Menjadi Istri Kakak Ipar Ku

Menjadi Istri Kakak Ipar Ku
Suami


__ADS_3

"Nama ibu siapa ya?"


"Ibu Rara bisa panggil saya bi Susi bu," dengan sopan


Rara pun menganggukkan sedikit kepalanya


"Bi"


Bi Susi pun langsung menatap ke arah Rara dengan serius karena mengira Rara membutuhkan sesuatu


"Kalau bisa bibi dan yang lainnya juga jangan bersikap terlalu formal sama saya bi, umur saya belum terlalu tua saya jadi sedikit canggung." ucap Rara lalu tersenyum


"Sebelumnya kami minta maaf kalau membuat ibu merasa kurang nyaman, tapi dari awal pak Adit sudah memberikan kami perintah untuk menghormati ibu sama seperti kami menghormati pak Adit." jelas bi Susi dengan sopan


"Gimana juga mereka cuma pekerja di tempat ini, sebaiknya aku mengikuti arahan mas Adit supaya mereka ga berada di posisi yang serba salah." batin Rara sambil tersenyum


"Ya sudah kalau begitu bi, tapi tolong sampaikan ke yang lain juga kalau mulai hari ini untuk teh mas Adit biar saya yang siapkan ya bi"


"Baik bu"


Rara hanya membalas dengan senyuman


"Kalau boleh tau apa sarapan untuk pagi ini akan di antar ke kamar bu?"


"Sepertinya ga usah bi, nanti saya minta mas Adit untuk makan di meja makan aja"


"Baik bu"


Rara pun segera meninggalkan dapur karena merasa sedikit tak enak hati, dia yakin orang-orang yang berada di sana menjadi sungkan untuk melakukan apapun karena kehadiran dirinya di sana. Rara memilih untuk kembali ke dalam kamar dengan membawa teh yang baru saja dia siapkan


Saat Rara masuk ke dalam kamar ternyata Adit baru saja terbangun dari tidurnya, saat Rara masuk ke dalam kamar tersebut dia pun langsung mendudukkan tubuhnya dengan sempurna sambil menatap ke arah Rara


"Kamu dari mana sayang?"


"Bikin teh untuk kamu mas"


Adit pun langsung mengerutkan keningnya


"Kamu bikin itu sendiri sayang?"


Rara menganggukkan kepalanya sambil tersenyum


"Siapa yang berani suruh kamu melakukan sesuatu di rumah ini sayang?"


"Maksud kamu mas?" tanya Rara dengan polosnya

__ADS_1


Rara meletakkan teh tersebut ke atas meja sedangkan Adit segera bangkit dan menghampiri Rara dengan wajah serius


"Apa ada orang yang berani suruh-suruh kamu kerjain sesuatu di rumah ini?" tanya Adit dengan tegas


Rara pun langsung memahami arah ucapan Adit pada saat itu dan menghembuskan nafasnya dengan kasar


"Aku yakin selain kamu ga akan ada yang berani untuk minta aku melakukan sesuatu di rumah ini mas, tapi apa salah kalau aku mau siapin sendiri teh untuk suami aku?"


Adit seperti sulit untuk menelan salivanya sendiri pada saat itu karena mendengar Rara menggunakan kata suami untuk dirinya


"Aku barusan ga salah dengar kan? Rara bilang kalau aku suami dia, itu artinya dia mulai mengakui aku sebagai suami dia dong." batin Rara


Rara pun menjadi sedikit bingung karena tidak menerima jawaban apapun dari sang suami


"Mas," ucap Rara sambil melambaikan tangannya di hadapan Adit


"Ya, kenapa sayang?"


"Boleh kan mas?"


"Apanya sayang?"


Rara pun membuang nafasnya dengan kasar


"Aku tau sebagai istri kamu aku harus menjaga sikap aku di hadapan para pekerja di sini, tapi boleh ya kalau khusus untuk teh kamu tetap aku yang siapkan." ucap Rara lalu tersenyum


"Ya sudah kamu mandi dulu mas"


Dengan patuh Adit langsung masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan diri, setelah berpakaian rapi dia mulai menghampiri Rara yang sudah duduk di sofa. Menghabiskan waktu lagi mereka dengan damai hingga Adit berangkat untuk bekerja


Hari-hari Rara di lalui dengan sangat baik di rumah mewah tersebut, Adit pun mulai memberanikan diri untuk memeluk tubuh Rara sebelum mereka beranjak tidur. Sedangkan Rara sudah mulai terbiasa tanpa ada rasa takut menghampiri hatinya saat dia di dalam pelukan hangat seorang Aditya Putra Erlangga


Pagi itu baik Adit maupun Rara melakukan rutinitas mereka seperti biasa, setelah berpakaian rapi Adit akan mendudukkan tubuhnya di samping Rara


"Apa kamu ga bosan di rumah terus sayang? kalau kamu merasa bosan, kamu bisa pergi keluar untuk belanja atau melakukan apapun yang kamu mau." ucap Adit dengan lembut


"Aku baru aja mau ijin sama kamu mas"


"Kamu ijin ke mana sayang?"


"Kemarin aku sempat komunikasi sama Airin mas, kata dia hari ini ada jadwal kelas di kampus. Jadi rencananya nanti aku mulai masuk kuliah mas"


Adit menganggukkan sedikit kepalanya tanda mengerti


"Maaf ya mas Adit ga bisa antar kamu ke kamu ke kampus, nanti kamu di antar sama supir aja ya"

__ADS_1


" Ga masalah kok mas"


Rara menatap Adit dengan lekat seolah dia ingin menyampaikan sesuatu tetapi dia ragu untuk mengatakan tentang itu, Adit yang melihat hal tersebut mempunyai pikirannya sendiri


"Astaga!! mas Adit lupa Ra, mas Adit belum kasih ke kamu ya"


Rara pun hanya bisa terdiam dengan wajah bingung


"Mas Adit mau kasih aku apa ya? aku aja belum sempat bilang apa-apa"


Tiba-tiba saja Adit memberikan Rara sebuah kartu yang sempat Rara kembalikan kepada dirinya, Rara pun langsung memasang wajah sedikit kecewa. Adit yang menyadari perubahan ekspresi wajah Rara langsung menatap ke arah Rara dengan serius


"Kenapa Ra?"


"Aku bukan mau minta ini mas"


"Terus kamu mau apa Ra?" tanya Adit dengan wajah serius


"Kemarin-kemarin aku selalu lihat ada beberapa orang yang kawal kamu waktu kamu mau berangkat kerja mas"


"Iya, terus kenapa Ra?"


"Itu ga berlaku untuk aku kan mas," jawab Rara dengan wajah memelas


"Apa kamu merasa ga nyaman kalau di ikuti sama mereka Ra?"


Rara pun langsung menganggukkan kepalanya


"Tapi tugas mereka menjaga keselamatan keluarga kita Ra"


"Tapi aku cuma anak kuliah mas, kan aneh rasanya kalau di ikuti mereka." ucap Rara dengan serius


"Kalau untuk yang satu ini agak susah Ra"


Rara pun langsung memasang wajah sedikit kecewa


Adit tampak terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu, dia sedang memikirkan posisi Rara dan jalan terbaik yang ada. Setelah cukup lama Adit pun mulai menatap Rara dengan serius


"Gimana kalau mas Adit suruh mereka menjaga jarak dari kamu? nanti mas Adit juga minta orang yang mengikuti kamu supaya ga menggunakan pakaian yang formal"


"Apa harus seperti itu mas?"


Adit pun tersenyum hangat lalu meletakkan tangannya di ujung kepala Rara dengan lembut


"Ya harus Ra, karena sekarang kamu itu istri mas Adit. Dan akan ada banyak orang yang akan berusaha untuk mencari masalah dengan kita," ucap Adit dengan lembut

__ADS_1


Dengan sedikit berat hati Rara terpaksa mengalah dan menyetujui keinginan Adit, Adit pun memilih pengawal termuda di antara mereka semua untuk mendampingi Rara


__ADS_2