Menjadi Istri Kakak Ipar Ku

Menjadi Istri Kakak Ipar Ku
Tidur Di Kamar Yang Sama


__ADS_3

Rara pun langsung menatap Adit dengan tatapan mata yang terlihat aneh


"Sejak kapan mas Adit jadi tukang gombal seperti ini? aduh jantung aku jadi kumat lagi," batin Rara


Pada saat itu Rara mulai merasakan kembali debaran yang dulu pernah dia rasakan terhadap Adit, Rara yang tidak ingin terlalu lama menatap Adit pun membuang pandangan matanya ke arah luar jendela


"Aku pikir selamanya aku ga akan pernah bisa kembali ke kota ini karena permintaan mas Adit, tapi ternyata mas Adit sendiri yang jemput aku untuk pulang." batin Rara di dalam hatinya sambil tersenyum tipis


Entah bagaimana caranya Adit seperti mengetahui jalan pikiran Rara pada saat itu, dia pun meletakkan tangannya dengan lembut di ujung kepala Rara


"Selamat datang kembali di kota ini Ra," ucap Adit dengan lembut


Rara pun langsung menatap ke arah Adit dengan sebuah senyuman menghias bibirnya


"Aku cuma berharap kamu ga akan pernah mengecewakan aku lagi mas," ucap Rara di dalam hatinya


Di sepanjang perjalanan Adit terus saja membuka percakapan ringan untuk mencairkan suasana yang ada, sedangkan kedua orang yang ada di bangku depan hanya bisa saling lirik dengan perasaan sedikit terkejut melihat sosok lain dari seorang Aditya Putra Erlangga


Tetapi tiba-tiba saja Rara mulai menatap ke arah Adit dengan wajah serius, pada saat itu dia menyadari bahwa mereka tidak menuju ke arah apartemen yang selama ini mereka tempati


"Kita ga salah jalan ya mas?"


Adit hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum


"Memang kita mau ke mana mas?"


Adit meletakkan tangannya di ujung kepala Rara dengan lembut


"Kita mau pulang ke rumah kita sayang," jawab Adit dengan lembut


Rara pun membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna mendengar Adit untuk pertama kalinya memanggil dirinya dengan sebutan sayang


"Kamu memang curang mas, kamu selalu melancarkan semua aksi kamu di saat aku belum ada persiapan." batin Rara


Entah sudah secepat apa detak jantung Rara saat dia semakin lama menatap senyuman hangat dari Adit, tidak ingin semakin merasa malu dia pun langsung membuang pandangan matanya ke arah luar jendela


"Mungkin ini salah satu alasan aku bisa dengan mudah jatuh hati sama kamu Ra, kamu benar-benar terlihat imut saat kamu sedang di goda." batin Adit sambil tersenyum tipis


Adit tidak mau menghentikan aksinya begitu saja, dia pun berniat untuk menggoda Rara lebih jauh lagi

__ADS_1


"Kamu lagi lihat apa sayang?"


Mendengar hal tersebut membuat Rara langsung menatap ke arah Adit dengan tajam


"Mas Adit kenapa sih? kenapa dia harus panggil aku dengan sebutan sayang? di sini kan banyak orang, apa mas Adit ga merasa malu?" batin Rara


"Kamu lagi mikirin apa sih sayang?"


Rara pun menatap Adit semakin tajam, sedangkan Adit berusaha sekuat tenaga untuk tidak tertawa pada saat itu. Rara pun mulai menggerakkan tangannya tanda dia meminta Adit untuk mendekat


"Kamu ngapain harus panggil aku dengan sebutan sayang sih mas? di sini ada orang lain selain kita berdua, apa kamu ga merasa malu sama sekali?" bisik Rara penuh penekanan


"Kamu kenapa panggil aku sayang mas? yang duduk di depan kita ada dua orang, apa kamu ga malu mas?" bisik Rara penuh penekanan


"Siapa sayang?" Adit balas berbisik


Rara pun menunjuk ke arah sang supir dan pemimpin pengawal pribadi Adit


"Apa kalian berdua mendengar apa yang saya bicarakan dengan istri saya?" tanya Adit dengan tegas sambil tetap menatap ke arah Rara


"Kami tidak mendengar apapun pak," jawab kedua orang yang duduk di depan secara serentak


"Jangan cemberut dong sayang nanti cantik kamu jadi hilang"


Rara yang sudah tidak kuat menahan debaran yang dia rasakan pada saat itu langsung menatap ke arah Adit dengan wajah sendu


"Mas...."


Adit pun meletakkan tangannya di ujung kepala Rara dengan lembut


"Maaf ya, mas Adit ga akan godain kamu lagi"


Akhirnya mereka pun tiba di sebuah rumah yang sangat mewah, bahkan rumah tersebut tidak bisa di bandingkan sama sekali dengan rumah yang di berikan kepada Adel. Rara pun menatap ke arah Adit dengan wajah bingung


"Ini rumah siapa mas? ga sopan kalau kita bertamu tengah malam begini"


"Boleh ga sih aku cium kamu saat ini juga sayang?" tanya Adit di dalam hatinya


"Mas? kok malah diam sih," ucap Rara dengan tegas

__ADS_1


"Siapa yang mau bertamu sayang? ayo turun karena ini memang rumah kita"


Adit pun segera turun dari dalam mobilnya, sedangkan Rara terpaksa mengikuti langkah kaki Adit walaupun masih ada sedikit perasaan ragu di dalam hatinya. Adit langsung menggenggam tangan Rara dengan lembut


"Selamat datang di rumah kita sayang, mulai saat ini dan sampai selamanya kamu akan menjadi nyonya di rumah ini"


Rara hanya bisa terdiam melihat rumah yang bagaikan sebuah istana tersebut, rumah seperti itu hanya pernah dia lihat saat dia mengikuti acara keluarga Erlangga di kediaman orang tua Adit


"Masuk yuk," lanjut Adit


Semua para pekerja yang masih terjaga menyambut kehadiran mereka berdua dengan sopan, Rara merasa seperti seseorang yang sangat berarti di tempat itu


"Sudah malam kita istirahat dulu ya Ra"


Rara hanya menjawab dengan anggukan kepalanya


Mereka mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah kamar utama di tempat itu, setelah sampai di sana Adit mulai menatap ke arah Rara


"Mas Adit sudah bilang kalau mas Adit ingin menjadikan kamu istri yang seutuhnya Ra, apa kita bisa mulai itu dengan tidur di kamar yang sama Ra?" tanya Adit dengan hati-hati


"Dari awal mas Adit bilang mau menjadikan aku istri yang seutuhnya, tapi aku harus bagaimana? gimana kalau mas Adit melakukan itu lagi secara paksa? apa aku siap?" batin Rara dengan wajah cemas


Adit seperti mengetahui apa yang ada di dalam benak Rara pada saat itu, dia pun langsung memeluk tubuh Rara dengan lembut. Adit seolah sedang mengatakan kepada Rara agar Rara tidak perlu merasa takut kepada dirinya


"Kalau kamu belum siap untuk tidur satu kamar ga masalah kok Ra, mulai saat ini kamu punya kebebasan untuk memilih apapun yang kamu mau. Mas Adit akan menunggu kamu sampai kamu siap Ra," ucap Adit lembut


Adit pun mulai melepaskan pelukannya dan tersenyum hangat


"Udah malam kita istirahat dulu ya, ini kamar mas Adit dan di sebelah kamar kamu. Mas Adit sengaja sudah siapkan kamar untuk kamu kalau kamu menolak tidur di kamar yang sama," lanjut Adit lirih


Rara seperti melihat kekecewaan dari tatapan mata Adit pada saat itu


"Mas Adit masuk dulu ya Ra"


Adit baru memegang handle pintu tiba-tiba saja Rara langsung ujung pakaian Adit


"Apa kamu benar-benar mau tidur satu kamar dengan aku mas?"


Dengan cepat Adit menganggukkan kepalanya sambil tersenyum

__ADS_1


"Sebenarnya aku masih merasa sedikit takut, tapi bagaimana pun juga aku adalah seorang istri jadi ga pantas kalau aku menolak hal tersebut." batin Rara


__ADS_2