Menjadi Istri Kakak Ipar Ku

Menjadi Istri Kakak Ipar Ku
Kepolosan Rara


__ADS_3

Rara pun melihat ke arah jam dinding dan membuat dia semakin merasa bingung


"Gimana ini? udah jam segini tapi mas Adit belum bangun juga, kasihan juga kalau sampai mas Adit terlambat datang ke kantor padahal hari ini ada rapat. Sebaiknya aku masuk aja ke kamar mas Adit untuk bangunin mas Adit, gimana juga mas Adit bangun kesiangan karena jagain aku semalaman." gumam Rara


Dengan berat hati Rara pun segera masuk ke dalam kamar Adit


"Mas Adit pulas banget tidurnya aku jadi ga tega mau bangunin mas Adit, tapi kalau ga cepat di bangunin bisa-bisa mas Adit ketinggalan untuk ikut rapat." ucap Rara di dalam hatinya


Rara pun mulai mendekat ke arah Adit yang masih terlelap dan mulai menggoyangkan lengan Adit


"Mas bangun mas, katanya kamu ada rapat pagi ini. Nanti kamu terlambat mas," ucap Rara sambil terus menggoyangkan lengan Adit


Adit pun mulai kembali ke alam nyata tetapi saat itu dia belum mendapatkan semua kesadaran yang dia miliki, tanpa sadar dia menarik tangan Rara hingga Rara terjatuh di atas tempat tidurnya. Ulah Adit tidak berhenti sampai di situ karena tiba-tiba saja Adit memeluk tubuh Rara dengan sangat erat


"Aku masih ngantuk banget sayang, lima menit lagi ya." ucap Adit dengan mata yang masih tertutup dengan sempurna


Rara pun merasa terkejut dengan semua ulah Adit pada saat itu dan secara spontan dia langsung berteriak sekuat tenaga


"Kamu ngapain sih mas peluk-peluk aku?!!"


Adit yang mendengar suara teriakan Rara pun langsung membuka kedua bola matanya dengan sempurna, dengan cepat dia langsung melepaskan pelukannya dan mendudukkan tubuhnya dengan sempurna


"Kamu kenapa ada di dalam kamar mas Adit?"


Rara pun langsung berdiri tepat di hadapan Adit sambil menatap tajam


"Aku cuma berniat untuk bangunin kamu mas," ucap Rara dengan tegas


Pada saat itu nyawa Adit belum terkumpul sepenuhnya dia hanya terdiam sambil menatap ke arah Rara, sedangkan Rara yang melihat Adit menatap ke arah dirinya mempunyai pikirannya sendiri. Rara mengira bahwa saat itu Adit tidak mempercayai penjelasan yang dia berikan

__ADS_1


"Aku masuk ke kamar kamu karena mau bangunin kamu mas dan ga lebih, jangan berpikir kalau aku sedang berusaha naik ke atas tempat tidur kamu." lanjut Rara penuh penekanan


"Mas Adit ga bilang begitu Ra, mas cuma tanya kenapa kamu ada di dalam kamar mas Adit? cuma itu kok," jelas Adit dengan wajah bingung


"Aku cuma bangunin kamu karena kamu bilang semalam kalau pagi ini kamu ada rapat, sedangkan sekarang sudah jam tujuh lewat." ucap Rara dengan tegas


Adit pun langsung melihat ke arah jam dinding yang berada di dalam kamarnya


"Ya ampun aku bangun kesiangan"


Rara hanya memasang wajah malas lalu meninggalkan kamar Adit begitu saja, Adit pun hanya bisa terdiam dengan wajah bingung


"Kenapa sama anak itu? kenapa sekarang dia jadi galak begitu sih?" tanya Adit di dalam hatinya


Adit pun segera bangkit dan bergegas untuk membersihkan diri, setelah rapi seperti biasa dia akan selalu meminum teh hangat dengan sepotong irisan lemon yang telah tersedia. Rara pun bersiap untuk menyiapkan sarapan bagi sang suami


"Iya mas"


Tetapi entah mengapa Adit bisa mengetahui perasaan kecewa yang sedang Rara rasakan pada saat itu


"Astaga!! sepertinya aku harus punya hati cadangan karena aku butuh banyak kesabaran kalau mau punya istri anak kecil," ucap Adit di dalam hatinya


Rara pun mulai menyiapkan tas kerja Adit dan langsung melangkahkan kakinya ke arah pintu untuk melepaskan sang suami pergi bekerja, tetapi yang Adit lakukan pada saat itu adalah melangkahkan kakinya ke arah meja makan lalu mendudukkan tubuhnya di sana


"Kamu ngapain mas?" tanya Rara dengan wajah bingung


"Mau sarapan dulu Ra soalnya perut mas Adit lapar banget," jawab Adit lalu tersenyum


Rara pun langsung tersenyum bahagia karena perbuatan sepele yang Adit lakukan pada saat itu, dengan cepat Rara langsung menyiapkan sarapan untuk suaminya. Dan Adit pun akhirnya menyadari sesuatu

__ADS_1


"Ternyata cukup mudah untuk membuat kamu tersenyum ya Ra, sekarang aku benar-benar sadar kalau perempuan seperti kamu tidak membutuhkan kemewahan yang berlimpah. Kamu cuma butuh perhatian dan kasih sayang," ucap Adit di dalam hatinya sambil tersenyum


Adit pun langsung mengeluarkan ponselnya dari dalam sakunya, dia mengirimkan sebuah pesan singkat kepada Harun untuk menunda jadwal rapat pagi mereka tanpa sepengetahuan Rara. Adit memutuskan untuk datang sedikit terlambat dan menunda jadwal rapat mereka, dari pada dia harus melihat kekecewaan di mata Rara


"Gimana keadaan kamu sekarang Ra? apa sudah merasa lebih baik?" tanya Adit di sela makan mereka


"Ya mas, terima kasih ya mas kemarin kamu sudah jagain aku seharian. Maaf ya mas, aku kalau lagi sakit suka agak manja." jawab Rara malu-malu


"Memang apa salahnya kalau kamu manja sama mas Adit Ra? mas Adit kan suami kamu Ra, yang salah itu kalau kamu bersikap manja sama laki-laki lain di luar sana." ucap Adit dengan lembut


Rara pun langsung menundukkan kepalanya untuk mengendalikan debaran yang sedang dia rasakan


"Kenapa mas Adit selalu bersikap curang seperti ini? ini namanya ga adil mas!! kamu selalu mengucapkan kata-kata yang membuat hati aku berdebar, tapi kamu kelihatan biasa aja!!" gerutu Rara di dalam hatinya


Sedangkan Adit hanya tersenyum tipis melihat Rara yang sedang merona


"Mas Adit hanya berharap semoga ga ada laki-laki lain yang hadir di tengah hubungan kita Ra, karena mas Adit benar-benar tidak suka dengan sebuah pengkhianatan." ucap Adit di dalam hatinya


"Tapi kenapa kemarin kamu bisa demam tinggi begitu Ra? sepertinya waktu mas Adit mau berangkat kerja kemarin keadaan kamu masih baik-baik aja"


Rara pun mulai menatap ke arah Adit


"Mungkin karena kemarin aku kehujanan mas, aku terpaksa pakai baju basah selama di dalam kelas. Aku cuma pakai jaket Airin karena kedinginan mas," jelas Rara dengan polosnya


"Memang kamu pergi ke kampus naik apa kok baju kamu bisa sampai basah karena kehujanan?" tanya Adit sambil menatap ke arah Rara dengan serius


"Waktu berangkat aku naik taksi mas cuma masih setengah jalan aku kejebak macet, jadi aku turun aja cari ojek terus tiba-tiba hujan. Karena aku pikir udah tanggung jadi aku terusin aja naik ojek sampai kampus mas," jelas Rara dengan polosnya


"Mas Adit ga tau harus bersikap seperti apa dengan semua kepolosan kamu ini Ra, tolong Ra jangan siksa mas Adit lebih jauh lagi. Kalau kamu terus-menerus bersikap imut seperti ini rasanya mas Adit ga akan sanggup menunggu kamu sampai lulus kuliah Ra," ucap Adit di dalam hatinya sambil tersenyum

__ADS_1


__ADS_2