Menjadi Istri Kakak Ipar Ku

Menjadi Istri Kakak Ipar Ku
Masakan Terakhir


__ADS_3

Untuk sesaat Rara terpaku dengan senyuman hangat seorang Aditya Putra Erlangga, dia bagaikan terhipnotis dan tak berdaya


"Ayo Ra"


Ucapan Adit seperti mengembalikan kesadaran Rara yang sempat menghilang entah ke mana


"Em... Itu mas... Em... Apa ga sebaiknya aku pergi sendiri aja mas? pasti kan mas Adit juga capek habis kerja seharian," jawab Rara dengan gugup


"Kenapa Rara kelihatan gugup? ternyata cara aku yang salah ya, dia kan masih bisa di bilang remaja jadi aku juga harus pakai cara anak remaja untuk dekati dia." ucap Adit di dalam hatinya


Adit pun tersenyum penuh arti


"Ga bisa gitu juga dong Ra, kan mas Adit yang minta ke kamu bikin nasi goreng untuk sarapan. Lagi pula selama kita nikah kita belum pernah yang namanya pergi belanja bareng, jadi ga ada salahnya dong sesekali mas Adit antar istri mas Adit untuk belanja." ucap Adit dengan lembut


Rara pun membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna mendengar Adit mengatakan dia sebagai seorang istri, lagi-lagi dia merasakan detak jantungnya berdetak dengan sangat cepat


"Gampang banget kamu ngomong begitu mas, tapi gimana sama nasib jantung aku ini?" gerutu Rara di dalam hatinya


Rara semakin membulatkan kedua bola matanya karena tiba-tiba saja Adit menggenggam tangan Rara


"Buat yang satu ini kamu ga bisa nolak Ra, apa kamu mau jadi istri yang melawan ucapan suaminya? jadi ayo kita belanja bareng Ra," ucap Adit lalu tersenyum hangat


Rara bagaikan terhipnotis kembali dan tidak bisa memberikan perlawanan apapun pada saat itu, dia mengikuti langkah kaki Adit begitu saja. Saat mereka sudah keluar dari apartemen tersebut Rara seperti mendapatkan kembali kesadarannya, secara spontan dia pun langsung menarik tangannya


"Kenapa Ra? apa ada yang ketinggalan?" tanya Adit sambil menatap ke arah Rara


"Ga ada yang ketinggalan sih mas, cuma aku bisa jalan sendiri kok jadi kamu ga perlu tuntun aku mas." jawab Rara dengan wajah tegang

__ADS_1


Adit sudah mengetahui dengan pasti bahwa saat itu Rara pasti akan menolak hal tersebut, tetapi yang pasti dia tidak mungkin menyerah begitu saja


"Mas Adit juga tau Ra kalau kamu bisa jalan sendiri, tapi apa salahnya kalau mas Adit pegang tangan kamu?"


Rara pun di buat gelagapan atas sikap Adit yang seperti itu


"Ya kan.. Itu mas.. Apa ya namanya..." jawab Rara dengan gugup


"Kamu ga bisa kasih alasan apapun kan? pertama kamu itu istri sah mas Adit dan yang kedua kamu bilang kamu sudah anggap mas Adit seperti kakak kamu sendiri, jadi ga ada salahnya dong kalau mas Adit pegang tangan kamu Ra." ucap Adit lalu tersenyum


"Aduh!! gimana ini? aku harus kasih alasan apa dong ke mas Adit? semua yang mas Adit bilang memang benar, tapi kan jantung aku yang jadi ga benar." ucap Rara di dalam hatinya dengan wajah yang sudah tertekan


Adit yang melihat Rara tidak bisa memberikan bantahan lagi langsung menggenggam tangan Rara, dia tidak ingin membuang kesempatan yang sudah ada di depan matanya


Tanpa rasa bersalah sama sekali telah membuat Rara tertekan Adit pun mulai melangkahkan kakinya dengan pasti, dia bisa tersenyum puas di dalam hatinya. Sedangkan Rara hanya bisa pasrah dengan semua yang terjadi termasuk detak jantungnya yang sudah tak menentu


"Sepertinya kesempatan aku untuk mendapatkan Rara jauh lebih besar dari dugaan aku, semua sikap Rara menunjukkan kalau aku masih ada kesempatan." ucap Adit di dalam hatinya sambil melirik ke arah Rara


Tetapi sesuatu yang terduga kembali terjadi karena tiba-tiba Adit menggenggam tangan Rara kembali setelah mereka turun dari mobil, secara spontan Rara berusaha untuk melepaskan tangannya tetapi Adit semakin erat menggenggam tangan Rara


"Mas kita lagi di tempat umum," ucap Rara sedikit berbisik dengan wajah tegang


"Memang kenapa kalau kita di tempat umum Ra? kita kan ga melakukan hal yang berlebihan," ucap Adit dengan santai


"Mas Adit kenapa jadi begini sih? ini sih namanya bukan dia lagi merubah sikapnya tapi dia lagi paksa jantung aku untuk olahraga," ucap Rara di dalam hatinya


"Tapi malu mas kalau di lihat sama orang lain," jawab Rara dengan wajah tertekan

__ADS_1


Adit pun langsung memasang wajah seperti sedang bersedih


"Apa karena mas Adit lebih tua dari kamu ya Ra? makanya kamu malu kalau sampai di lihat orang-orang, kamu takut orang-orang akan berpikiran kalau kamu lagi jalan sama om-om." ucap Adit dengan nada suara lirih


Adit sengaja untuk melakukan hal tersebut agar Rara tidak bisa memberikan penolakan dengan apa yang dia lakukan pada saat itu, jurus yang Adit keluarkan pada saat itu berhasil membuat Rara langsung merasa tak enak hati


"Maaf ya mas, tapi aku ga berpikiran sampai sejauh itu kok mas. Aku cuma belum pernah bergandengan tangan sama laki-laki, jadi aku merasa malu aja sendiri mas." jelas Rara dengan wajah bersalah


Adit benar-benar tersenyum penuh kemenangan di dalam hatinya mendengar penjelasan dari Rara, dia pun semakin yakin untuk menjadi laki-laki pertama bagi istri kecilnya tersebut


"Mas Adit boleh jadi laki-laki pertama yang pegang tangan kamu ga Ra?" tanya Adit dengan lembut


Rara pun tidak bisa berkutik lagi dan hanya bisa pasrah dengan semua keadaan yang ada, mereka pun mulai masuk ke tempat itu dan berkeliling memberi semua yang mereka butuhkan. Dan sudah pasti Adit selalu menggenggam tangan Rara di setiap kesempatan yang ada


Rara yang belum pernah melakukan hal tersebut bersama laki-laki lain selalu merasa malu saat dia berpapasan dengan orang lain, lain hal dengan Adit dia seolah sedang menunjukkan keberhasilan yang dia dapatkan kepada semua orang dengan perasaan bangga


"Mumpung lagi di sini aku sekalian belanja untuk stok bahan makanan aja deh," ucap Rara di dalam hatinya


Rara pun mulai mengarah ke bagian bahan makanan, dia pun mulai memasukkan beberapa bahan makanan utama. Tetapi tiba-tiba saja Adit mengeluarkan kembali bahan makanan tersebut dari dalam troli belanjaan mereka


"Kenapa di keluarin lagi mas?" tanya Rara dengan menatap serius ke arah Adit


"Karena kita ga butuh itu Ra," jawab Adit lalu tersenyum


"Kenapa di keluarin lagi sih mas? mumpung kita ada di sini jadi sekalian aja," ucap Rara dengan serius


"Karena nasi goreng yang aku minta sama kamu akan jadi masakan terakhir yang kamu masak Ra," jawab Adit dengan wajah serius

__ADS_1


Hati Rara di buat tak menentu mendengar jawaban Adit pada saat itu


__ADS_2