Menjadi Istri Kakak Ipar Ku

Menjadi Istri Kakak Ipar Ku
Hari Bahagia


__ADS_3

Adit pun meletakkan tangannya di ujung kepala Rara dengan senyuman yang terlihat hangat


"Kamu jangan diam aja dong sayang, kamu harus cerita sama mas Adit apa yang membebani hati kamu saat ini." ucap Adit dengan lembut


"Kalau yang namanya hamil pasti semakin lama perut aku akan semakin besar mas"


Adit pun menganggukkan sedikit kepalanya tanda dia membenarkan ucapan Rara


"Tapi kan ga semua orang tau kalau aku ini istri kamu mas, gimana pandangan orang-orang yang melihat keadaan aku seperti itu?" tanya Rara lirih


Adit pun tersenyum hangat


"Kalau kamu sendiri mau kita berbuat apa sayang?"


"Sebenarnya aku ga terlalu perduli kalau orang-orang yang ga tau tentang hubungan kita akan berpikiran kalau aku ini perempuan ga baik mas"


Adit pun mulai menunjukkan wajah tidak suka mendengar hal tersebut


"Tapi aku cuma ga mau kalau orang-orang berpikiran anak aku anak..." lanjut Rara


Rara tidak bisa menyelesaikan apa yang akan dia ucapkan karena Adit langsung meletakkan jari telunjuknya di bibir Rara


"Mas Adit janji ga akan ada satu orang pun berani untuk melakukan itu sama kamu dan anak kita sayang," ucap Adit dengan tegas


"Tapi mas aku ga mau hal itu terjadi"


"Cara termudah yang ada kita mengumumkan tentang pernikahan kita sayang"


Rara pun terlihat menganggukkan sedikit kepalanya


"Apa kamu setuju dengan cara itu sayang?" tanya Adit dengan wajah sumringah


"Sepertinya kita memang harus melakukan itu mas, aku ga mau kalau anak aku mendapatkan pandangan yang buruk dari orang-orang." jawab Rara dengan yakin


Hati Adit bagaikan mendapatkan sebuah angin segar saat mendengar Rara menyetujui tentang hal tersebut, tetapi ekspresi wajah Rara masih belum berubah sama sekali tanda masih ada beban di dalam hatinya

__ADS_1


"Apa lagi yang kamu pikirkan sayang?"


"Kuliah aku mas"


"Untuk masalah itu kamu tenang aja, kan ada mas Adit di samping kamu sayang." ucap Adit dengan yakin


Tetapi ekspresi wajah Rara masih belum berubah sama sekali


"Apa masih ada yang kamu pikirkan sayang?"


Rara pun mulai menatap ke arah sang suami dengan wajah serius


"Aku mau kamu janji satu hal sama aku mas"


"Kamu mau mas Adit janji apa sama kamu sayang?" tanya Adit dengan lembut


"Ga perduli anak aku perempuan atau laki-laki, ga perduli anak aku lebih unggul atau ga dari Ical tapi Ical tetap harus jadi pengganti kamu." ucap Rara dengan serius


Adit pun langsung menautkan alisnya dan menatap Rara dengan serius


"Kenapa kamu membahas tentang itu sayang?"


Adit pun tersenyum bahagia dan langsung memeluk tubuh mungil Rara dengan erat


"Mas Adit benar-benar bersyukur memiliki kamu sebagai seorang istri Ra, setelah semua kejadian yang hadir di antara kita berdua kamu bagaikan cahaya yang menerangi jalan mas Adit sayang." batin Adit


"Mas Adit ga bisa menjanjikan tentang itu sayang, karena mas Adit ga mau bersikap seperti papa dan membuat anak mas Adit yang lainnya merasa kecewa. Mas Adit membebaskan anak-anak mas Adit untuk menentukan apa yang mereka inginkan," ucap Adit dengan lembut


"Tapi kalau anak-anak kamu menginginkan hal yang sama, aku minta kamu untuk memilih Ical lebih dulu mas." ucap Rara dengan tegas


Adit pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum hangat dan Rara pun tersenyum bahagia, dengan mudah Adit mengetahui bahwa semua beban hati Rara sudah dia ungkapkan semuanya. Kebahagiaan hati Adit pada saat itu tidak bisa dia ungkapkan lagi dengan kata-kata


Anggota keluarga Adit merasa bahagia dengan kabar kehamilan Rara, apalagi dengan adanya hal tersebut Adit ingin segera mengumumkan tentang pernikahan dirinya dan Rara


Waktu pun terus berlalu di setiap harinya Rara bagaikan memiliki dua kepribadian yang berbeda, di saat dia bersama Haikal dia akan berubah menjadi sosok seorang ibu yang sangat perhatian. Tetapi di saat dia hanya berdua bersama Adit maka dia akan berubah menjadi sosok wanita yang sangat manja

__ADS_1


Di tempat yang berbeda Adel semakin bersikap aneh di setiap harinya, dia kadang bersikap sangat dingin walaupun sedang berduaan bersama Jonathan. Semakin lama Jonathan pun semakin merasa jengkel akan sikap Adel yang seperti itu


Malam itu Jonathan pergi sebuah club di mana dia dan teman-temannya selalu menghabiskan malam di waktu yang sebelumnya, Jonathan terlihat lebih pendiam dengan wajah yang masam. Rendi yang lebih dekat dengan Jonathan di bandingkan yang lain pun mendudukkan tubuhnya di samping laki-laki tersebut


"Lu kenapa?"


Jonathan hanya melirik sekilas ke arah Rendi


"Dari tadi muka lu ga enak untuk di lihat," ucap Rendi lalu tersenyum mengejek


"Sekarang gw merasa terjebak sendiri di pernikahan gw dan gw benar-benar menyesal sudah taruhan sama papa gw"


Rendi pun tertawa dengan lepas


"Sejak kapan seorang Jonathan akan kehilangan akal untuk mencari jalan keluar? bukannya lu selalu menemukan cara untuk mendapatkan tujuan lu?"


"Lu benar, untuk apa gw merasa tersiksa demi seorang perempuan?"


"Gitu dong, ini baru Joe yang gw kenal." ucap Rendi lalu tersenyum


"Untuk mengakhiri sebuah pernikahan ga perlu dengan sebuah perceraian," ucap Joe dengan senyuman yang terlihat sedikit mengerikan


Rendi pun langsung menatap ke arah Jonathan dengan wajah serius


"Apa maksud lu Joe?"


Jonathan pun mulai menatap ke arah Rendi


"Lu tunggu aja kabar baik dari gw," ucap Joe dengan yakin lalu tersenyum penuh arti


"Gila!! anak ini sudah benar-benar gila!! apa aku harus diam aja dengan semua pikiran kotor yang ada di dalam otak dia saat ini?" batin Rendi


Waktu pun terus berlalu dengan sangat cepat, hari pesta pernikahan Adit dan Rara akhirnya tiba. Pesta tersebut di adakan dengan sangat meriah, Adit melakukan hal tersebut agar seluruh dunia bisa mengetahui seberapa penting seorang Rara di mata Adit


Dirga bersama sang calon istri pun hadir di tempat itu, dan sudah pasti Harun harus menghadiri acara tersebut untuk memberikan ledekan kepada sang sahabat. Adit hanya membalas dengan senyuman kebahagiaan atas semua ledekan Harun di hari itu

__ADS_1


Sudah pasti semua keluarga anggota keluarga Erlangga hadir dan memberikan kata selamat kepada kedua mempelai, sang papa juga menyampaikan sebuah pesan untuk menjaga Rara dengan baik. Sedangkan sang mama terlihat sangat bahagia melihat senyuman kebahagiaan dari bibir Adit pada saat itu


Airin dan sang kakak pun hadir di tempat itu dan lagi-lagi Adit harus mendapatkan sebuah ejekan yang berasal dari Willy, Adit tidak mau ambil pusing dengan itu semua di hari bahagianya. Adit benar-benar merasa bahagia karena kini dia sudah bisa mewujudkan keinginan di dalam hatinya


__ADS_2