Menjadi Istri Kakak Ipar Ku

Menjadi Istri Kakak Ipar Ku
Penjelasan Dari Adit


__ADS_3

Tanpa menunggu jawaban dari Adit terlebih dahulu Rara langsung memutar tubuhnya untuk keluar dari dalam kamar tersebut, sedangkan Adit yang mendapatkan kesadarannya langsung mengejar Rara dan menahan pintu kamar tersebut


"Kenapa lagi mas?" tanya Rara lirih


"Apa maksud ucapan kamu tadi Ra?" tanya Adit dengan tegas


Rara pun mulai menatap ke arah Adit dengan air mata yang mulai mengalir


"Kamu kenapa Ra? kenapa kamu nangis?" tanya Adit dengan cemas dan berusaha untuk menghapus air mata Rara


Rara pun langsung menepis tangan Adit


"Aku cuma mau makan malam sama kamu untuk yang terakhir kalinya, apa itu juga sulit untuk kamu mas?" tanya Rara lirih


"Mas Adit bukan bahas tentang makan Ra, mas tanya apa maksud kamu dengan yang terakhir kalinya?"


"Karena aku rasa sudah ga ada gunanya aku ada di sini mas, aku ga mau lagi melanjutkan ini semua." ucap Rara lalu tersenyum getir


Hati Adit sudah tidak menentu mendengar ucapan Rara yang seperti itu, dia pun memegang salah satu tangan Rara dengan erat


"Kamu sebenarnya kenapa sih Ra? kalau ada masalah kita bicarakan semuanya baik-baik tapi jangan dengan cara seperti ini, apa mas Adit ada salah sama kamu? apa karena mas Adit pulang terlambat?"


Saat itu wajah Adit sudah panik bukan main, sedangkan Rara hanya bisa terdiam dengan air mata yang semakin hebat


"Kamu dengerin dulu penjelasan mas Adit ya Ra, mas Adit bukannya sengaja mau pulang terlambat tapi tadi lagi banyak kerjaan. Kamu harus belajar untuk mengerti posisi mas Adit dong Ra," ucap Adit dengan serius


Rara pun tersenyum sinis


"Ini bukan masalah kamu pulang terlambat mas tapi aku ga mau menjadi istri pajangan di rumah mewah kamu ini," ucap Rara lirih


"Apa maksud Rara yang sebenernya? istri pajangan apa? aku bisa gila sendiri kalau begini!!" batin Adit sambil mengerutkan keningnya


Rara berusaha untuk menarik tangannya tetapi hasilnya sia-sia karena Adit semakin mengeratkan genggaman tangannya

__ADS_1


"Maksud kamu apa sih Ra? mas Adit benar-benar ga ngerti sama maksud kamu Ra, kamu jelasin dulu ke mas Adit apa yang membuat kamu marah?"


Rara pun menatap ke arah Adit dengan tajam


"Untuk apa lagi aku ada di sini mas? kalau kamu ga memperlakukan aku sebagai seorang istri yang seutuhnya," jawab Rara dengan sinis


Adit hanya bisa terdiam sambil mengerutkan keningnya dia sedang berusaha untuk mencerna semua ucapan Rara, dengan cepat Rara melepaskan tangannya dari genggaman tangan Adit


"Atau jangan-jangan kamu belum bisa melupakan mbak Adel sepenuhnya ya mas? itu juga alasan kamu ga bisa melakukan itu sama aku." lanjut Rara dengan lirih


"Kenapa Rara bilang aku ga bisa melupakan Adel? atau jangan-jangan dia marah karena sampai saat ini aku belum sentuh dia sama sekali?" batin Adit


Hati Adit menjadi berbunga-bunga setelah mengetahui apa yang ada di dalam benak Rara pada saat itu, sedangkan Rara yang sedang di bakar cemburu tidak jelas semakin merasa kecewa melihat Adit yang tersenyum


"Kenapa kamu senyum mas? apa senyuman kamu itu untuk mengakui kalau ucapan aku benar mas?" batin Rara sambil tersenyum getir


Pada saat itu hati Rara benar-benar terasa sakit walaupun sudah pasti itu hanya ada di dalam pikirannya sendiri, dia pun memutar tubuhnya untuk keluar dari dalam kamar tersebut


"Kamu mau pergi kemana sih sayang?" tanya Adit dengan lembut


Rara yang sudah benar-benar merasa kecewa mencoba melepaskan tangannya dan hasilnya hanya sia-sia karena Adit tidak mau melepaskan tangan Rara


"Lepasin tangan aku mas!!" teriak Rara sambil menatap tajam


Adit pun tersenyum hangat dan yang Adit lakukan saat itu adalah menarik tangan Rara, perbuatan Adit saat itu membuat tubuh Rara masuk ke dalam pelukannya. Rara yang merasa tidak terima berusaha untuk meronta tetapi Adit semakin mengeratkan pelukannya


"Kamu ngapain sih mas?!!"


Adit hanya tersenyum bahagia melihat semua amarah Rara yang meluap-luap, dia kini telah merasa yakin bahwa Rara sudah siap untuk menjalankan tugasnya sebagai seorang istri


"Lepasin mas!!" teriak Rara


Adit pun mencium ujung kepala Rara dengan lembut

__ADS_1


"Dari mana sih datangnya semua pemikiran kamu itu Ra? apa kamu pikir setiap malam mas Adit ga merasa tersiksa menahan diri untuk ga menyentuh kamu?"


Mendengar penjelasan dari Adit yang penuh keyakinan membuat Rara mulai melemah dan berhenti untuk meronta


"Kalau kamu pikir mas Adit ga menyentuh kamu karena mas Adit belum bisa melupakan Adel kamu sudah salah besar Ra, mas Adit bukan ga mau menyentuh kamu tapi mas Adit sedang menunggu kamu sampai kamu merasa siap." lanjut Adit dengan lembut


"Apa semua ucapan kamu itu benar mas?" batin Rara


"Kamu pasti bohong supaya aku jadi tenang aja kan mas, buktinya tadi kamu keberatan waktu lihat aku pakai baju itu"


Adit mulai melepaskan pelukannya dan memegang kedua pipi Rara agar tatapan mata mereka bisa saling bertemu


"Mas Adit ga bohong sama kamu sayang, mas Adit bukan merasa keberatan tapi mas Adit takut ga bisa menahan diri kalau kamu pakai baju seperti itu. Melihat kamu pakai baju tidur biasa aja mas Adit merasa tersiksa, apalagi dengan penampilan kamu seperti tadi sayang." ucap Adit dengan lembut


Pada saat itu Rara hanya bisa terdiam karena dia merasa bingung harus mempercayai ucapan Adit atau tidak


"Jadi apa kamu benar-benar sudah siap untuk menjadi seorang istri yang seutuhnya Ra? apa kamu ga akan merasa takut kalau mas Adit melakukan itu?" tanya Adit dengan lembut


Rara yang merasa terjebak sendiri oleh ulahnya mencoba untuk melarikan diri dari dalam kamar tersebut, hatinya benar-benar merasa malu karena dia menuntut untuk di sentuh oleh Adit. Dengan cepat Adit langsung memeluk tubuh Rara dari belakang


"Kamu mau pergi ke mana sih sayang?" ucap Adit dengan suara menggoda


"Mau makan malam mas," jawab Rara dengan cepat


"Gimana kalau sebelum kita makan malam? kamu kasih ijin mas untuk makan kamu dulu sayang." bisik Adit lalu mencium telinga Rara dengan lembut


Aroma mint dari tubuh Adit bisa tercium dengan jelas oleh Rara bahkan hembusan nafas Adit bisa terasa dengan jelas di kulit Rara saat itu, ada sebuah desiran yang sangat hebat melalui aliran darah Rara pada saat itu


"Mas... Itu.. Apa namanya.. Aku.."


Adit pun tersenyum puas melihat kegugupan Rara pada saat itu, dengan lembut Adit mulai memutar tubuh Rara hingga merasa saling berhadapan


"Apa kamu kasih ijin mas Adit untuk meminta hak mas sebagai seorang suami Ra?" tanya Adit dengan lembut

__ADS_1


__ADS_2