
Keesokan harinya dari pagi buta Rara sudah mulai terjaga dari tidurnya, dia pun segera membersihkan diri dan bersiap untuk menemani sang suami menemui Haikal. Tetapi Rara tidak bisa berbohong bahwa jauh di dalam lubuk hatinya dia merasa sedikit takut
"Apa semua bisa berjalan dengan lancar? apa Ical ga akan banyak bertanya tentang aku nanti? gimana kalau Ical ga bisa menerima keberadaan aku dan jadi membenci aku?" batin Rara
Rara sedang duduk termenung di depan meja rias dengan sejuta pertanyaan yang hadir di dalam benaknya, tanpa dia sadari ternyata sang suami yang sudah terjaga sudah berada tepat di belakangnya. Adit pun langsung memeluk tubuh Rara dari belakang dan mencium ujung kepala Rara dengan lembut
"Lagi mikirin apa sih sayang?"
Rara melihat wajah tampan sang suami dari pantulan cermin, dia pun tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya
"Ya udah mas Adit mandi dulu ya"
"Ya mas"
Setelah rapi mereka mulai berangkat untuk menjemput Haikal dan selama di perjalanan Rara semakin larut dengan berbagai pertanyaan yang ada di dalam benaknya, dia pun tak bisa lagi menutupi itu semua dari sang suami. Adit pun mulai menggenggam tangan Rara dan membuat Rara langsung menatap ke arah Adit
"Kamu kenapa sih sayang?" tanya Adit dengan lembut
"Aku sebenarnya agak takut mas"
Mendengar hal tersebut membuat Adit langsung menatap serius ke arah Rara sambil mengerutkan keningnya
"Kamu takut apa sayang?"
"Aku sebenarnya agak takut kalau Ical ga bisa menerima keberadaan aku di samping kamu mas," jawab Rara lirih
"Jadi itu yang lagi kamu pikirin dari tadi?"
Rara pun menganggukkan sedikit kepalanya, sedangkan Adit meletakkan tangannya di ujung kepala Rara dengan lembut sambil tersenyum hangat
"Kalau menurut mas Adit sih kamu ga perlu memikirkan tentang itu sayang, mas Adit yakin Ical pasti setuju kalau kamu yang jadi ibu sambung dia." ucap Adit dengan yakin
__ADS_1
"Aku juga berharap seperti itu mas, tapi predikat sebagai ibu tiri itu selalu buruk mas dan aku takut Ical jadi salah paham sama aku mas"
Adit bisa melihat dengan jelas bahwa saat itu Rara merasa cemas dari ekspresi wajah yang dia tunjukkan pada saat itu, dia pun mencium ujung kepala Rara dengan lembut lalu tersenyum hangat
"Mau mas Adit kasih bukti yang nyata kalau hal itu ga akan terjadi sama kamu?"
Rara menganggukkan kepalanya dengan wajah penasaran, sedangkan Adit langsung mendekatkan bibirnya ke telinga Rara
"Bukti yang nyata bisa kamu lihat dari mas Adit sayang, apa kamu ga sadar kalau mas Adit sudah di taklukkan oleh kamu dengan mudah?" bisik Adit dengan suara menggoda
Sontak saja Rara pun langsung menatap Adit dengan tajam
"Kamu kok masih bisa bercanda sih mas? padahal aku benar-benar lagi merasa takut"
"Mas Adit ga bercanda kok sayang tapi itu kenyataan, mas Adit yakin seiring berjalannya waktu Ical pasti akan menerima kamu dengan baik sama seperti mas Adit saat ini"
"Semoga aja ya mas, aku cuma ga mau kalau Ical jadi benci sama aku." ucap Rara dengan wajah cemas
Adit mencium punggung tangan Rara dengan lembut
Rara pun hanya bisa tersenyum tipis tetapi hatinya menjadi sedikit tenang dengan sikap yang Adit tunjukkan pada saat itu
"Mungkin di awal Ical akan menyalahkan aku kalau mengetahui tentang ini, apapun tanggapan Ical nanti aku ga boleh patah semangat. Aku harus bisa menunjukkan kepada Ical kalau aku benar-benar tulus menyayangi dia, dengan begitu aku yakin suatu saat nanti Ical bisa menerima aku dengan baik." batin Rara
Sikap yang Haikal tunjukkan saat bertemu Rara benar-benar di luar dugaan karena Haikal terlihat sangat bahagia saat melihat Rara, anak itu bahkan tidak mau melepaskan Rara sama sekali dan hari itu mereka bertiga bermain di sebuah taman bermain
Rara dan Adit terus mengikuti semua keinginan Haikal pada saat itu, hampir semua wahana permainan di tempat itu ingin di coba oleh anak tersebut dan Rara dengan setia terus menemani anak tersebut
Setelah merasa puas bermain mereka beristirahat sejenak di bangku-bangku yang di sediakan di tempat tersebut, Adit pun berinisiatif untuk membelikan minuman dingin bagi mereka semua dan meninggalkan Rara bersama sang buah hati
Saat mereka tinggal berdua tiba-tiba saja Rara merasa sedikit canggung dan terlihat terdiam karena merasa bingung untuk memulai percakapan di antara mereka, tiba-tiba saja Haikal mulai menatap ke arah Rara dengan wajah serius
__ADS_1
"Apa aku boleh minta sesuatu sama tante Rara?"
Rara pun langsung menatap ke arah Haikal
"Kamu mau minta apa dari tante Rara sayang?" tanya Rara lalu tersenyum tipis
"Tante Rara mau ga jadi istri dari papa aku?" tanya Haikal dengan polosnya
Rara pun langsung membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna mendengar hal tersebut
"Maksud kamu gimana ya sayang?"
"Ical sebenarnya kasihan melihat papa"
"Kamu kasihan melihat papa kamu? memang papa kamu kenapa sayang?"
"Papa sama mama aku ternyata sudah pisah dari lama tante, jadi aku sering membayangkan papa tinggal sendirian"
Rara hanya terdiam untuk menjadi pendengar yang baik bagi Haikal
"Sebentar lagi mama sudah mau menikah dengan om Joe jadi papa sama mama ga mungkin lagi bisa balikan, sedangkan Ical harus tinggal sama mama untuk jaga mama. Apa tante Rara mau jadi istri papa aku? jadi kan aku bisa tenang kalau ada tante Rara yang temani papa"
"Apa kamu ga akan merasa keberatan kalau tante Rara yang jadi mama tiri kamu sayang?" tanya Rara dengan suara yang bergetar
"Ical sebenarnya sering lihat mama tiri di film pasti jahat semua tante," ucap Ical dengan polosnya
"Tapi tante Rara ga mungkin jahat sama kamu kok sayang, tante benar-benar sayang sama kamu." jawab Rara dengan cepat dengan wajah sedikit panik
Haikal pun tersenyum dengan tulus mendengar hal tersebut, dia mungkin hanya seorang anak kecil yang tidak mengerti apa yang sudah terjadi dengan kedua orang tuanya. Tetapi Haikal bisa merasa yakin bahwa Rara benar-benar tulus menyayangi dirinya
"Aku tau kok kalau tante Rara sayang sama aku, itu juga alasan aku minta tante Rara untuk jadi istri papa aku karena aku yakin tante Rara ga akan jahat sama aku." ucap Haikal lalu tersenyum tulus
__ADS_1
Haikal mengucapkan kata-kata tersebut dengan sangat polos tetapi itu semua sangat berarti bagi hati Rara, tiba-tiba saja Rara langsung memeluk tubuh mungil Haikal dengan penuh kasih sayang
"Tante Rara pasti ga akan pernah berbuat jahat sama kamu sayang, karena tante Rara sayang banget sama kamu." ucap Rara dengan tulus lalu mencium ujung kepala Haikal dengan lembut