
Hari-hari berikutnya Rara tidak lagi berkeliling kota tanpa arah dan tujuan yang jelas untuk menghabiskan waktu, dia akan selalu datang ke rumah Airin bila ada jadwal untuk pergi ke kampus. Dan kehadiran Rara di rumah itu di sambut dengan sangat baik, karena seluruh keluarga Airin sudah sering mendengar Airin bercerita tentang Rara
Airin benar-benar tidak pernah memaksa Rara untuk bercerita tentang masalah yang menghampiri dirinya dan hal tersebut adalah sesuatu yang sangat berarti bagi Rara, karena dengan sikap Airin yang seperti itu Rara tidak perlu membuka semua yang telah dia lalui selama ini di hadapan orang lain
Airin adalah anak perempuan satu-satunya di keluarga kecil mereka, dia mempunyai dua orang kakak laki-laki yang sangat menyayangi dirinya dan gadis tersebut berasal dari keluarga pengusaha yang berkecukupan
Tetapi sayangnya Airin tidak pernah bisa menahan mulutnya untuk memakan makanan yang dia anggap enak, hal tersebut membuat gadis tersebut memiliki tubuh yang sedikit gempal
Dengan kondisi fisik yang seperti itu dan latar belakang keluarga yang berkecukupan, membuat Airin sulit untuk mencari seorang teman yang benar-benar tulus terhadap dirinya
Sebagian besar orang yang mendekati dirinya hanya karena mengharapkan sesuatu terhadap dirinya, itu juga yang membuat dia sangat perduli dengan Rara karena dia menganggap Rara benar-benar tulus terhadap dirinya. Dan kini Rara benar-benar merasa bersyukur bisa mengenal seorang Airin
Akhir pekan pun tiba dari pagi Adit sudah pergi meninggalkan apartemen tersebut untuk menjemput sang buah hati, Adit membawa Haikal ke sebuah taman bermain yang cukup ternama di kota itu. Satu persatu wahana mainan yang berada di sana mereka coba untuk memainkannya
Hati Adit benar-benar merasa lega saat melihat sang buah hati bisa tertawa dengan lepas karena merasa bahagia, dia benar-benar tidak ingin sang buah hati merasakan kehilangan sosok ayah di dalam hidupnya. Dengan setia Adit terus mengikuti semua keinginan sang buah hati
"Sudah puas mainnya?" tanya Adit lalu tersenyum hangat
Haikal pun tersenyum puas sambil menganggukkan kepalanya
"Kalau begitu saatnya kita makan, kamu makan di mana sayang?" tanya Adit dengan lembut
Haikal pun menyebutkan nama sebuah tempat yang menyajikan semua makanan favoritnya
"Oke, kita ke sana sekarang juga." ucap Adit bersemangat
Haikal pun terlihat ikut bersemangat
__ADS_1
Tanpa menunda waktu lagi Adit langsung membawa sang buah hati ke tempat yang dia inginkan, dia pun memesan semua makanan yang di sukai oleh sang buah hati
"Kok banyak banget sih papa pesan makanan nya?" tanya Haikal dengan polosnya
"Ya kan papa lagi menebus kesalahan papa sama kamu, jadi papa pesan semua makanan yang kamu suka"
Haikal pun tersenyum bahagia mendengar penjelasan dari Adit, tak lama kemudian semua makanan yang di pesan oleh Adit pun tiba dan mereka memulai ritual makan mereka
"Habis ini kita nginap di hotel ya sayang," ucap Adit di sela makan mereka
Haikal pun langsung menatap ke arah Adit dengan wajah bingung
"Kok ke hotel sih pah? kenapa kita ga pulang ke rumah aja?" tanya Haikal dengan polosnya
"Kan papa mau menghabiskan waktu berdua sama kamu aja sayang, ini sebagai ungkapan permintaan maaf papa untuk kamu. Karena sekarang ini papa lagi sibuk terus, dan untuk sementara papa belum bisa pulang ke rumah sayang." jelas Adit lalu tersenyum hangat
Adit berusaha untuk tidak membuat sang buah hati curiga, sedangkan Haikal yang masih terlalu polos mempercayai semua ucapan Adit begitu saja
Adit langsung mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan sebuah pesan singkat kepada Rara tentang rencana dirinya bersama Haikal tanpa sepengetahuan sang buah hati, dia hanya ingin Rara mengetahui bahwa di hari itu dia bisa bebas melakukan apapun di apartemen tersebut
Sedangkan di luar sana Jonathan semakin gencar melancarkan rayuan- rayuan mautnya kepada Adel, hampir di setiap kesempatan dia akan selalu memberikan sebuah kejutan kecil bagi Adel. Itu menjadi masa-masa terindah bagi Adel di sepanjang hidupnya selama ini
Malam itu Adit dan sang buah hati mengabiskan malam mereka dengan berbaring di atas tempat dan saling banyak bercerita tentang keseharian mereka selama mereka mulai hidup terpisah
"Tapi sekolah kamu lancar kan sayang?" tanya Adit dengan lembut
"Pasti dong pah, aku kan anak pintar." jawab Haikal dengan bangga
__ADS_1
Adit pun tersenyum tipis melihat sikap sang buah hati
"Tapi belakangan ini aku sedih pah," ucap Haikal lirih
"Kenapa sayang?" tanya Adit dengan serius
"Soalnya papa sama tante Rara udah ga ada di rumah, mama juga belakangan ini sering sibuk kerja." jawab Haikal dengan polosnya
"Apa mama sering keluar lagi setelah pulang sayang?"
Haikal pun menganggukkan kepalanya sambil memasang wajah kecewa
"Pasti kamu lagi menikmati masa gila kamu Adel!!" ucap Adit di dalam hatinya
Adit pun mengajak sang buah hati bercanda hingga suasana hati anak tersebut menjadi baik kembali, dia pun terus menemani sang buah hati sampai sang buah hati mulai terlelap ke alam mimpi. Adit pun menatap lekat wajah Haikal dengan perasaan bersalah
"Maafin papa ya sayang karena papa ga berhasil untuk membujuk mama kamu, tapi papa janji papa akan selalu ada untuk kamu. Dan kamu benar-benar sudah keterlaluan Adel!! sikap kamu yang seperti itu membuat aku semakin yakin untuk melepaskan kamu," ucap Adit di dalam hatinya
Pikiran Adit sudah melayang bebas memikirkan semua yang harus di lalui di kemudian hari, di satu sisi dia harus memikirkan sang buah hati di sisi lain dia juga harus memikirkan Rara yang berhubungan dengan laki-laki lain sedangkan Rara masih berstatus sebagai istrinya. Semua itu membuat Adit terlelap ke alam mimpi tanpa dia sadari
Saat pagi tiba Adit mengajak sang buah hati untuk sarapan terlebih dahulu sebelum dia mengantarkan sang buah hati ke kediaman lama mereka
"Papa ga mau mampir?" tanya Haikal dengan polosnya
"Maaf ya sayang, papa masih banyak kerjaan." jawab Adit dengan lembut
Haikal pun langsung mencium pipi Adit dengan lembut lalu mencium punggung tangan Adit dan Adit pun mencium ujung kepala sang buah hati dengan lembut
__ADS_1
"Ical turun dulu ya pah"
Adit pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum hangat, dan semua terus berjalan dengan lingkaran yang seperti itu di setiap harinya. Baik Adit maupun Rara hanya mencoba untuk menjalankan peran mereka dengan baik tanpa berusaha untuk saling mengganggu atau berkomunikasi