Menjadi Istri Kakak Ipar Ku

Menjadi Istri Kakak Ipar Ku
Sakit Karena Kangen


__ADS_3

Adit pun keluar dari dalam kamar tersebut dan menatap ke arah Rara yang masih berdiam diri di tempat yang sama


"Ayo Ra katanya mau ke kamar mandi"


Rara pun mulai keluar dari dalam kamar tersebut dan tanpa sadar langsung menggenggam tangan Adit, Adit benar-benar merasa bahagia setidaknya sudah ada hal baik di antara mereka berdua


Saat Rara melewati orang yang berada di depan kamarnya dia pun sempat melirik ke arah orang yang berada di depan kamarnya, ternyata orang tersebut meletakkan kedua tangannya di telinga dan menutup kedua matanya


"Dia beneran lagi menutup mata dan telinganya, tapi kenapa orang itu bisa nurut sama ucapan mas Adit?" batin Rara


Saat tiba di kamar mandi Rara pun langsung melepaskan tangan Adit


"Ga usah di tungguin mas"


"Ga apa Ra, biar mas Adit tunggu di sini." jawab Adit dengan lembut lalu tersenyum


"Dasar orang aneh," batin Rara sambil mencebik bibirnya


Rara pun segera menyelesaikan semua urusannya di dalam kamar mandi dan saat dia keluar ternyata Adit masih setia di tempat yang sama, Rara pun langsung melangkahkan kakinya ke arah kamar sedangkan Adit hanya bisa mengikuti langkah kaki Rara


Setelah mereka masuk ke dalam kamar Adit pun menutup pintu kamar tersebut, sedangkan Rara memilih untuk mendudukkan tubuhnya di tepi tempat tidur lalu menatap ke arah Adit dengan serius


"Sebenarnya apa mau kamu mas? untuk apa kamu datang ke tempat ini?" tanya Rara dengan tegas


Adit mulai melangkahkan kakinya untuk mendekat dan mendudukkan tubuhnya di atas lantai tepat di hadapan Rara, dia pun meletakkan keningnya tepat di atas lutut Rara


"Mas Adit cuma mau minta kamu untuk pulang Ra"


"Pulang mas? tapi untuk apa kamu minta aku untuk pulang mas? apa kamu sudah lupa kalau kamu sendiri yang minta aku untuk pergi dan menghilang dari pandangan mata kamu mas?" ucap Rara dengan sinis


Adit pun mulai mengangkat wajahnya menatap ke arah Rara dengan mata yang mulai berkaca-kaca


"Apa kamu pikir aku ini cuma barang yang ga memiliki perasaan mas? kamu bisa buang aku kapan pun kamu mau dan kamu ambil aku lagi sesuka hati kamu." lanjut Rara dengan tegas


"Mas Adit minta maaf untuk semua kesalahan mas Adit selama ini sama kamu Ra, mas Adit janji mas Adit ga akan pernah mengulangi semua itu." ucap Adit dengan suara yang bergetar


"Tolong jangan bersikap seperti ini mas, jangan membuat seolah kamu benar-benar membutuhkan aku mas"


Air mata Rara pun mulai mengalir dengan sendirinya mengingat semua yang telah Adit lakukan kepada dirinya, dengan cepat Adit segera bangkit dan memeluk tubuh Rara dengan sangat erat


"Mas Adit minta maaf ya Ra, mas Adit pasti sudah meninggalkan banyak luka di hati kamu. Tapi kamu harus tau kalau mas Adit benar-benar membutuhkan kamu di samping mas Adit Ra," ucap Adit dengan lembut

__ADS_1


Rara hanya bisa terdiam membeku dengan air mata yang terus mengalir


"Tolong kasih mas Adit satu kesempatan untuk membuktikan itu semua Ra, mas Adit janji akan menebus semua kesalahan mas Adit selama ini dan membuat kamu bahagia." lanjut Adit


Rara pun menangis dengan hebat di dalam pelukan hangat seorang Aditya Putra Erlangga


"Pasti kamu bohong kan mas, dulu juga kamu pernah janji sama aku tapi kamu bohong." ucap Rara dengan suara yang terputus-putus tertahan oleh tangisan


Adit pun berlutut tepat di hadapan Rara


"Sekali ini mas Adit mau membawa kamu pulang bukan untuk menjalani kehidupan kita yang seperti kemarin Ra, tapi mas Adit berharap kamu mau menjadi istri mas Adit yang seutuhnya Ra." ucap Adit dengan lembut


Rara menggelengkan kepalanya dengan air yang semakin hebat


"Kamu ga bisa maafin kesalahan mas Adit ya Ra?" tanya Adit dengan lirih


"Aku takut mas"


"Kamu takut apa Ra? apa kamu takut sama mas Adit?"


"Aku cuma takut berharap terlalu banyak sama kamu, aku takut kamu menghancurkan hati aku lagi mas." jawab Rara sambil menundukkan kepalanya


Adit pun tersenyum tipis lalu mencium kening Rara dengan sangat lembut membuat Rara membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna


Rara pun mulai mengangkat wajahnya dan melihat Adit yang sedang tersenyum dengan hangat


"Kita pulang yuk Ra"


"Apa kamu bisa janji sama aku mas?"


"Kamu mau mas Adit janji apa sama kamu Ra?"


"Mas Adit harus janji kalau selamanya mas Adit ga akan pernah meminta aku untuk pergi lagi"


Adit pun mencium kening Rara dengan sangat lembut sekali lagi


"Mas Adit janji sama kamu Ra, bahkan kalau kamu yang pergi dan menghilang mas Adit akan tetap akan menemukan kamu seperti saat ini Ra," jawab Adit dengan yakin


"Kenapa hati aku terlalu mudah untuk menyerah? laki-laki ini sudah menyakiti aku dengan dalam, tapi hati aku luluh dengan mudahnya. Semoga pilihan hati aku saat ini ga adalah pilihan yang tepat," batin Rara


"Kita pulang ya Ra"

__ADS_1


"Kalau begitu sekarang mas Adit keluar dulu dari kamar aku"


Adit pun langsung menatap Rara dengan lekat


"Kenapa mas Adit harus keluar Ra? apa kamu belum bisa memaafkan mas Adit?"


"Katanya mau pulang, aku mau ganti baju mas." jawab Rara dengan tegas


"Terus apa masalahnya? kamu kan is...."


Rara pun langsung menatap Adit dengan tajam


"Astaga!! kenapa aku bisa lupa kalau istri aku yang satu ini masih anak kecil? sebaiknya aku keluar sebelum dia merubah pikirannya," batin Adit


"Ya udah mas Adit tunggu di luar ya, setelah ganti baju kamu bisa langsung keluar Ra, nanti mereka yang akan merapikan barang-barang kamu"


Pada saat itu Adit bisa bernafas dengan lega karena dia sudah berhasil untuk membujuk Rara kembali bersama dirinya, mereka pun segera meninggalkan kita kecil tersebut dan menuju ke ibu kota


Rara yang pada dasarnya belum beristirahat dengan baik mulai di serang oleh rasa kantuk, kepala Rara mulai bergoyang ke arah sana dan sini mengikuti laju mobil tersebut. Adit yang mengetahui hal tersebut langsung menarik kepala Rara secara perlahan dan meletakkan di atas pahanya


"Apa mau saya siapkan bantal pak? perjalanan kita akan memakan waktu cukup lama, kalau seperti itu saya takut kaki bapak akan terasa tidak nyaman"


Adit pun tersenyum tipis sambil menatap ke arah wajah Rara yang terlihat tenang


"Ga perlu, karena mulai saat ini perempuan ini akan menjadi tanggung jawab saya." ucap Adit dengan suara pelan


Adit terus saja menatap ke arah wajah Rara sambil tersenyum tipis


"Mas Adit benar-benar merasa bahagia karena kamu mau memberikan mas Adit kesempatan Ra, mas Adit janji mas Adit akan selalu berusaha untuk membahagiakan kamu." batin Adit


Rara tertidur dengan sangat pulas di atas kaki seorang Aditya Putra Erlangga, sedangkan Adit memerintahkan semua orang untuk tidak mengeluarkan suara agar tidak menggangu tidur Rara


Setelah cukup lama akhirnya Rara terjaga dari tidurnya dengan sendirinya, dia pun langsung mendudukkan tubuhnya dengan sempurna


"Sudah bangun Ra?" tanya Adit dengan lembut


"Maaf mas," jawab Rara dengan wajah bersalah


"Kenapa kamu minta maaf Ra?"


"Aku jadi ketiduran di kaki kamu, apa kaki kamu baik-baik aja mas?"

__ADS_1


Adit pun tersenyum hangat lalu mendekatkan bibirnya di telinga Rara tanda dia ingin membisikkan sesuatu dan dengan polosnya Rara mendekatkan telinganya ke arah Adit


"Kaki aku baik-baik aja Ra, tapi hati aku yang terasa sakit karena terlalu kangen sama kamu." bisik Adit dengan lembut


__ADS_2