sikap murahan mereka"
"Kenapa Adit bilang para wanita? atau jangan-jangan sebenarnya yang menggangu pikiran Adit saat ini bukan Adel," ucap Wulan di dalam hatinya
"Kamu mau kemana Dit? atau mau mbak temani?"
Adit pun segera bangkit dari duduknya dan mencium pipi sang kakak lalu pergi meninggalkan acara tersebut, sedangkan Jonathan yang melihat hal tersebut menganggap dirinya telah menang melawan Adit dan tertawa puas di dalam hatinya
"Saya sudah mencari tau tentang kamu Aditya Putra Erlangga, jadi jangan berharap kamu bisa menang melawan saya. Kamu hanya anak kedua yang bahkan tidak mendapatkan dukungan apapun dari keluarga besar Erlangga," ucap Joe di dalam hatinya
Hati Adit sudah terasa tak karuan pada saat itu, dia merasa hidupnya telah dia permainkan secara bergantian dengan kakak beradik tersebut. Adit yang sedang merasa hidupnya berantakan melakukan kesalahan dengan melarikan diri ke sebuah bar
"Kalian berdua memang pantas untuk menjadi kakak adik karena sikap kalian berdua benar-benar sama, tapi kamu jauh lebih rusak dari kakak kamu Ra. Kamu dekat dengan laki-laki lain saat status kamu masih menjadi seorang istri," ucap Adit di dalam hatinya sambil mengeraskan rahangnya
Gelas demi gelas minuman yang beralkohol telah masuk ke dalam mulut Adit, entah sudah berapa banyak minuman yang Adit habiskan pada malam itu. Tidak butuh waktu yang lama Adit pun mulai berada di bawah pengaruh alkohol
"Kamu benar-benar keterlaluan Ra!! kamu membuat hidup aku menjadi berantakan lalu kamu datang membawa sedikit harapan, tapi tanpa perasaan kamu membuat aku berada di titik terendah aku!!"
__ADS_1
Adit yang sudah mabuk berat pun mulai keluar dari tempat itu dan mengendarai mobilnya dengan sangat cepat, pengaruh alkohol membuat dia mengingat semua yang telah dia lalui selama ini dengan sangat jelas. Adit mulai menepikan mobilnya dan memukul kemudi mobilnya dengan sangat kuat
"Kamu perempuan jahat Ra!!" teriak Adit
"Aku ga tau harus berbuat apa sama kamu Ra? saat ini aku benar-benar merasa bingung dan butuh sebuah bukti yang nyata Ra"
Dengan bersusah payah akhirnya Adit berhasil tiba di apartemennya, dia pun langsung merubuhkan tubuhnya di sofa yang berada di ruang tamu
"Perempuan sialan!!" teriak Adit sekuat tenaga
Teriakan Adit berhasil membuat Rara terbangun dari tidurnya
"Kak Adit kenapa teriak?"
"Kalian semua satu keluarga semuanya perempuan sialan!! kalian membuat membuat hidup aku mejadi berantakan!!"
Rara yang tidak tau apapun dan ingin menjelaskan kejadian di siang hari langsung bangkit dan keluar dari dalam kamarnya, Rara pun mendekat ke arah Adit tanpa ada pemikiran buruk sama sekali
"Kamu kenapa mas?" tanya Rara dengan wajah cemas
Adit pun langsung mendudukkan tubuhnya dan menatap tajam ke arah Rara
"Saya penasaran bagaimana cara orang tua kalian mendidik kamu dan kakak perempuan kamu itu? bagaimana dia bisa menciptakan dua anak perempuan yang murahan seperti kalian? atau jangan-jangan ibu kalian juga perempuan murahan," ucap Adit dengan sinis
Adit yang berada di bawah pengaruh alkohol tidak bisa mengendalikan mulutnya sama sekali, yang pasti saat itu hatinya terbakar oleh api amarah karena merasa hidupnya telah di permainkan oleh kedua kakak beradik itu
Adit merasa yang satu tidak mau mempertahankan hubungan mereka dan dengan mudah berpaling ke laki-laki lain, sedangkan yang satu lagi sampai menjebak dirinya tetapi setelah mendapatkan dirinya tetap dekat dengan laki-laki lain
Sebagai seorang anak hati Rara tidak bisa terima begitu saja saat dia mendengar ibunya di rendahkan seperti itu, tetapi Rara hanyalah seorang gadis polos yang tidak tidak tau bahaya yang sedang dia hadapi dengan dia menjawab pertanyaan orang yang sedang mabuk berat
__ADS_1
"Mas Adit boleh hina aku sampai mas Adit merasa puas, tapi tolong jangan menghina orang tua aku mas." ucap Rara dengan tegas
Adit yang di bawah pengaruh alkohol tidak bisa berpikir dengan jernih dan semakin larut dengan pemikirannya sendiri, sedangkan Rara sudah terbakar amarah mendengar ibunya di rendahkan. Mereka berdua saling menatap dengan penuh amarah tanpa ada niat untuk saling menjelaskan, membiarkan suasana di antara mereka semakin panas