Menjadi Istri Kakak Ipar Ku

Menjadi Istri Kakak Ipar Ku
Keinginan Adit


__ADS_3

Adit segera bangkit dan mencari keberadaan ponselnya, dia pun segera menghubungi Harun


"Halo"


"Apa lu sudah mulai urus permintaan gw?"


"Permintaan yang mana Dit? permintaan lu ke gw setiap harinya selalu banyak, jadi tolong usahakan ngomong yang jelas." ucap Harun dengan tegas


"Tentang perceraian gw sama Rara"


Terdengar Harun membuang nafasnya dengan kasar dari seberang sana


"Apa lu benar-benar sudah yakin mau urus perceraian lu sama anak itu?" tanya Harun dengan tegas


"Jadi belum lu kerjain kan?"


"Belum Dit, tapi kalau lu benar-benar sudah yakin besok akan segera gw urus." jawab Harun dengan serius


"Jangan!! gw ga mau cerai sama anak itu!! gw mau berusaha untuk mempertahankan rumah tangga kami," ucap Adit dengan yakin


Harun pun tertawa kecil di seberang sana


"Kenapa lu ketawa?"


"Ga tau kenapa gw yakin lu pasti akan menghentikan rencana lu yang satu ini, itu juga kenapa gw memilih untuk pura-pura lupa." jawab Harun dengan santai


"Kenapa lu bisa punya pemikiran seperti itu?"


"Karena gw sudah lama jadi teman lu Dit, dari awal gw yakin anak itu bisa merubah hati lu"


"Lu memang teman terbaik gw, terkadang lu akan lebih dulu tau perasaan gw dari pada gw sendiri. Terima kasih ya," ucap Adit dengan tulus


"Hem...."


Adit pun langsung memutuskan sambungan teleponnya lalu tersenyum tipis

__ADS_1


"Kamu boleh aja pergi dan menghilang untuk saat ini Ra tapi mas Adit pasti akan menemukan kamu Ra, mas Adit harus meminta maaf dan merebut hati kamu lagi. Tolong tunggu mas Adit ya Ra, jangan bunuh perasaan yang kamu punya untuk mas Adit." ucap Adit lalu tersenyum


Adit pun mulai merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur Rara sambil terus membayangkan semua tingkah imut Rara selama ini, Adit membuka matanya di pagi hari dengan senyuman yang menghiasi bibirnya


"Kamu tunggu mas Adit ya Ra, mas Adit pasti akan menemukan kamu dan membawa kamu pulang." batin Adit sambil tersenyum


Pada awalnya Adit berniat untuk melepaskan Rara setelah membaca surat yang Rara tinggalkan, tetapi kini tekadnya sudah bulat untuk menemukan Rara karena buku diary milik Rara


Adit pun segera bangkit dan langsung menuju ke arah kamar mandi, dia pun membersihkan diri dan melakukan semua rutinitasnya di pagi hari. Adit juga berangkat kerja seperti biasanya dengan senyuman yang terus mengembang dan semangat yang berkobar


"Apa ada kabar baik?" tanya Harun dengan wajah bingung


"Ga ada," jawab Adit tanpa menoleh sama sekali


"Terus kenapa lu senyum-senyum sendiri dari tadi? gw cuma minta tanda tangan dari lu, tapi gw harus menyaksikan lu senyum sendiri sampai tiga kali." ucap Harun dengan nada suara mengejek


Adit pun mulai menatap ke arah Harun sambil membawa senyuman yang mengembang, sedangkan Harun langsung memasang wajah malas sambil mengerutkan keningnya


"Dit lu sudah tua!! sudah kurang pantas kalau lu bersikap seperti itu," ucap Harun dengan suara sinis


"Sebaiknya lu pergi ke toilet di sana kaca yang besar"


"Maksud lu?' tanya Adit dengan wajah bingung


"Supaya lu bisa lihat ekspresi anak remaja kalau lagi kasmaran"


Adit sama sekali tidak merasa marah ataupun tersinggung dengan ucapan Harun pada saat itu, yang dia lakukan pada saat itu adalah mengangkat kedua ibu jarinya ke arah Harun sambil tersenyum


"Lu memang hebat!! gw yakin gw ga akan pernah bisa menyembunyikan sesuatu dari lu"


Harun pun hanya terdiam sambil memasang wajah malas


"Apa lu bisa kasih tanda tangan lu sekarang Dit? setelah itu gw akan kasih lu waktu untuk mengkhayal bebas lagi"


"Oke, tapi sebelum itu gw mau minta lu cari seseorang yang bisa kita percaya untuk mencari tau tentang kejadian di malam itu. Gw yakin semua informasi yang kita dapatkan selama ini pasti ada kesalahan," ucap Adit dengan serius

__ADS_1


Harun menganggukkan sedikit kepalanya tanda bahwa dia telah mengerti dan Adit mulai membubuhkan tanda tangannya, sedangkan Harun langsung meninggalkan ruangan Adit setelah dia mendapatkan apa yang dia inginkan


Adit melanjutkan kembali pekerjaan yang ada di hadapannya tetapi hati dan pikirannya membuat dia tidak bisa fokus sama sekali, sedari tadi dia terus melihat ke arah jam tangan yang dia gunakan


"Sebaiknya aku hubungi dari sekarang"


Adit pun langsung meraih ponselnya dan menghubungi seseorang


"Ya Dit"


Ternyata orang yang di hubungi Adit pada saat itu adalah Wulan


"Mbak lagi sibuk ga? nanti mau makan siang bareng aku ga mbak?" tanya Adit dengan nada suara yang terdengar lembut


Di seberang sana Wulan tersenyum tipis karena dia yakin ada sesuatu yang di inginkan sang adik kepada dirinya, karena dia tau bahwa Adit adalah sosok yang sama seperti dirinya. Mereka tidak mungkin membuang waktu dengan percuma hanya demi makan siang bersama


"Tumben sekali seorang Aditya Putra Erlangga ngajak mbaknya makan siang bareng, pasti ada sesuatu kan." ucap Wulan dengan nada suara mengejek


Adit cengengesan di seberang sana


"Mbak bisa kan temani aku makan siang?"


"Hem... Mbak sudah hafal semua sikap kamu Dit, jadi ga usah pakai alasan makan siang bareng. Kalau kamu sudah bersikap seperti ini pasti ada sesuatu yang mau kamu minta dari mbak"


"Memang cuma mbak Wulan yang selalu mengerti tentang aku, jadi kita bisa ketemu kan mbak? aku mau minta tolong sesuatu sama mbak dan ini masalah penting untuk aku mbak," ucap Adit lalu tertawa kecil


"Boleh Dit, kebetulan ada sesuatu yang harus mbak sampaikan sama kamu"


Mereka pun berjanji untuk bertemu di sebuah tempat, hati Adit sudah tidak sabar untuk bertemu sang kakak. Entah sudah berapa kali Adit memeriksa jam tangan yang dia gunakan


Saat jam makan siang hampir tiba Adit pun tersenyum lalu bangkit dari bangku kebesarannya untuk menemui sang kakak, kini dia telah duduk tepat di hadapan sang kakak sambil terus tersenyum


Adit pun secara aktif menawarkan sang kakak ini dan itu untuk makan siang sang kakak, sedangkan Wulan hanya bisa menahan tawanya melihat Adit menunjukkan sikap seperti itu


"Sebenarnya apa yang mau Adit minta dari aku? setelah dia mulai dewasa dia cuma menunjukkan sikap manis seperti ini kalau ada yang dia inginkan, tapi untuk sekali ini benar-benar bersikap sangat manis. Aku yakin ada sesuatu yang besar yang akan dia minta dengan dia bersikap seperti ini," ucap Wulan di dalam hatinya

__ADS_1


Adit terus menunjukkan sikap manis di hadapan sang kakak dengan banyak membuka percakapan ini dan itu, Wulan pun semakin yakin bahwa ada sesuatu yang besar yang Adit inginkan


__ADS_2