
Setelah memasang wajah malas tiba-tiba saja Adit memasang wajah serius dan menatap ke arah Wulan dengan lekat
"Sekarang apa lagi?"
"Mbak bisa tau dari mana kalau laki-laki itu yang merencanakan itu semua mbak?"
Wulan pun memberikan senyuman yang terlihat mengejek
"Mbak...." ucap Adit dengan wajah memelas
"Dari orang yang kamu minta untuk cari informasi tentang malam itu, kalau dia sampai kasih informasi yang bohong ke kamu berarti ada orang di belakang dia. Dengan sedikit penekanan akhirnya dia buka mulut," jawab Wulan dengan serius
Adit pun hanya terdiam sambil mengeraskan rahangnya dan entah sudah berapa kali dia mengeraskan rahangnya mendengar semua penjelasan dari sang kakak
"Siapa sebenarnya laki-laki itu mbak?"
"Dia pemimpin keluarga Perkasa saat ini Dit"
"Apa keluarga mereka itu keluarga hebat mbak?"
"Keluarga Perkasa termasuk keluarga besar yang cukup di segani di kota ini Dit"
"Apa bisa mengalahkan keluarga kita mbak?"
Wulan pun langsung menatap tajam ke arah Adit karena mendengar hal tersebut
"Apa kamu meremehkan keluarga kita Dit?" tanya Wulan penuh penekanan
"Bukan begitu mbak, aku cuma agak bingung aja dia berani untuk berbuat sejauh itu sama aku"
__ADS_1
Wulan pun membuang nafasnya dengan kasar lalu menatap ke arah Adit dengan serius
"Keluarga Perkasa masih jauh untuk bersaing dengan keluarga kita Dit, tapi apa kamu lupa status kamu saat ini? dan alasan dia bisa menjalankan semua rencana dia dengan lancar, karena dia memiliki saham di apartemen yang kamu tempati saat ini." ucap Wulan dengan serius
"Jadi karena dia anggap aku sebagai anggota keluarga yang di abaikan sehingga dia berani untuk bermain api sama aku? astaga!! aku ga bisa membayangkan bagaimana nasib dia kemudian hari?" ucap Adit di dalam hatinya sambil tersenyum sinis
"Itu juga alasannya mbak butuh waktu sedikit lama untuk mendapatkan semua bukti itu," lanjut Wulan
"Aku ga merasa pernah punya masalah sama laki-laki itu mbak, jadi untuk apa dia melakukan itu semua?" tanya Adit sambil mengerutkan keningnya
Adit benar-benar tidak bisa menemukan satu pun alasan yang membuat seorang Jonathan Perkasa bisa melakukan hal tersebut kepada dirinya, sedangkan Wulan memasang wajah mengejek mendengar hal tersebut
"Mbak juga sudah berusaha untuk mencari tau tentang itu, tapi mbak ga berhasil menemukan apapun. Satu-satunya alasan yang tersisa adalah dia sengaja melakukan itu supaya kamu berpisah dengan Adel"
Adit membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna mendengar hal tersebut, dia tidak habis pikir bila ada seseorang yang tega melakukan itu semua hanya demi memisahkan dirinya dengan Adel
"Aku rasa dia sudah ga waras kalau dia melakukan hal itu cuma untuk memisahkan aku sama Adel"
Adit pun hanya bisa terdiam sambil memasang wajah malas
"Sekarang kamu sudah tau semuanya Dit, jadi apa rencana kamu selanjutnya? apa kamu berniat untuk membalas orang itu?"
"Untuk saat ini aku ga akan melakukan apapun sama laki-laki itu mbak, bagaimana pun juga saat ini dia sudah menjalin hubungan sama Adel. Aku cuma ga mau mereka akan berpikir aku membalas perbuatan laki-laki itu untuk merebut Adel dari dia," jawab Adit dengan tegas
Wulan pun tertawa kecil dan membuat Adit menatap dirinya dengan wajah bingung
"Mbak cuma ga habis pikir aja, ternyata kamu bisa bersikap tidak perduli sama Adel. Kamu bahkan ga mencari tau sama sekali tentang laki-laki itu"
"Saat ini aku sudah punya istri mbak, jadi ga mungkin aku harus memikirkan perempuan lain lagi." jawab Adit dengan penuh keyakinan lalu tersenyum tipis
__ADS_1
Wulan yang melihat ekspresi wajah Adit saat itu langsung menghilangkan semua tawanya dan menatap ke arah Adit dengan tajam, dia seolah bisa mengetahui jalan pikiran sang adik pada saat itu
"Apa maksud kamu Dit?"
"Maksudnya gimana ya mbak? Aku ga paham arah omongan mbak"
"Jangan bilang kalau kamu mau mempertahankan Rara untuk tetap menjadi istri kamu!!" ucap Wulan penuh penekanan
Adit pun menganggukkan kepalanya dengan senyuman menghias bibirnya
"Anak itu ga melakukan kesalahan apapun Dit, jadi kamu ga punya hak untuk mengikat dia karena kejadian itu. Satu lagi jangan bilang kalau mengikat dia hanya karena perasaan bersalah kamu sama dia, karena itu ga adil untuk anak itu Dit." ucap Wulan dengan tegas
Sebagai sesama wanita Wulan tidak mungkin berdiam diri mendengar hal tersebut, dia tidak ingin sang adik mengikat kebebasan Rara untuk kejadian yang sudah terjadi
"Aku harus jujur kalau aku memang merasa bersalah atas semua yang telah aku lakukan sama Rara selama ini mbak, apalagi saat ini setelah aku mengetahui semua kebenaran yang ada. Tapi aku tetap ga bisa membiarkan dia pergi karena aku akan berusaha untuk mempertahankan rumah tangga kami mbak," ucap Adit penuh keyakinan
"Apa kamu sudah tidak waras Aditya Putra Erlangga? kamu ga berhak memaksakan kehendak kamu sendiri sama anak itu, kamu harus membayangkan perasaan anak itu juga!!" ucap Wulan penuh penekanan
Pada saat itu wajah Wulan sudah tidak bersahabat, seandainya saja mereka tidak berada di tempat umum sudah pasti Adit tidak bisa selamat dengan mudah
"Tapi bagaimana kalau kebersamaan kami yang singkat ini membuat kamu saling jatuh hati mbak? apa mbak masih mau meminta kami untuk berpisah?" tanya Adit lalu tersenyum tipis
Tiba-tiba saja Wulan tertawa lepas mendengar hal tersebut, sedangkan Adit hanya bisa menatap ke arah sang kakak dengan wajah bingung sambil mengerutkan keningnya
"Apa kamu berharap mbak akan percaya sama omongan kamu itu Dit? kamu sudah beberapa kali membawa anak itu ke pertemuan keluarga kita, mbak yakin tatapan mata anak itu ke kamu bukan perasaan cinta Dit. Tatapan mata dia cuma tatapan mata seorang adik yang kagum dengan kakaknya sendiri," jelas Wulan lalu kembali tertawa
"Jangankan kamu mbak, aku sendiri sepertinya ga bisa percaya kalau Rara bisa jatuh hati sama aku." ucap Adit di dalam hatinya sambil tersenyum
"Aku sendiri ga tau kapan itu semua di mulai mbak karena semua terjadi dengan sendirinya, tapi yang pasti aku sudah yakin dengan perasaan yang aku punya untuk Rara. Ini bukan cuma perasaan bersalah mbak, tapi perasaan seorang laki-laki terhadap seorang wanita." ucap Adit penuh keyakinan lalu tersenyum tipis
__ADS_1
Wulan pun menghentikan semua tawanya dan menatap jauh ke dalam mata Adit, dia pun bisa yakin bahwa tidak ada kebohongan terpancar dari tatapan mata Adit pada saat itu
"Mungkin ini yang terbaik untuk mereka berdua, bagaimana pun juga mereka adalah dua orang dewasa yang di paksa untuk tinggal bersama. Hal yang wajar kalau tumbuh perasaan di antara mereka berdua, mbak akan selalu berdoa agar kamu bisa menemukan kebahagiaan kamu Dit." ucap Wulan di dalam hatinya