
Kehadiran Rara di kampus setelah menghilang cukup lama di sambut hangat oleh Airin dan mereka pun mendudukkan tubuh mereka di taman kampus
"Kamu sebenarnya kemana sih Ra? aku coba telepon kamu tapi ga pernah bisa," ucap Airin sambil mengerucutkan bibirnya
Rara pun tersenyum canggung
"Maaf ya Rin, kemarin aku lagi ada masalah keluarga dan lagi butuh waktu sendiri"
"Masalah keluarga ya? keluarga kecil kamu sendiri maksudnya ya?" tanya Airin sambil tersenyum menggoda
"Kenapa Airin bisa bilang keluarga kecil aku sendiri? atau jangan-jangan mas Willy sudah cerita sama anak ini," batin Rara sambil tersenyum canggung
"Masih ga mau ngaku? katanya aku teman kamu tapi masalah sebesar itu kamu ga cerita sama aku!! untung aja mas Willy kasih tau ke aku"
"Maaf ya Rin, aku bukan niat mau tutupi itu dari kamu tapi aku sendiri bingung harus mulai ceritanya dari mana." jawab Rara dengan wajah bersalah
Airin pun tertawa geli sedangkan Rara hanya terdiam dengan wajah yang mulai merona
"Tapi Ra boleh aku tanya sesuatu?" tanya Airin dengan wajah serius
"Kamu mau tanya apa Rin?"
Airin pun melambaikan tangannya tanda meminta Rara untuk mendekat, tanpa tau pemikiran Airin pada saat itu Rara pun mendekatkan telinganya ke arah Airin
"Jadi bagaimana rasanya malam pertama?" tanya Airin berbisik
Rara langsung membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna mendengar pertanyaan sahabatnya tersebut
"Astaga!! aku ga sangka ternyata otak kamu mesum Rin!!"
Airin tertawa geli melihat ekspresi wajah Rara pada saat itu
"Pasti sakit ya Ra? kata orang-orang sih kalau untuk yang pertama itu sakit, kamu sudah melakukan itu kan sama suami kamu?" tanya Airin lalu tersenyum menggoda
Tiba-tiba saja Rara menampilkan wajah bingung dan membuat Airin langsung memasang wajah serius
"Kamu kenapa Ra? jangan bilang kalau kalian belum melakukan hubungan suami istri"
Rara pun menundukkan pandangan matanya
__ADS_1
"Kami memang belum pernah melakukan itu Rin"
"Apa maksud kamu Ra?" tanya Airin dengan tegas sambil menatap tajam
Rara pun menatap kembali ke arah Airin sambil memaksakan bibirnya untuk tersenyum
"Jadi selama kalian menikah kalian belum pernah melakukan itu?"
Rara menjawab dengan menggelengkan kepalanya
"Apa kamu ga merasa kalau itu sesuatu yang sedikit aneh Ra?"
Rara pun membuang nafasnya dengan kasar lalu dia mulai menceritakan semua yang telah terjadi di dalam hidupnya, sedangkan Airin tak henti-hentinya di buat terkejut dengan semua cerita hidup Rara
"Aku rasa cerita hidup kamu bisa di jadikan cerita untuk sinetron Ra," ucap Airin sambil tersenyum meledek
Rara pun hanya bisa terdiam dan memasang wajah malas
"Setelah kamu pulang apa hubungan kalian sudah lebih baik dari sebelumnya?"
Rara pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis dan entah mengapa Airin bisa melihat kebahagiaan dari senyuman Rara pada saat itu
"Apa sekarang kalian masih tidur di kamar masing-masing?"
Airin pun menatap Rara dengan lekat
"Kalian sudah tidur di kamar yang sama?"
Rara menganggukkan kepalanya tanpa rasa ragu sama sekali sambil tersenyum bahagia membayangkan pelukan hangat yang selalu dia dapatkan di malam hari
"Kalau kalian sudah tidur di kamar yang sama itu akan menjadi lebih aneh lagi Ra," ucap Airin dengan tegas
Rara pun memasang wajah bingung pada saat itu karena dia belum mengerti arah ucapan sang sahabat
"Maksud kamu gimana ya Rin?"
"Kamu bilang hubungan kalian sudah membaik, apalagi saat ini kalian juga sudah mulai tidur di kamar yang sama. Kenapa kalian masih belum melakukan hubungan yang seharusnya di lakukan oleh pasangan suami istri?"
Entah mengapa ucapan Airin pada saat itu membuat hati Rara menjadi sedikit tergganggu, ada sebuah pertanyaan besar yang hadir di dalam hati Rara saat itu. Rara pun berusaha untuk menutupi itu semua dan memaksa bibirnya untuk tersenyum
__ADS_1
"Mungkin aja karena waktu pertama kami tidur di kamar yang sama aku kelihatan takut sama mas Adit"
Ekspresi wajah Airin saat itu menunjukkan dengan jelas bahwa dia tidak bisa menerima penjelasan yang Rara berikan
"Wajar aja kalau di awal kamu takut sama dia, kalau kejadian itu terjadi di aku belum tentu aku mau memaafkan laki-laki itu seumur hidup aku." ucap Airin dengan sinis
Rara pun tersenyum dengan tulus
"Tapi kami terikat pernikahan yang suci Rin, bukan hanya sekedar berpacaran yang bisa mengakhiri semuanya begitu aja"
"Ya... Aku tau kamu pasti bela suami kamu itu, apa sekarang masih belum ada kemajuan sama sekali?"
"Kok kita jadi bahas tentang itu terus sih Rin?" tanya Rara dengan wajah memelas
"Karena aku anggap kamu sebagai sahabat aku Ra, apa kamu lebih senang kalau aku diam aja walaupun aku merasa itu semua aneh?" tanya Airin dengan tegas
"Ya ga begitu Rin"
"Ya udah sekarang jawab sudah sejauh apa hubungan antara kalian berdua?"
"Sekarang mas Adit selalu peluk dan cium kening aku sebelum kami tidur," jawab Rara lirih
Airin pun membuang nafasnya dengan kasar lalu menatap ke arah Rara dengan serius
"Apa kamu yakin suami kamu benar-benar cinta sama kamu Ra?"
"Pertanyaan kamu jahat banget sih Rin"
"Ya karena aneh aja Ra, coba kamu bayangin ada laki-laki dan perempuan dewasa di dalam satu kamar. Bahkan sudah terikat di dalam hubungan yang resmi, tapi tidak melakukan hubungan yang seharusnya mereka lakukan. Apa menurut kamu itu ga aneh Ra?"
"Yang Airin bilang memang benar dan aku sendiri mulai merasa itu semua aneh, setiap malam mas Adit cuma akan peluk aku dan cium kening aku tapi ga pernah melakukan sesuatu yang lebih. Sebagai perempuan aku ga mungkin memulai duluan atau sebenarnya mas Adit benar-benar ga akan pernah melakukan hal itu sama aku," batin Rara
Jauh di dalam lubuk hati Rara terasa sedikit perasaan kecewa dan sakit secara bersamaan, Airin yang menyadari hal tersebut langsung menggenggam tangan Rara dengan erat
"Kamu baik-baik aja Ra? ga usah terlalu di pikirin Ra, mungkin aja kita yang salah dan ternyata suami kamu memang laki-laki yang baik." ucap Airin dengan lembut
Rara tetap terdiam dengan wajah bersedih
"Kalau memang suami kamu ga ada pergerakan sama sekali, kenapa ga kamu aja yang coba untuk memulainya Ra? ga ada salahnya juga kalau kamu mau memastikan tentang suami kamu sendiri Ra"
__ADS_1
Ucapan Airin pada saat itu hanya berniat untuk menenangkan hati Rara, tetapi Rara benar-benar menganggap serius ucapan sahabatnya tersebut
"Kami sudah memiliki status yang sah di mata agama ataupun hukum, mas Adit juga sudah bilang kalau dia mau menjadikan aku istri yang sesungguhnya. Ga ada salahnya juga aku yang maju duluan untuk memastikan hati mas Adit untuk aku, tapi aku juga harus siap untuk kemungkinan terburuk yang akan terjadi," batin Rara