
Sebuah pesta yang sangat mewah sedang di persiapkan untuk menyambut pemimpin keluarga Erlangga yang baru, sang papa ingin seluruh dunia mengetahui tentang hal tersebut agar di kemudian hari tidak ada lagi yang merencanakan hal aneh bagi sang anak
Dan di luar sana Rara terus di sibukkan dengan kegiatan yang sama setiap harinya, tetapi dia tidak bisa memungkiri walaupun dia tidak mempunyai waktu untuk memikirkan Adit tetapi sosok Adit sering kali hadir di dalam mimpinya
Sedangkan di sisi lain masih ada seorang Dirga yang di buat pusing dengan beban pekerjaan yang kini menjadi tanggung jawabnya, di sela kesibukannya tersebut masih ada sesuatu yang sedikit mengganjal di dalam hatinya
"Mas Adit kan ga sempat bilang ke aku berapa gaji aku selama jadi pengganti dia di sini? aku mau tanya ke mas Adit sekarang juga ga enak nanti kesannya aku ga mau berkorban demi Rara, tapi aku juga harus kejar setoran karena tahun depan aku sudah mau menikah." ucap Dirga di dalam hatinya sambil memasang wajah tertekan
Dirga sampai lupa bahwa saat itu Harun masih berada di dekatnya
"Apa ada masalah pak?" tanya Harun dengan sopan
"Dia ini kan sahabat mas Adit sekaligus orang kepercayaan mas Adit, kenapa aku ga tanya ke dia aja tentang gaji aku?"
"Kata mas Adit selain asisten pribadinya kamu juga teman dia kan?"
"Betul pak, apa ada yang bisa saya bantu pak?"
"Apa kamu tau berapa gaji saya selama saya menggantikan posisi mas Adit di sini?" tanya Dirga dengan polosnya
Harun pun tersenyum tipis mendengar ucapan seseorang yang kini telah menjadi atasannya tersebut
"Ternyata sikap dia sama dengan istri kecil kamu ya Dit? mereka tidak bisa menutupi apa yang sedang mereka rasakan atau bisa di bilang mereka terlalu polos, pantas saja kamu memilih dia untuk menggantikan posisi kamu di tempat ini"
"Gimana? apa kamu tau?" tanya Dirga dengan wajah penasaran
"Maaf pak tapi untuk masalah yang satu itu saya juga kurang tau pak, menurut saya lebih baik bapak tanyakan masalah itu langsung kepada pak Adit." jawab Harun dengan sopan
Dirga pun hanya bisa terdiam dan memasang wajah memelas
Sedangkan di tempat yang berbeda Adit sudah mulai menempati posisinya di perusahaan keluarga Erlangga, dia pun sedang duduk di bangku kebesarannya dan berhadapan dengan seseorang
"Bagaimana? apa sudah ada kemajuan?"
__ADS_1
"Kami sedang menyebarkan lebih banyak orang untuk menyusuri kota tersebut pak, dan saya yakin tidak lama kami akan menemukan keberadaan ibu Rara." jawab orang tersebut dengan yakin
Adit pun tersenyum puas mendengar hal tersebut, pada saat itu mereka baru mengantongi informasi tentang di kota mana Rara berada. Mereka mendapatkan informasi tersebut dari data terakhir Rara mengambil semua isi tabungan yang dia miliki, tetapi mereka belum mendapatkan informasi yang akurat tentang keberadaan Rara
"Saya mau kalian secepatnya menemukan istri saya," ucap Adit dengan tegas
"Baik pak"
Adit pun memberikan tanda bahwa dia meminta orang tersebut untuk keluar dari ruangannya, orang tersebut pun menundukkan sedikit kepalanya lalu meninggalkan ruangan tersebut
"Ya ampun Ra kamu pergi sampai sejauh itu untuk menghindari mas Adit, tapi maaf karena mas Adit tetap akan menemukan kamu dan membawa kamu kembali. Mas Adit ga bisa membayangkan kehidupan kamu saat ini Ra, bahkan semua uang yang kamu miliki hanya sebanyak itu padahal kamu adalah istri dari Aditya Putra Erlangga"
Lamunan Adit pun menghilang karena tiba-tiba saja ponselnya berdering dan sebuah panggilan telepon yang berasal dari Dirga masuk ke dalam ponselnya
"Halo"
"Halo mas"
"Aku sebelumnya mau minta maaf mas, tapi aku mau tanya sesuatu sama mas Adit." ucap Dirga berhati-hati
"Kamu mau tanya apa sama mas Adit?"
"Aku tau aku ada di sini demi Rara mas, aku juga berharap semoga Rara cepat di temukan. Tapi maaf mas aku juga harus memikirkan masa depan aku karena rencananya tahun depan aku mau menikah"
"Arah ucapan kamu ke mana ya? maaf, mas Adit kurang paham"
"Sebelumnya aku minta maaf sama mas Adit, karena aku mau tanya apa selama aku di sini aku dapat gaji mas?"
Adit pun membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna karena merasa terkejut mendengar hal tersebut, sedangkan di seberang sana Dirga menjadi sedikit tak enak karena diamnya Adit
"Maaf ya mas aku bukan ga perduli tentang Rara, tapi aku juga bingung mas soalnya cicilan rumah aku juga belum lunas mas." ucap Dirga dengan hati-hati
Tiba-tiba saja Adit tertawa lepas mendengar itu semua dan membuat Dirga di seberang sana hanya bisa terdiam sambil merasa bingung
__ADS_1
"Maaf ya mas Adit jadi ketawa," ucap Adit sambil menahan tawanya
"Ga masalah kok mas kalau aku ga dapat gaji karena ini demi Rara, tapi boleh ga mas kalau aku cari kerja sampingan selama aku kerja di sini?"
Lagi-lagi Adit di buat tertawa lepas dengan ucapan Dirga pada saat itu
"Kok kamu ketawa sih mas? aku memang khawatir sama Rara tapi masa depan aku juga di pertaruhkan di sini mas," ucap Dirga terdengar sedikit lirih
"Maaf karena mas Adit ga bisa tahan untuk ga tertawa soalnya kamu benar-benar lucu, mas Adit ga habis pikir karena kamu bisa sampai memikirkan tentang gaji atau cari kerja sampingan. Lagi pula siapa yang bilang kalau kamu kerja di sana?"
"Maksud kamu gimana ya mas? aduh, aku jadi bingung mas." jawab Dirga lirih
"Kamu itu sekarang pemilik sebuah perusahaan, kenapa kamu malah memikirkan hal seperti itu?" ucap Adit dengan santai
"Yang punya perusahaan ini kan mas Adit bukan aku, aku kan cuma kerja sebagai pengganti mas Adit di sini. Jadi wajar dong kalau aku memikirkan tentang gaji aku mas"
Adit pun menyadari kesalahan yang telah dia lakukan karena dia memang belum membahas mengenai masalah itu
"Kemarin kita belum sempat membahas tentang ini ya?"
"Iya mas"
"Sekarang kamu ga perlu memikirkan tentang hal itu lagi, kamu memang ga mendapatkan gaji dari tempat itu. Tetapi kamu mendapatkan semua keuntungan yang di hasilkan dari sana," ucap Adit dengan yakin
Dan sekali ini Dirga bagaimana yang menjadi tertawa lepas melihat mendengar hal tersebut
"Loh kok sekarang jadi kamu yang ketawa?" tanya Adit dengan perasaan sedikit bingung
"Ya iyalah mas, kamu bercandanya berlebihan mas. Ini kan perusahaan kamu mas, jadi ga mungkin kalau aku yang menikmati keuntungan dari perusahaan ini." ucap Dirga lalu kembali tertawa
"Tapi aku ga lagi bercanda," ucap Adit dengan serius
Secara spontan Dirga langsung menghentikan tawanya dan hanya bisa terdiam karena merasa antara percaya dan tidak percaya
__ADS_1