
Adit pun hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar
"Kapan Ical tau tentang ini sayang?"
"Waktu kita bertiga pergi ke taman bermain mas, maaf ya mas aku terpaksa menjelaskan tentang hubungan kita ke Ical saat itu." jawab Rara lalu tersenyum
"Kamu kok memihak sama dia sih sayang? yang suami kamu itu aku loh"
Rara hanya bisa menjawab dengan senyuman
"Papa ga boleh salahin mama kecil aku dong pah, yang paksa mama Rara untuk ga bilang sama papa kan aku." protes Haikal dengan polosnya
Mendengar ucapan Haikal membuat Adit langsung menatap ke arah sang buah hati
"Kenapa kamu jadi panggil tante Rara mama kecil sayang?" tanya Adit sambil mengerutkan keningnya
"Soalnya yang ada di sana itu mama aku," jawab Haikal sambil menunjuk ke arah Adel
"Tapi karena tante Rara sudah jadi istri papa jadi aku harus panggil mama juga dong ke tante Rara, tapi Ical sudah minta izin kok ke tante Rara mau panggil tante Rara dengan sebutan mama kecil." lanjut Haikal dengan polosnya
Adit pun tersenyum bahagia saat mendengar penjelasan dari Haikal, hatinya bisa merasa tenang karena sang buah hati bisa menerima keberadaan Rara dengan baik. Tetapi tiba-tiba saja Adit menghilangkan senyuman dari bibirnya dan mulai menatap sang buah hati dengan wajah serius
"Jadi kamu sudah tau kalau sebenarnya tante Rara itu sudah menjadi istri papa?"
Haikal pun menjawab dengan anggukan kepalanya
"Mama Rara pah, bukan tante Rara." protes Haikal
"Ya mama Rara sayang, terus kenapa tadi kamu pakai acara bohong sama papa mau kenalin mama Rara sama om ganteng?" tanya Adit dengan serius
__ADS_1
Haikal pun tertawa dengan lepas
"Kok kamu ketawa sih sayang?"
"Papa kan bohong duluan sama aku jadi aku juga balas bohongin papa dong biar kita jadi impas pah, itu juga hukuman untuk papa yang sudah bohong sama anaknya sendiri." jelas Haikal dengan polosnya
Semua orang yang ada di meja itu pun tertawa melihat kepolosan Haikal pada saat itu, sedangkan Adit langsung memeluk tubuh sang buah hati dengan sangat erat
"Papa minta maaf sama kamu ya sayang, papa bukan berniat untuk bohong sama kamu tapi memikirkan perasaan kamu aja. Papa cuma takut kamu belum siap untuk terima mama yang lain di dalam hidup kamu," ucap Adit dengan lembut
"Aku pasti keberatan kalau yang jadi istri papa perempuan lain, tapi kalau mama Rara aku pasti akan setuju pah." jawab Haikal dengan tulus
Adit pun mencium ujung kepala Haikal dengan lembut
"Terima kasih ya sayang, terima kasih karena kamu sudah menerima Rara dengan baik. Papa tadinya sempat takut kamu akan menolak keberadaan Rara dan menyakiti hati dia," batin Adit
Adit merasakan dirinya mendapatkan sebuah keuntungan yang sangat besar dengan dia menghadiri acara tersebut, semua orang yang berada di meja tersebut terlihat sangat bahagia dengan sikap yang Haikal tunjukkan untuk Rara. Tanpa ada yang menyadari bahwa dari kejauhan Jonathan selalu berusaha untuk mencuri pandang ke arah Rara
Malam pun semakin larut dan para tamu undangan yang hadir di tempat itu mulai membubarkan diri satu persatu, Adit pun tidak ingin lebih lama berada di tempat itu. Karena dia harus menuntut pertanggung jawaban dari istri kecilnya tersebut
Setelah berpamitan kepada kedua mempelai dan sang buah hati Adit langsung membawa Rara kembali ke kediaman mereka, saat itu Adit memilih untuk membersihkan diri lebih dulu dan saat dia keluar dari dalam kamar mandi dia melihat Rara masih belum melepaskan gaun yang dia gunakan
"Kok belum di lepas gaunnya sayang?"
"Aku ga bisa lepasin kancing yang ada di belakang mas"
Ternyata Rara sudah berusaha untuk melepaskan gaun tersebut, tetapi deretan kancing yang berada di belakang gaun tersebut membuat dia kesulitan. Adit pun tersenyum tipis karena kini dia menemukan momen yang pas untuk melakukan pembalasan kepada Rara
"Biar mas bantu"
__ADS_1
Tanpa banyak berpikir Rara langsung bangkit dari duduknya dan berdiri membelakangi tubuh sang suami, Adit pun mulai melepaskan kancing paling atas dan tiba-tiba saja dia mencium tengkuk leher Rara dengan lembut
"Mas..."
"Kenapa sayang?"
"Kamu lagi ngapain sih?"
"Lagi bantu kamu lepasin kancing"
Adit melepaskan kembali kancing yang selanjutnya tetapi lagi-lagi dia melakukan hal yang sama dan terus saja melakukan hal yang sama, nafas Adit bahkan bisa terasa dengan jelas di kulit mulus Rara dan aroma khas dari seorang Aditya Putra Erlangga membuat darah Rara mulai berdesir dengan hebat
Adit pun berhasil melepaskan semua kancing yang berada di belakang gaun Rara dan dia bisa melihat punggung mulus sang istri dengan bebas, Adit tidak menghentikan semua aksinya bahkan dia mencium punggung Rara tanpa ada bagian yang terlewati
"Mas aku mau bersih-bersih dulu"
"Ternyata kamu masih berniat untuk kabur ya sayang? berarti aku harus bekerja lebih keras lagi untuk membuat kamu patuh," batin Adit sambil tersenyum
Adit memeluk tubuh Rara dengan salah satu tangannya dari belakang agar sang istri tidak bisa melarikan diri, Adit terus melancarkan aksinya dan salah satu tangannya mulai bergerilya ke bagian-bagian sensitif sang istri
"Mas..." ucap Rara dengan suara yang terdengar berat
Adit pun tersenyum puas karena kini dia telah yakin bahwa sang istri sudah mulai terpancing dengan apa yang sedang dia lakukan saat itu, dengan cepat Adit langsung memutar tubuh Rara dan mencium bibir sang istri dengan sangat lembut. Rara yang memang sudah terpancing berusaha untuk mengimbangi semua yang dia lakukan Adit pada saat itu
Dengan sangat mudah Adit membuat gaun yang Rara gunakan meluncur dengan bebas dan menampilkan tubuh mulus Rara secara bebas, Adit pun melanjutkan aksinya sambil mengarahkan tubuh Rara menuju ke tempat tidur
Malam itu bukanlah yang pertama bagi mereka berdua melakukan penyatuan, tetapi malam itu Adit mengeluarkan semua yang dia bisa untuk membuat Rara menjadi melayang bebas hingga membuat Rara mencapai pelepasan hingga beberapa kali. Adit melakukan itu semua sebagai bentuk hukuman bagi sang istri kecilnya
Setelah bermain cukup lama Adit pun mulai menjatuhkan tubuhnya yang telah lemas tepat di samping tubuh Rara, dia pun langsung mencium ujung kepala Rara dengan lembut
__ADS_1
"Terima kasih sayang," ucap Adit dengan nafas yang memburu
Adit selalu mengucapkan hal tersebut setelah mereka melakukan penyatuan sebagai bentuk tanda dia menghormati Rara dan Rara pun hanya bisa membenamkan wajahnya ke dada bidang sang suami