
Seharian penuh Rara menemani Haikal di dalam kamarnya untuk membuat anak tersebut merasa nyaman di tempat yang baru, Adit pun memilih untuk membiarkan hal dan hanya beberapa kali masuk ke dalam kamar tersebut
Adit yang tidak pergi ke kantor pada hari itu menghasilkan pekerjaan yang cukup menumpuk, dia pun memilih untuk menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda. Setelah makan malam semua kembali ke tempat semula
Rara mulai keluar dari kamar Haikal setelah anak tersebut benar-benar tertidur, dia pun kembali ke dalam kamarnya tetapi tidak bisa menemukan sosok sang suami. Rara yang merindukan aroma tubuh sang suami melangkahkan kakinya ke arah ruang kerja Adit
Tok.. Tok.. Tok..
"Masuk"
"Mas," sapa Rara sambil memunculkan kepalanya
"Masuk sayang"
Rara pun mulai melangkahkan kakinya ke arah Adit
"Masih kerja mas?"
"Ya sayang, ada kerjaan yang belum selesai. Apa Ical sudah tidur?"
"Ya mas"
"Kamu tidur duluan aja ya sayang, tanggung kerjaan mas Adit belum selesai"
Rara pun langsung menatap ke arah Adit dengan tatapan mata yang penuh harap
"Kenapa sayang?"
"Aku boleh temani kamu kerja ga mas?" tanya Rara dengan manja
"Astaga!! karena masalah Ical tadi aku lupa bawa Rara untuk periksa ke rumah sakit, kalau perubahan sikap dia karena dia sedang hamil sebaiknya aku ga menentang keinginan dia." batin Adit
"Boleh dong sayang"
Senyuman bahagia langsung menghiasi bibir Rara pada saat itu, Adit pun mulai memindahkan bangku yang berada di hadapannya dan meletakkan bangku tersebut tepat di samping bangkunya
Saat Adit mendudukkan tubuhnya ke tempat semula dia pun langsung mengerutkan keningnya karena melihat wajah Rara yang sudah mulai di tekuk
__ADS_1
"Kenapa sayang? katanya mau temani mas Adit kerja?"
"Kamu mau minta aku duduk di situ ya mas?" tanya Rara sambil menunjuk ke arah bangku yang Adit pindahkan
"Kenapa sayang? apa kamu mau duduk di bangku mas Adit aja?"
Rara pun langsung tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, Adit pun tersenyum tipis dan berusaha bangkit untuk berpindah duduk. Adit belum sempat bangkit Rara langsung memegang tangan Adit
"Kenapa sayang?"
"Kamu duduk di situ aja mas"
"Tapi tadi kamu bilang kalau kamu mau duduk di sini sayang"
Tiba-tiba saja Rara mulai mendudukkan tubuhnya tepat di pangkuan Adit dengan posisi miring
"Kalau kamu benar-benar hamil, sepertinya anak kedua aku ini anak perempuan karena Rara benar-benar berubah menjadi manja." batin Adit sambil tersenyum
"Kamu lanjutkan aja pekerjaan kamu mas, aku ga akan ganggu kamu." ucap Rara
Di tempat yang berbeda Jonathan mengabiskan malam panas bersama sang istri, tetapi entah mengapa pada malam itu Adel tidak bisa memberikan yang terbaik seperti biasanya. Dan itu semua membuat Jonathan merasa sedikit jengkel
Jonathan yang sudah mencapai pelepasan pun menjatuhkan tubuhnya di samping Adel tanpa ada ucapan terima kasih atau pun ciuman lembut seperti biasanya, setelah mengatur nafasnya dengan baik Jonathan pun mulai menatap Adel dengan tajam
"Kamu sebenarnya kenapa sih? kenapa kamu bersikap seperti itu? apa sekarang kamu sudah ga bersedia melayani aku dengan baik?" tanya Joe dengan tegas
"Maaf sayang, aku jadi kepikiran tentang Ical"
Jonathan pun langsung bangkit dan menatap ke arah Adel dengan wajah serius
"Apa sih maksud kamu? apa setelah anak itu pergi kamu mau melampiaskan kemarahan kamu sama aku?" tanya Joe penuh penekanan
"Bukan begitu sayang, aku ga ada niat seperti itu." jawab Adel dengan cepat
Jonathan yang masih merasa jengkel memilih untuk pergi ke kamar mandi dan membersihkan diri, sedangkan Adel hanya bisa merenungi nasib dirinya saat itu
"Kenapa hidup aku sekarang jadi begini? kenapa sekarang aku merasa menyesal dengan pilihan hidup aku saat itu," batin Adel sambil menjatuhkan air matanya
__ADS_1
Entah mengapa malam itu hati Adel merasa menyesal bukan main sudah melepaskan laki-laki sebaik Aditya Putra Erlangga, kepergian Haikal dari sisinya membuat dia benar-benar menyadari semua kesalahan yang sudah dia lakukan selama ini
Adit yang sudah menyelesaikan pekerjaannya pun ternyata mendapatkan Rara sudah tertidur dengan pulas di atas pangkuannya
"Astaga!! apa aku terlalu lama bekerja sampai Rara bisa tertidur? kasihan juga kalau dia tidur terlalu lama dengan posisi ini, sebaiknya aku pindahkan dia ke kamar supaya dia bisa tertidur dengan nyaman." batin Adit sambil tersenyum
Adit pun memberikan ciuman lembut di ujung kepala Rara dan secara perlahan dia mulai mengangkat tubuh Rara, Adit meletakkan tubuh Rara secara perlahan di atas tempat tidur dan saat Adit berniat untuk pergi ke kamar mandi tiba-tiba saja Rara terjaga dari tidurnya
"Kenapa kamu pindahin aku ke sini mas? apa kamu ga suka aku temani kamu kerja?" tanya Rara lirih
Adit pun tersenyum hangat
"Mas Adit pindahin kamu ke kamar karena kerjaan mas Adit sudah selesai sayang, mas Adit cuma mau ke kamar mandi aja kok." jawab Adit dengan lembut
Rara mendudukkan tubuhnya dengan sempurna
"Kamu mau apa sayang?" tanya Adit sambil mengerutkan keningnya
"Mau tunggu kamu mas"
Adit pun segera ke kamar mandi dan menyelesaikan apa yang ingin dia lakukan, saat Adit merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur Rara pun langsung menyusup ke dalam pelukan hangat seorang Aditya Putra Erlangga
"Ga boleh di tunda lagi, besok aku harus membawa Rara untuk periksa." batin Adit lalu mencium ujung kepala Rara dengan lembut
Saat pagi menyapa Adit meminta Rara untuk bersiap-siap, dia akan membawa Rara untuk pergi ke rumah sakit terlebih dahulu sebelum dia pergi untuk bekerja. Adit pun merasa sangat bahagia karena sang dokter mengatakan bahwa Rara benar-benar sedang mengandung buah cinta mereka
"Apa hari ini kamu ikut mas Adit ke kantor sayang? kalau kamu merasa bosan nanti kamu bisa pulang saat Ical pulang sekolah," Ical Adit saat sudah berada di dalam mobil
Rara hanya menjawab dengan anggukan kepalanya, ekspresi wajah Rara saat itu terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu dan itu semua membuat Adit merasa sedikit terganggu
"Kamu lagi mikirin apa sih sayang?" tanya Adit dengan lembut
"Sebenarnya ada beberapa hal yang aku pikirkan mas"
"Coba cerita ke mas Adit, apa yang menganggu pikiran kamu sayang? orang yang sedang hamil ga boleh terlalu banyak beban pikiran sayang," ucap Adit dengan lembut
Rara hanya terdiam sambil menatap sang suami dengan lekat, dia tampak sedikit ragu untuk menyampaikan semua yang ada di dalam benaknya pada saat itu
__ADS_1