
FLASH BACK
Rara adalah anak bungsu di keluarga kecil mereka, dan secara otomatis dia memiliki sifat yang bertolak belakang dengan Adel yang merasa mempunyai tanggung jawab besar sebagai anak pertama
Adel sendiri terkadang merasa jengkel saat Rara sedang menunjukkan sikap manja kepada siapapun yang berada di rumah mereka, itu juga salah satu alasan yang membuat Rara lebih dekat dengan sosok Dirga yang hangat
Suatu hari Rara kecil pun sedang sakit tetapi sang ibu tetap harus meninggalkan dia untuk bekerja, pada hari itu Dirga lah yang menggantikan sosok sang ibu dan menemani Rara seharian di dalam kamarnya
"Ra mas Dirga bawa bubur nih, kamu makan dulu ya." ucap Dirga kecil dengan lembut
Rara menganggukkan kepalanya lalu berusaha untuk mendudukkan tubuhnya
"Mau makan sendiri apa mas Dirga yang suapin kamu Ra?"
"Suapin mas," jawab Rara sambil tersenyum
Dirga pun tersenyum dan mendudukkan tubuhnya tepat di samping Rara kecil, dengan sangat telaten Dirga menyuapi Rara hingga Rara kecil merasa tidak sanggup lagi untuk memakan bubur tersebut. Dirga pun meletakkan mangkuk tersebut dan memberikan Rara segelas air putih
"Sekarang minum obatnya ya Ra"
"Tapi Rara ga suka minum obat mas, rasanya pahit dan Rara ga suka." ucap Rara kecil dengan manja
"Kalau kamu ga minum obat gimana kamu cepat sembuh Ra? memang kamu ga mau ikut main sama mas Dirga?"
"Rara mau ikut main sama mas Dirga," jawab Rara kecil dengan cepat
Dirga kecil pun tersenyum
"Ya udah kalau begitu Rara minum dulu ya obatnya, nanti kalau Rara sudah sembuh Rara bisa main lagi sama mas Dirga"
Dengan patuh Rara kecil pun meminum obat tersebut
"Ya udah sekarang Rara tidur ya"
__ADS_1
Rara kecil yang sudah berbaring di selimuti dengan baik oleh sang kakak dan Rara kecil pun tersenyum ke arah sang kakak
"Kenapa Ra?"
"Kalau nanti Rara sudah besar Rara mau nikah sama mas Dirga aja ya, jadi kalau Rara lagi sakit mas Dirga bisa jagain Rara dengan baik." ucap Rara kecil dengan polosnya
Dirga kecil pun tertawa lepas mendengar celoteh sang adik
"Kamu mana bisa nikah sama mas Dirga"
"Kenapa? nanti kalau Rara sudah besar Rara pasti cantik kok," ucap Rara dengan polosnya
"Karena kita saudara Ra, jadi kamu ga bisa nikah sama mas Dirga"
"Kalau begitu Rara mau cari suami yang sebaik mas Dirga, biar kalau Rara sakit tetap ada yang jagain Rara"
Dirga pun tersenyum hangat
"Boleh, yang penting sekarang Rara sehat dulu ya." ucap Dirga kecil dengan lembut
Rara menatap ke arah Adit dengan tatapan mata yang sulit untuk di artikan
"Mas Dirga lihat mas saat ini aku sudah mendapatkan suami yang sebaik kamu, tapi aku sendiri ga tau akan berakhir seperti apa hubungan kami mas? karena hubungan kami di mulai dengan sesuatu yang tidak baik," ucap Rara di dalam hatinya
Adit saat itu memegang kening Rara untuk memastikan sekali lagi suhu tubuh Rara
"Aku cuma bisa berharap untuk ke depannya kamu ga mengunakan kata-kata kasar kamu lagi mas, karena aku yakin hati aku ga akan sanggup mendengar itu dari seseorang yang aku cintai." lanjut Rara di dalam hatinya
Tidak butuh waktu yang lama Rara pun mulai terlelap ke alam mimpi karena pengaruh obat yang dia minum, Adit yang sudah yakin bahwa Rara sudah tertidur memilih untuk keluar dari dalam kamar tersebut sambil membawa nampan yang tadi dia bawa
Hari itu Adit pun hanya makan malam seorang diri, setelah selesai makan malam dia memilih untuk mendudukkan tubuhnya di ruang tamu. Dia hanya ingin bisa cepat datang jika Rara membutuhkan dirinya
Adit mengabiskan waktunya di depan laptopnya di ruang tamu sambil sesekali masuk ke dalam kamar Rara untuk memastikan suhu tubuh Rara, dengan sangat telaten dia akan merapikan selimut Rara bila keadaan selimut Rara sudah mulai tidak rapi
__ADS_1
Saat hampir jam dua malam Adit berniat untuk membangunkan Rara agar meminum obatnya sekali lagi, Adit pun merasa sedikit terkejut karena saat itu Rara sedang terduduk di atas lantai
Ternyata saat itu Rara sedang menuliskan sesuatu di buku diary miliknya, dan saat mendengar suara pintu akan terbuka Rara langsung menyelipkan buku tersebut ke bawah tempat tidurnya
"Kamu ngapain Ra?" tanya Adit dengan wajah panik
"Aku cuma mau ke kamar mandi mas," jawab Rara dengan asal
Adit yang sedang panik tidak menyadari keanehan dari jawaban yang Rara berikan, dia membantu Rara untuk bangkit dan dengan setia mengantarkan Rara ke kamar mandi
"Ga usah di tungguin mas aku udah lebih baik kok," ucap Rara tak enak hati
"Ga apa Ra"
Tidak ingin memperpanjang masalah Rara pun segera masuk ke dalam kamar mandi dan melakukan sesuatu yang seharusnya tidak terlalu dia inginkan, setelah kembali ke dalam kamarnya Adit pun dengan telaten menunggu Rara hingga dia meminum obatnya. Adit pun memegang kening Rara untuk memastikan suhu tubuhnya
"Syukur deh Ra demam kamu sudah turun"
"Iya mas"
"Kalau begitu mas Adit tidur dulu ya Ra, soalnya besok pagi ada rapat di kantor"
"Terima kasih ya mas," ucap Rara dengan tulus
Adit pun memberikan senyuman yang terlihat tulus dan segera keluar dari dalam kamar Rara, Adit sudah bisa merasa tenang karena suhu tubuh Rara sudah kembali normal
Adit pun memilih untuk langsung masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat, tidak butuh waktu yang lama Adit pun sudah berhasil masuk ke alam mimpi. Karena saat itu rasa kantuk memang sudah menghampiri dirinya sedari tadi
Saat pagi mulai menyapa Rara pun mulai melakukan semua yang biasa dia lakukan di pagi hari, jam Adit untuk bangun sudah terlewat tetapi laki-laki tersebut tetap tidak keluar dari dalam kamarnya
"Sepertinya semalam mas Adit bilang kalau pagi ini dia ada rapat di kantor, pasti mas Adit terlambat bangun karena jagain aku sampai malam. Apa aku coba bangunin aja ya mas Adit?" ucap Rara di dalam hatinya
Rara pun mulai mengetuk pintu kamar Adit dan mencoba untuk memanggil nama Adit, tetapi Adit sama sekali tidak menyadari hal tersebut dan masih asik terbuai di alam mimpi. Rara mencoba beberapa kali tetap tak membuahkan hasil apapun
__ADS_1
"Aduh gimana ya? kalau aku masuk nanti kesannya aku kurang sopan, tapi kalau aku ga masuk nanti mas Adit bisa terlambat datang ke kantor." gumam Rara
Rara pun merasa bimbang untuk menentukan pilihan hatinya dan cukup lama hanya berdiam diri di depan kamar Adit