
Melihat semua pemandangan yang ada di hadapannya tersebut membuat Adit hanya bisa tersenyum getir
"Kamu benar-benar perempuan hebat Del, kamu menghukum aku untuk perbuatan yang tidak aku lakukan sama sekali. Tapi dalam sekejap kamu bahkan ga malu mengakui kalau kamu sudah bermain gila, dan yang lebih gila lagi kamu membawa laki-laki itu masuk ke dalam rumah yang aku siapkan untuk keluarga kecil kita." ucap Adit di dalam hati
Adit yang tidak ingin terpancing lebih jauh memilih untuk segera melajukan mobilnya dan meninggalkan tempat itu, tetapi sudah pasti semua kejadian tersebut tidak bisa dia lupakan begitu saja. Adit pun langsung menepikan mobilnya di tepi jalan
"Dasar perempuan kurang ajar!! cepat sekali kamu berpaling Adel..!!" teriak Adit sambil memukul-mukul kemudi mobilnya
Pada saat itu Adit seolah sedang menumpahkan segala amarah yang bersarang di dalam hatinya, dia pun mulai menjatuhkan wajahnya di atas kemudi mobilnya
"Aku benar-benar bodoh!! aku bahkan sempat berpikir untuk rujuk sama kamu dan memperbaiki rumah tangga kita Del," ucap Adit dengan lirih
Cukup lama juga Adit memilih untuk tetap berada di sana untuk menenangkan hatinya, setelah merasa cukup tenang dia pun memutuskan untuk kembali ke kantor. Sudah pasti dia tidak bisa menutupi apa yang sedang dia rasakan di hadapan sang asisten pribadinya yang juga sahabatnya
"Apa ada masalah?" tanya Harun dengan wajah serius
Adit pun membuang nafasnya dengan kasar
"Gw baru dari rumah lama kami, dan lu tau apa yang baru aja gw lihat di sana?"
"Apa?"
"Gw lihat Adel baru pulang di antar sama laki-laki lain dan ternyata semalam dia ga pulang sama sekali," ucap Adit lirih
Harun pun menggelengkan kepalanya
"Apa lu sampai berbuat onar di sana?" tanya Harun dengan serius
Mendengar pertanyaan Harun membuat Adit langsung menatap ke arah Harun dengan tajam
"Memang apa salahnya? gw cuma minta penjelasan dari Adel tentang laki-laki itu," jawab Adit dengan tegas
"Apapun yang ada di dalam pikiran lu saat ini tetap aja posisi lu salah Dit"
"Kenapa?" tanya Adit sambil mengerutkan keningnya
__ADS_1
"Karena kalian sudah bercerai dan dia punya hak untuk menjalin hubungan dengan laki-laki manapun yang dia mau," jelas Harun dengan tegas
Adit pun semakin tajam menatap Harun
"Lu sebenarnya teman gw apa teman dia sih? kenapa lu malah belain dia?" tanya Adit penuh penekanan
"Gw teman lu Dit tapi gw juga asisten pribadi lu, jadi gw punya kewajiban untuk menjaga lu dengan baik. Gw ga bisa membiarkan lu melakukan sesuatu yang bodoh," jawab Harun dengan tegas
Adit pun hanya bisa terdiam dengan wajah malas karena dia tau dengan pasti bahwa dia tidak pernah bisa menang saat beradu argument dengan sang sahabat
"Gw tadi sempat bikin onar sedikit di sana, tapi apa lu tau yang gw dapat dari Adel di sana?"
"Apa?"
"Dia ga ragu sama sekali untuk bilang kalau mereka memang ada hubungan," ucap Adit lirih
Harun hanya bisa terdiam tetapi jauh di dalam lubuk hatinya dia bisa merasakan apa yang sedang Adit rasakan pada saat itu
"Dan yang lebih parah lagi Adel sampai tampar gw demi laki-laki itu," lanjut Adit
Harun pun membuang nafasnya dengan kasar lalu mulai menatap Adit dengan wajah serius
"Maksud lu apa?"
"Kalau dia bisa untuk membuka lembaran baru, kenapa lu ga?" jawab Harun dengan serius
"Ngomong apa sih lu? apa lu pikir cari pasangan hidup itu gampang?"
Harun pun memberikan sebuah senyuman yang penuh arti dan dengan mudah Adit langsung memahami jalan pikiran sang sahabat
"Jangan gila lu!! ga mungkin lah gw melakukan itu sama Rara!!" ucap Adit dengan tegas
"Ga ada salahnya lu coba Dit, lagi pula lu ga akan merasa rugi karena anak itu itu masih muda dan cantik. Toh juga kalian sudah menikah, jadi gw rasa ga ada salahnya lu coba untuk buka lembaran baru sama dia"
Adit pun tersenyum sinis mendengar nasihat yang di berikan oleh sang sahabat
__ADS_1
"Sakit lu ya? apa ga bisa lu kasih gw saran yang masih bisa di terima akal sehat? masa lu suruh gw buka lembaran baru sama perempuan yang menyebabkan rumah tangga gw berantakan"
"Gimana kalau ternyata semua informasi yang kita dapat salah?"
"Kalau memang begitu yang ada aku akan merasa bersalah sama Rara, apalagi kata-kata yang aku ucapkan sama Rara selama ini sedikit berlebihan." ucap Adit di dalam hatinya
"Tapi kan buktinya udah jelas"
"Sepertinya yang tadi gw bilang itu aja yang belum bisa gw buktiin, tapi gw ngerasa kalau anak itu ga terlibat apapun di kejadian malam itu Dit." ucap Harun dengan yakin
"Untuk sementara gw ga mau mikirin masalah itu dulu"
Harun pun memilih untuk tidak membahas lebih jauh lagi karena tidak ingin menambah bahan pikiran yang Adit rasakan pada saat itu, di tempat yang berbeda Adel sedang mengobati luka yang ada di wajah Jonathan karena ulah Adit
"Aw... Pelan sedikit dong sayang," ucap Jonathan sambil meringis
"Sakit ya pak? maaf ya pak, karena saya bapak jadi seperti ini." jawab Adel dengan wajah merasa bersalah
Jonathan pun tersenyum hangat lalu meletakkan tangannya di ujung kepala Adel dengan sangat lembut
"Kamu ngomong apa sih sayang? memang sakit sih, tapi pasti lebih sakit lagi kalau saya cuma diam aja saat laki-laki tadi berhasil menyakiti kamu lebih jauh lagi." ucap Joe dengan lembut
Pada saat itu detak jantung Adel berdetak lebih cepat dari yang biasanya, semua kelembutan yang Jonathan lakukan membuat Adel menjadi berdebar-debar
"Tolong jangan selalu memanggil saya dengan sebutan sayang pak, lama-lama rasanya terdengar sedikit aneh"
"Kok kamu bilang begitu sih sayang?" tanya Joe dengan ekspresi wajah sedikit bersedih
"Rasanya kurang pantas saja pak, bagaimana pun juga kita cuma menghabiskan malam bersama tanpa ada hubungan yang jelas." jawab Adel dengan serius
Adel yang sudah benar-benar terpikat oleh Jonathan ingin menjadikan itu untuk memperjelas status mereka berdua
"Maksud kamu apa sih sayang? kenapa kamu masih bilang kita ga ada hubungan apa-apa? bukannya tadi kamu mengakui kalau kita ada hubungan di depan mantan suami kamu"
"Tapi ga ada komitmen apa-apa di antara kita berdua pak," jawab Adel dengan tegas
__ADS_1
"Jadi kamu mau sebuah hubungan yang jelas ya kucing liar aku? kalau kamu memang mau itu maka aku akan mengabulkan keinginan kamu itu, karena aku juga harus mendapatkan bayaran yang sesuai untuk pukulan yang sudah aku terima." ucap Joe di dalam hatinya sambil tersenyum tipis
Dengan sangat mudah Jonathan Sam pemain bisa mengetahui apa yang ada di dalam pikiran Adel pada saat itu