
"Kamu adalah orang terpenting di dalam hidup Rara jadi aku ga mungkin merugikan kamu, lagi pula kalau merasa tidak enak hati kamu cukup mengelola perusahaan itu dengan baik. Itu sudah cukup bagi mas Adit," ucap Adit dengan serius
"Aduh mas!! kalau bercanda jangan begini dong mas, kalau begini aku yang jadi bingung"
"Mas Adit ga bercanda Dirga, mas Adit benar-benar serius dengan semua ucapan mas Adit"
"Tapi mas...."
"Ga pakai kata tapi lagi, kamu cukup berjanji sama mas Adit untuk menjaga perusahaan itu dengan baik. Satu lagi kamu juga harus berjanji untuk membahagiakan calon istri kamu itu," ucap Adit dengan lembut
Dirga benar-benar tidak pernah menyangka bahwa kehidupan yang dia miliki akan berubah total karena seorang Aditya Putra Erlangga
"Tapi boleh ga mas Adit minta tolong sesuatu sama kamu?" tanya Adit dengan serius
"Mau minta tolong apa ya mas?"
"Saat nanti mas Adit berhasil menemukan Rara tolong bantu mas Adit untuk membujuk dia, karena mas Adit ga mau kehilangan dia lagi untuk selamanya." ucap Adit dengan penuh keyakinan
"Aku pasti bantu kamu mas tapi bukan karena kamu kasih ini semua ke aku ya mas, aku bantu kamu karena aku yakin kamu laki-laki yang baik untuk Rara mas." jawab Dirga penuh keyakinan
"Terima kasih, mas Adit janji mas akan berusaha untuk menjadi suami yang baik untuk Rara"
Di luar sana orang-orang yang Adit kirim semakin gencar mencari keberadaan Rara dan sudah pasti itu karena penekanan yang Adit lakukan, dia hanya ingin secepatnya bisa menemukan istri kecilnya yang sedang melarikan diri tersebut
Sebuah pesta besar pun di lakukan untuk mengumumkan tentang Adit yang kini telah resmi menjadi pemimpin keluarga Erlangga, Jonathan yang juga seorang pengusaha terpaksa menghadiri acara tersebut bersama Adel. Dan di saat itu Haikal terlihat sedikit kecewa terhadap Adel
Saat itu anak kecil tersebut memilih untuk mendekat ke arah sang papa dan terus berada di samping sang papa, kehadiran Adel di tempat itu di anggap bagai sebuah angin lalu di hadapan keluarga besar Erlangga, bagi mereka semua Adel hanya sebuah masa lalu yang tidak perlu di ingat sama sekali
Dirga dan Harun yang juga hadir di acara tersebut, kehadiran mereka di tempat itu di sambut hangat oleh anggota keluarga Erlangga yang lainnya. Hal tersebut terjadi karena Adit sudah menceritakan semua kejadian yang telah terjadi pada dirinya
Sang papa sangat menghargai peran Dirga yang bersedia memegang perusahaan Adit, sehingga anak itu bisa kembali menjadi pemimpin keluarga Erlangga
__ADS_1
Tetapi di sisi lain Jonathan semakin merasa jengkel dan sedikit khawatir karena Adit telah mewujudkan salah satu kata-katanya, berulang kali Jonathan mencuri pandang ke arah Adit yang saat itu di kerumuni banyak orang
"Sial..!! dia benar-benar pemimpin keluarga Erlangga!! apa ini artinya dia juga tau kalau aku yang merencanakan semua kejadian di malam itu? sial!! apa dia akan membalas perbuatan aku kalau aku sampai membantu Adel melawan dia? tapi sekarang aku sendiri ga yakin bisa melawan dia!!" batin Joe
Dengan sangat mudah Adel mengetahui bahwa ada yang sedang Jonathan pikirkan
"Kamu kenapa sayang?" tanya Adel
Jonathan mulai memasang wajah memelas lalu menatap ke arah Adel dengan lekat
"Aku ga apa kok sayang, aku cuma lagi merasa sedikit takut aja"
"Takut apa sayang?"
"Aku takut kamu jadi berpaling dari aku sayang," jawab Joe lirih
"Maksud kamu apa ya sayang?"
Perempuan bodoh adalah kata-kata yang paling cocok untuk menggambarkan seorang Adel, karena dengan mudahnya dia selalu mempercayai semua yang Jonathan lakukan dan katakan. Adel pun mulai menggenggam tangan Jonathan dengan lembut
"Ga akan yang ada berubah sama sekali sayang, apa yang dulu mas Adit lakukan ga akan pernah bisa aku maafkan. Bagi aku sebuah kepercayaan lebih penting dari pada materi," ucap Adel dengan tulus
Jonathan pun tersenyum puas mendengar itu semua
"Setidaknya aku masih menang dari kamu Aditya Putra Erlangga karena aku berhasil mendapatkan perempuan ini, dan aku harap perempuan ini bisa menjadi tameng yang kuat dari kamu." batin Joe sambil tersenyum
Adit yang melihat itu semua dari kejauhan hanya bisa mentertawakan Adel di dalam hatinya, dia tidak pernah mengira bahwa wanita sepintar Adel bisa di tipu dengan sangat mudah
"Setidaknya saya sudah memberikan kamu sebuah nasihat, apapun keputusan yang kamu ambil tetap berada di tangan kamu Adel. Dan saya yakin kamu akan berakhir dengan memetik buah yang pahit," ucap Adit di dalam hatinya
Waktu pun terus berlalu dan semua berjalan seperti biasanya, Adel semakin gencar untuk mendekatkan sang buah hati kepada Jonathan. Tetapi entah mengapa hati kecil Haikal sulit untuk menerima keberadaan Jonathan
__ADS_1
Di sisi lain Adel bersama Jonathan semakin sibuk mempersiapkan acara pernikahan mereka, acara tersebut akan di lakukan dengan sangat meriah dan membuat hati Adel menjadi melayang bebas. Dia bahkan sempat membandingkan antara pernikahan dirinya yang sekarang dengan yang dulu
Waktu terus berlalu hingga pada suatu hari Adit membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna melihat sebuah foto yang di kirimkan ke dalam ponselnya
"Akhirnya mas Adit berhasil menemukan kamu Ra, sekarang juga mas Adit akan menjemput kamu pulang sayang." ucap Adit di dalam hatinya sambil tersenyum bahagia
Adit segera bangkit dari bangku kebesarannya dan keluar dari ruangannya, dia ingin secepat mungkin menjemput istri kecilnya. Adit bahkan lupa bahwa saat itu dia seharusnya menuju ke ruang rapat dan memimpin rapat tersebut
Wulan yang juga menuju ke arah ruang rapat langsung memegang tangan Adit karena sang adik melangkahkan kakinya ke arah yang berlawanan
"Kamu mau ke mana Dit?" tanya Wulan dengan tegas
Adit pun memberikan senyuman yang penuh dengan kebahagiaan
"Aku mau jemput istri aku pulang mbak"
"Tapi sebentar lagi kita ada rapat penting," ucap Wulan penuh penekanan
Adit mencium pipi kiri Wulan seperti yang selalu dia lakukan selama ini
"Tolong gantikan posisi aku ya mbak, aku yakin mbak pasti bisa. Aku juga yakin kalau mbak mau melihat aku bahagia?" ucap Adit dengan lembut
Wulan pun hanya bisa mengembuskan nafasnya dengan kasar
"Ya udah kamu jemput istri kamu itu, biar mbak yang selesaikan di sini"
Adit mencium pipi sang kakak sekali lagi
"Mbak Wulan memang yang terbaik"
Tanpa menunda waktu lagi Adit segera meninggalkan gedung tersebut dengan senyuman tipis selalu menghiasi bibirnya
__ADS_1