
Rara langsung mendudukkan tubuhnya dengan sempurna, dia yang belum mendapatkan semua kesadarannya menatap ke arah tangannya yang terasa sedikit berdenyut
"Kalo ini cuma mimpi atau setan kenapa tangan aku terasa sakit?" tanya Rara dengan suara pelan tetapi tetap terdengar
Adit pun menghembuskan nafasnya dengan kasar karena kini dia bisa mendapatkan tamparan kedua di dalam hidupnya
"Karena ini beneran mas Adit Ra, bukan setan atau cuma datang di mimpi kamu." ucap Adit penuh penekanan
Rara pun menatap ke arah Adit dengan perasaan tak percaya
"Ga mungkin dia mas Adit!! ga mungkin mas Adit ada di dalam kamar ini!!" batin Rara
Plak....
Rara yang masih tidak mau percaya memukul pipinya sendiri sekuat tenaga
"Kok sakit sih?" tanya Rara sambil meringis menahan rasa sakit di pipinya
Adit yang melihat hal tersebut langsung cemas dan memegang tangan Rara
"Kamu ngapain sih Ra?
Rara hanya terdiam dan menatap ke arah Adit dengan tajam, sedangkan Adit yang masih merasa cemas langsung mengelus pipi Rara dengan lembut
"Sakit ya Ra?"
Rara yang panik pun langsung menepis tangan Adit dan beranjak dari tempat tidurnya, dia pun menjauhkan tubuhnya dari Adit hingga mendekat ke arah pintu kamar tersebut
"Kamu kenapa bisa ada di sini mas? ga salah!! kamu kenapa bisa masuk ke dalam kamar aku?" tanya Rara penuh penekanan
"Tadi mas Adit sudah bilang Ra, mas Adit datang untuk menjemput kamu pulang"
Rara yang merasa semakin panik pun langsung memegang handle pintu berniat untuk lari sejauh mungkin dari Adit, tanpa sadar bahwa saat itu dia hanya menggunakan pakaian tidur dan tanpa menggunakan dalaman pada bagian atas
"Rara!!" teriak Adit dengan tegas
__ADS_1
Entah dari mana datangnya keberanian Rara pada saat itu yang pasti dia menatap ke arah Adit dengan tajam tanpa rasa takut sama sekali
"Apa mas? apa kamu mau tampar aku lagi? atau kamu mau bilang aku seperti perempuan murahan sama seperti yang selalu kamu lakukan selama ini?!!" tanya Rara dengan berteriak
Hati Adit benar-benar terasa sakit mendengar itu semua, karena secara tidak langsung Rara sedang mengingatkan Adit dengan semua yang telah dia lakukan selama ini. Sedangkan Rara hanya merasa bahwa dia tidak ingin lagi menanggung kesalahan yang tidak dia lakukan
"Ga kok Ra, mas Adit ga akan pernah lagi melakukan itu sama kamu Ra. Mas Adit cuma spontan teriak melihat kamu mau keluar dengan pakaian seperti itu," ucap Adit lirih
"Pakaian aku? memang apa yang salah sama pakaian aku?" tanya Rara di dalam hatinya
Dengan polosnya Rara melihat ke arah pakaian yang sedang dia gunakan pada saat itu, dia yang tersadar pun langsung melipat kedua tangannya di bagian inti dadanya
"Kamu mau apa keluar Ra?"
Rara pun memberikan sebuah senyuman yang terlihat sinis kepada Adit
"Apa lagi mas? aku cuma mau pergi dari sini dan menghilang dari pandangan mata kamu, bukannya itu yang kamu inginkan dari perempuan murahan seperti aku mas?"
Adit yang menyesali semua perbuatan yang telah dia lakukan hanya bisa terdiam dan mendudukkan tubuhnya di tepi tempat tidur, cukup lama meraka hanya terdiam dan saling larut di dalam pemikiran mereka masing-masing
"Sebenarnya apa mau kamu mas? kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Rara dengan tegas
Adit pun mulai menatap ke arah Rara dengan tatapan mata penuh rasa penyesalan
"Mas Adit sudah bilang kalau mas Adit datang ke sini untuk menjemput kamu Ra, mas Adit minta maaf sama kamu dan jangan pernah pergi tinggalin mas Adit lagi Ra. Tolong kasih mas Adit kesempatan satu kali lagi Ra"
Rara hanya bisa terdiam serasa tidak percaya mendengar hal tersebut bisa keluar dari mulut Adit
"Aku ga salah dengar kan? mas Adit minta maaf dan minta aku jangan pergi, dia juga minta kesempatan sekali lagi. Ga ini ini semua benar-benar terasa aneh, akh!! bisa gila sendiri aku kalau begini!! aku mau kabur juga bingung keadaan aku begini!!"
"Tolong kasih mas Adit kesempatan Ra, mas Adit ingin menjadikan kamu sebagai seorang istri yang seutuhnya dan menebus semua kesalahan mas Adit"
Di antara suasana yang sedang tercipta tiba-tiba saja sesuatu yang sedikit konyol sedikit terjadi, karena tiba-tiba saja Rara merasa bahwa dia harus segera pergi ke kamar mandi. Rara pun mulai memegang handle pintu kamar tersebut
"Kamu mau pergi ke mana sih Ra?"
__ADS_1
Pada saat itu seorang Aditya Putra Erlangga sudah tidak memiliki keberanian sama sekali untuk berteriak di hadapan Rara, sedangkan Rara langsung menatap tajam ke arah Adit
"Aku cuma mau pergi ke kamar mandi mas, apa kamu ga lihat kalau di dalam kamar ini ga ada kamar mandinya? lagi pula kamu lihat sendiri pakaian yang aku gunakan seperti ini mas, mana mungkin aku kabur dengan keadaan seperti ini." ucap Rara dengan tegas
Adit pun membuang nafasnya dengan kasar lalu mulai bangkit dari duduknya, dia mengambil handuk yang tergantung di dalam kamar tersebut dan menutupi bagian dada Rara
"Mas Adit ga berpikiran kamu mau kabur kok Ra, lagi pula kemana pun kamu pergi mas Adit pasti akan mencari kamu dan menemukan kamu. Mas Adit cuma ga mau ada laki-laki lain melihat bagian dari tubuh kamu Ra, karena kamu istri mas Adit." ucap Adit dengan lembut
Rara yang merasa jengkel pun menghempaskan handuk tersebut
"Tutup mata kalian!!" teriak Adit
Rara yang tidak mengerti dengan ucapan Adit langsung menatap tajam ke arah Adit karena lagi-lagi pria tersebut berteriak di hadapannya
"Gimana caranya aku bisa sampai di kamar mandi dengan tutup mata mas? lagi pula ini rumah kost wanita mas jadi ga akan ada laki-laki lain di tempat ini, aku aja heran kenapa kamu bisa masuk ke sini?" ucap Rara dengan sinis
Adit pun hanya bisa terdiam dan mengambil handuk yang berada di lantai, sedangkan Rara langsung membuka pintu kamarnya dan dia melihat ada punggung seorang pria berpakaian rapi berdiri tepat di depan kamarnya. Dengan perasaan terkejut Rara pun segera menutup pintu kamar tersebut
"Kok bisa ada laki-laki di depan kamar aku?" tanya Rara dengan suara yang terdengar bergetar
Adit pun tersenyum hangat lalu meletakkan kembali handuk tadi di depan dada Rara
"Ga usah takut ya Ra, dia cuma sedang bertugas menjaga kita"
Rara hanya bisa terdiam dengan ekspresi wajah yang sama
"Katanya kamu mau ke kamar mandi? ayo biar mas Adit yang antar"
Rara pun langsung memegang ujung pakaian Adit
"Tapi mas"
Adit meletakkan tangannya dengan lembut di ujung kepala Rara
"Ada mas Adit di sini Ra, jadi kamu ga perlu takut akan apapun. Mas Adit yakin saat ini dia sedang menutup mata dan telinganya," ucap Adit dengan lembut lalu tersenyum hangat
__ADS_1
Entah mengapa rasa takut di dalam hati Rara menghilang begitu saja, dia juga tidak bisa berbohong bahwa dia merindukan sikap lembut dari laki-laki yang ada di hadapannya tersebut