
Adit pun langsung meletakkan tangannya di ujung kepala Rara dengan sangat lembut di dampingi dengan senyuman yang hangat
"Mulai sekarang kamu ga boleh melakukan itu lagi ya Ra, lebih baik kamu telat datang ke kampus dari pada kamu harus pergi ke kampus hujan-hujanan. Mas Adit ga mau lihat kamu sakit lagi seperti semalam Ra," ucap Adit dengan lembut
"Ya mas"
Pagi itu bisa terlewati dengan sangat baik tanpa ada sebuah masalah yang sangat berarti di antara mereka berdua, hanya ada sebuah perasaan yang sedang tumbuh dengan bebas di dalam hati mereka berdua. Selesai sarapan Adit pun langsung bangkit dari duduknya
"Mas Adit ke kantor dulu ya Ra"
"Ya mas"
Dengan cepat Rara menyiapkan tas kerja Adit dan mengikuti Adit hingga ke pintu apartemen tersebut, Adit pun memberikan tangan kanannya terhadap Rara seperti yang selalu mereka lakukan selama ini
"Rasanya mas Adit pengen cium kening kamu Ra, tapi untuk saat ini mas Adit belum bisa melakukan itu. Karena mas Adit masih harus menahan semua perasaan yang mas punya ke kamu, mas Adit akan menunggu kamu sampai benar-benar siap Ra," ucap Adit di dalam hatinya sambil tersenyum
Pada hari itu Rara tidak ada jadwal kelas sehingga dia tidak perlu untuk pergi ke kampus, dia pun memilih untuk menghabiskan waktunya di apartemen tersebut dengan belajar setelah dia merapikan tempat itu
"Sekarang sepertinya aku banyak waktu luang semenjak aku ga perlu masak lagi, aku jadi punya banyak waktu untuk belajar. Ternyata mas Adit baik juga ya, dia sampai memikirkan hal sejauh ini." ucap Rara sambil tersenyum
Rara pun kembali fokus di hadapan laptopnya dan tiba-tiba saja ponselnya mulai berdering, sebuah panggilan telepon dari nomor yang dia tidak kenal masuk ke dalam ponselnya
"Nomor siapa ya?" tanya Rara di dalam hatinya
Rara yang merasa enggan menjawab panggilan telepon dari seseorang yang tidak dia kenal pun memilih untuk mengabaikan panggilan telepon tersebut, tidak lama kemudian sebuah pesan singkat masuk ke dalam ponsel Rara
"Ra ini masa Willy, angkat telepon mas Willy ya. Ada yang mau mas omongan sama kamu sebentar," isi pesan Willy
Tak lama kemudian ponsel Rara kembali berdering dari nomor yang sama dan sudah pasti Rara pun menjawab panggilan telepon tersebut
"Halo"
"Halo ini Rara ya?" tanya orang di seberang sana
"Ya mas ini Rara"
__ADS_1
"Maaf ya Ra, mas Willy minta nomor kamu dari Airin"
"Oh ya mas ga masalah, ada apa ya mas Willy telepon aku?"
Willy cengengesan di seberang sana karena merasa sedikit malu
"Sebenarnya mas Willy telepon kamu karena mas Willy mau minta bantuan dari kamu Ra"
"Bantuan dari aku mas?" tanya Rara sambil mengerutkan keningnya
"Ya Ra,mas Willy butuh bantuan dari kamu." ucap Willy dengan serius
"Apa yang bisa aku bantu mas?"
"Mas Willy mau minta tolong sama kamu bantu mas Willy untuk pilih kado yang bagus untuk perempuan Ra, soalnya sebentar lagi dia ulang tahun jadi mas Willy harus siapin yang spesial untuk dia." ucap Willy bersungguh-sungguh
"Pilih kado?"
"Ya Ra, kamu mau ya bantu mas Willy soalnya ini penting banget buat mas Willy Ra. Rencananya mas Willy mau nembak dia setelah dia ulang tahun"
"Aku kira mas Willy mau minta bantuan apa dari aku? ternyata cuma untuk pilih kado, tapi kenapa kamu ga minta bantuan Airin aja mas?"
Willy dari seberang sana pun menghembuskan nafasnya dengan kasar
"Ga mungkin banget minta bantuan dari dia untuk yang satu ini Ra"
"Kenapa mas?" tanya Rara dengan polosnya
"Yang ada nanti anak itu sebut semua nama makanan yang dia anggap enak Ra," jawab Willy dengan nada suara malas
Rara pun tertawa geli mendengar Willy membicarakan tentang adiknya sendiri
"Ya ampun mas kamu jahat banget sih sama adik kamu sendiri"
"Serius Ra, coba aja kamu tanya dia mau minta kado apa dari kita? pasti dia sebut nama makanan"
__ADS_1
Rara pun tak henti-hentinya tertawa mendengar Willy membicarakan tentang sang sahabat
"Kamu mau ya Ra bantu mas Willy?"
Rara pun memutuskan untuk membantu Willy, dia tidak tau sama sekali bahwa apa yang akan dia lakukan menjadi sebuah pemicu sebuah bom yang akan meledak dengan sangat hebat
Rara pun segera memberikan kabar kepada Adit bahwa dia akan keluar untuk bertemu dengan seseorang, sedangkan Adit yang berada di tengah rapat hanya bisa mengiyakan pesan Rara tanpa bisa banyak bertanya
Rara pun berjanji bertemu dengan Willy di sebuah mall yang cukup ternama di kota itu, setelah berputar-putar akhirnya Willy memutuskan membeli sebuah kalung yang di rekomendasikan oleh Rara. Sebuah kalung yang terlihat elegan dengan sebuah liontin yang berbentuk bintang
Setelah itu Willy membawa Rara makan di sebuah rumah makan yang cukup ternama dengan alasan untuk membalas kebaikan Rara, mereka pun makan di tempat itu tanpa ada satu perasaan apapun hingga tiba saatnya mereka akan pergi dari tempat itu
Rara pun memutuskan untuk membantu Willy, tanpa tau bahwa apa yang sedang dia lakukan akan menjadi pemicu sebuah bom yang akan meledak dengan sangat hebat. Rara pun mengirimkan pesan kepada Adit bahwa dirinya akan pergi keluar dengan seorang teman, Adit yang sedang berada di tengah rapat hanya mengiyakan tanpa bisa banyak bertanya
Rara langsung bertemu Willy di sebuah mall yang cukup ternama di kota itu, setelah mereka berputar-putar di mall tersebut akhirnya Willy pun menyetujui rekomendasi dari Rara. Pada saat itu Rara merekomendasikan sebuah kalung yang terlihat simpel tetapi juga elegan dengan liontin yang berbentuk bintang
"Apa mau sekalian di bungkus dengan rapi mas?" tanya pelayan di tempat itu
"Ya mbak," jawab Willy
Willy pun langsung menatap ke arah Rara
"Pilihan kamu benar-benar bagus Ra, makasih ya sudah mau bantu mas Willy." ucap Willy dengan serius
"Ya ampun mas, aku kan cuma bantu untuk pilih yang sesuai dengan selera aku aja. Aku juga ga tau nanti dia suka apa ga sama kalung itu"
"Mas Willy yakin dia pasti suka Ra, makasih ya." ucap Willy dengan tulus
"Sama-sama mas"
"Habis ini mas Willy traktir kamu makan ya"
"Ga usah mas, aku ga enak kalau di traktir makan sama kamu lagi mas." jawab Rara dengan cepat
"Anggap aja sebagai ucapan terima kasih karena kamu sudah membantu mas Willy, jadi kamu ga boleh nolak. Atau mas Willy pasti merasa hutang budi sama kamu"
__ADS_1
Rara merasa tidak enak hati untuk menolak hal tersebut karena Willy terlihat sangat tulus, tetapi entah mengapa Rara merasakan sebuah perasaan yang mengganggu di dalam hatinya, seolah hatinya sedang memperingatkan dia bahwa sesuatu akan segera terjadi