
"Apa kamu baik-baik aja Ra?" tanya Adit dengan serius
Rara pun menatap Adit dengan wajah bingung sambil mengerutkan keningnya
"Apanya mas?"
"Apa masih terasa sakit?"
Rara akhirnya memahami arah pertanyaan Adit pada saat itu, tetapi dia juga bingung bagaimana harus menjawab tentang hal tersebut
"Kalau masih sakit biar mas Adit bantu kamu ke kamar mandi ya"
"Ga usah mas, aku bisa sendiri." jawab Rara dengan yakin
Dengan sangat percaya diri Rara mencoba untuk bangkit, Rara yang baru menurunkan kakinya dari atas tempat tidur merasakan sakit yang teramat besar pada bagian intinya. Rara bahkan sampai merasa ragu untuk menggerakkan tubuhnya turun dari tempat tidur
Adit yang melihat hal tersebut tersenyum tipis, dengan cepat dia langsung memakai celananya dan mengitari tempat tidur lalu berlutut tepat di hadapan Rara. Saat itu wajah Rara sudah bisa menggambarkan dengan jelas apa yang sedang dia rasakan
"Masih sakit ya sayang?" tanya Adit dengan lembut
Rara pun menganggukkan kepalanya sambil meringis menahan rasa sakit pada bagian intinya, Adit bergegas bangkit dan mencium kening Rara dengan lembut
"Maaf ya Ra padahal mas Adit sudah coba untuk melakukan itu secara perlahan"
"Kamu ngomong apa sih mas? aku rasa semua perempuan pasti harus merasakan ini supaya mereka bisa menjadi seorang istri yang seutuhnya," ucap Rara dengan tulus
Adit pun menatap wajah Rara dengan tatapan mata yang berbinar-binar
"Kamu memang perempuan baik Ra, mas Adit benar-benar beruntung bisa memiliki kamu." batin Adit
"Biar mas Adit yang bantu kamu untuk ke kamar mandi ya"
"Ga usah mas aku bisa sendiri, lagi pula aku malu mas." jawab Rara dengan wajah merona
__ADS_1
"Kamu itu sudah menjadi istri mas Adit seutuhnya Ra, jadi kamu ga perlu merasa malu di depan mas Adit ya." ucap Adit dengan lembut
Adit mulai membalut tubuh Rara dengan selimut yang Rara pakai untuk menutupi tubuh polosnya, dia pun mengangkat tubuh Rara ala bridal style dan membawa Rara masuk ke dalam kamar mandi. Dengan sangat perlahan Adit menurunkan tubuh Rara di dalam bathtub, dia mulai mengisi bathtub tersebut dengan air hangat
"Apa segini sudah cukup hangat Ra?"
Rara pun menganggukkan kepalanya
"Mas Adit ga tega lihat kamu Ra, biar mas Adit bantu kamu untuk bersih-bersih ya Ra"
Pada saat itu Adit hanya tak sampai hati bila Rara harus banyak bergerak untuk membersihkan diri, sudah pasti Rara menolak keras hal tersebut. Adit pun mengalah dan mendekatkan semua keperluan Rara untuk membersihkan diri
"Mas Adit tunggu di luar ya"
Adit pun segera keluar dari kamar mandi setelah Rara menganggukkan kepalanya, dia segera keluar dari dalam kamar dan memerintahkan para pekerja untuk membawakan makan malam ke dalam kamar mereka
"Sebaiknya aku bersih-bersih di kamar mandi sebelah aja, jadi saat Rara selesai aku bisa langsung temani dia." batin Adit sambil tersenyum tipis
Adit pun bergegas untuk membersihkan diri di kamar mandi yang lain, dia benar-benar ingin segera berada di dalam kamar saat Rara selesai membersihkan diri. Karena dia yakin Rara akan sedikit kesulitan untuk berjalan
"Mas Adit akan berusaha sekuat tenaga untuk menjaga rumah tangga kita Ra karena mas Adit adalah laki-laki pertama bagi kamu, mas Adit hanya meminta agar kamu selalu menjaga hati kamu dan jangan biarkan ada laki-laki lain di antara kita Ra. Karena mas Adit tidak bisa memberikan toleransi dengan kata perselingkuhan"
Adit pun mengganti sendiri tempat tidur mereka dengan sprei yang baru, saat dia melihat Rara keluar dari dalam kamar mandi dengan sedikit bersusah payah. Tanpa menunggu perintah Adit pun langsung menghampiri Rara dan mengangkat kembali tubuh Rara
"Mas kamu ngapain sih mas?" tanya Rara dengan wajah panik
"Aku cuma mau bawa kamu ke ruang ganti Ra," jawab Adit dengan lembut
Untuk sekali ini Adit tidak lagi mau mengalah karena dia merasa harus bertanggung jawab penuh terhadap Rara, dan Rara hanya bisa pasrah bahkan saat mereka menuju ke arah sofa lagi-lagi Adit mengangkat tubuh Rara ala bridal style
Kita makan malam dulu ya, habis ini baru kita istirahat." ucap Adit dengan lembut
Rara sudah bersiap untuk mengambilkan piring untuk Adit tetapi dengan cepat Adit merampas piring tersebut
__ADS_1
"Untuk malam ini biar mas Adit yang melayani kamu sayang"
"Tapi mas...."
"Ga boleh pakai kata tapi sayang karena untuk malam ini kamu yang akan jadi ratunya," ucap Adit dengan lembut lalu tersenyum
Rara pun menatap Adit dengan lekat
"Kenapa sayang?"
"Apa aku jadi ratu di dalam hidup kamu cuma untuk malam ini aja mas?"
Adit pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum hangat, sedangkan Rara yang melihat hal tersebut langsung mengerucutkan bibirnya
"Karena mulai besok dan seterusnya kamu bukan cuma menjadi ratu sayang, tapi kamu akan menjadi seorang istri dan seorang ibu yang baik untuk anak-anak kita sayang." jawab Adit dengan lembut
Entah sudah berapa kali Rara di buat merona pada malam itu dengan semua yang Adit lakukan, dia tau bahwa Adit adalah sosok yang lembut tapi dia tidak pernah menyangka bahwa Adit akan sebaik itu saat menjalin sebuah hubungan. Rara pun menatap Adit dengan lekat
"Mungkin dulu aku selalu berpikir kalau aku adalah seorang korban pada kejadian di malam itu, tapi saat ini aku merasa bahwa semua rasa sakit yang pernah aku rasakan ga bisa di bandingkan dengan perasaan bahagia yang aku rasakan. Yang selalu ibu bilang itu memang benar, di balik kesedihan pasti akan ada kebahagiaan yang akan kita rasakan." batin Rara sambil tersenyum tipis
Selesai makan malam Adit langsung membawa Rara berbaring di atas tempat tidur, Adit tak henti-hentinya menatap ke arah Rara dan membuat Rara menjadi sedikit canggung
"Kenapa sih mas? kamu lihat aku terus"
Adit memberikan sebuah senyuman yang terlihat hangat
"Mas Adit ga pernah menyangka aja, kamu yang dulu selalu mas Adit anggap sebagai anak kecil saat ini menjadi istri mas Adit seutuhnya"
"Apa sekarang kamu menyesal mas?" tanya Rara sambil tersenyum tipis
Adit pun memeluk tubuh Rara dengan sangat erat
"Mas Adit memang menyesal karena mas Adit terlalu lama untuk memulai ini semua sama kamu sayang," ucap Adit dengan lembut lalu mencium ujung kepala Rara dengan lembut
__ADS_1
Adit memberikan salah satu tangannya agar bisa di jadikan bantal bagi sang istri, malam itu Rara bisa tertidur dengan pulas di dalam pelukan hangat seorang Aditya Putra Erlangga
Dengan mudahnya Rara sudah terlelap tetapi tidak dengan Adit, dia masih tidak bisa percaya bahwa kini dia sudah memiliki Rara seutuhnya. Bahkan semua bisa terjadi karena inisiatif Rara sendiri