Menjadi Istri Kakak Ipar Ku

Menjadi Istri Kakak Ipar Ku
Mulai Ragu


__ADS_3

Lagi-lagi Adit di buat termenung memikirkan semua tentang Rara


"Kenapa lagi?"


"Kenapa lu bisa yakin kalau dia anak baik? lu aja baru kemarin ketemu dia," tanya Adit sambil menatap serius ke arah Harun


Harun pun tersenyum tipis


"Karena ga perlu waktu yang lama untuk kita mengetahui seseorang itu baik atau ga Dit"


"Lu tinggal kasih tau aja ke gw, kenapa lu bisa berpikiran seperti itu?"


"Apa lu masih ingat waktu lu menikah sama dia lu sempat membahas masalah rumah sama mantan istri lu?"


Adit pun menjawab dengan anggukan kepalanya


"Waktu lu jawab kalau rumah itu untuk anak lu gw sempat lihat dia senyum, dan gw yakin senyuman dia saat itu benar-benar tulus." ucap Harun dengan yakin


"Ada satu lagi alasan gw yakin kalau dia anak baik," lanjut Harun


"Apa?"


"Waktu kemarin gw kasih lu peringatan, dia minta gw untuk pergi dan ga melawan lu. Dari yang gw lihat dia cuma khawatir dengan posisi gw sebagai anak buah lu"


"Ini benar-benar bikin pusing!! dengan semua sikap yang Rara tunjukkan rasanya mustahil kalau anak seperti Rara punya pemikiran picik, tapi bagaimana dengan bukti-bukti yang ada? sebenarnya di bagian mana yang salah?" ucap Adit di dalam hatinya


Sudah mulai muncul banyak pertanyaan di dalam benak Adit pada saat itu, tetapi dia juga tidak bisa berbuat banyak. Karena tidak ada satupun bukti yang bisa menunjukkan bahwa Rara tidak bersalah, tetapi hati kecilnya benar-benar sudah berteriak mengingatkan dirinya bahwa ada sebuah kesalahan besar dalam kejadian itu


"Lu lagi mikirin tentang anak itu ya?" tanya Harun dengan santai

__ADS_1


"Sebelum lu cerita tentang tadi sebenarnya gw sudah mulai ragu anak itu terlibat, tapi gw juga bingung harus bagaimana?"


"Ga perlu terlalu di pikirin Dit, yang penting lu belajar untuk ga bersikap terlalu berlebihan ke anak itu. Jangan sampai nanti lu merasa bersalah sama anak itu"


Di saat Adit mulai merasa sedikit ragu tentang peran Rara di malam itu, di tempat yang berbeda sang mantan istri baru saja terbangun dari tidurnya dengan kepala yang masih terasa berat. Adel yang melihat barang-barang yang ada di sekitarnya langsung menyadari bahwa saat itu dirinya tidak berada di dalam kamarnya


"Aku ada di mana sekarang? aduh kenapa kepala aku berat begini rasanya?"


Adel pun langsung membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna karena merasa terkejut, dia terkejut saat menyadari bahwa ada sebuah tangan yang kekar sedang memeluk tubuhnya


"Tangan siapa ini? kenapa dia bisa peluk aku? ga mungkin kalau ini tangan mas Adit"


Adel pun semakin merasa terkejut saat menyadari bahwa saat itu tubuhnya benar-benar dalam keadaan polos tanpa ada sehelai benang pun menutupi tubuhnya


"Gila ini benar-benar gila!! apa yang sebenarnya terjadi tadi malam?"


Adel berusaha memutar tubuhnya secara perlahan untuk memastikan tangan siapa yang sedang memeluk tubuhnya, Adel pun merasa semakin terkejut karena ternyata tangan yang sedang memeluk tubuhnya adalah tangan Jonathan Perkasa


Adel pun berusaha dengan keras untuk mengingat kembali apa saja yang telah dia lakukan pada malam itu, kepingan demi kepingan ingatan pun mulai hadir di dalam pikiran Adel. Wajah Adel pun mulai berubah menjadi pucat saat dia telah berhasil mengingat semuanya, karena dia tau bahwa dia telah melakukan sebuah kesalahan yang besar


Pada saat itu Adel boleh saja tidak berstatus sebagai seorang istri karena dia memang sudah resmi bercerai, tetap saja hal tersebut tidak bisa membuat apa yang sudah Adel lakukan menjadi benar


"Kamu benar-benar sudah gila Adel!! kamu mengutuk perbuatan mas Adri dan Rara, tapi sekarang kamu melakukan hal yang sama dengan mereka!! kamu benar-benar sudah gila Adel!!"


Adel yang merasa terpukul akan kejadian tersebut hanya bisa memaki dirinya sendiri


"Apa yang harus aku lakukan saat ini?"


Adel berusaha untuk mengatur emosinya terlebih dahulu agar dia bisa berpikir lebih jernih untuk menyelesaikan masalah yang ada di depan matanya

__ADS_1


"Yang terpenting saat ini adalah aku harus segera pergi dari tempat ini, aku harus segera menghilang sebelum laki-laki ini terbangun. Nanti untuk ke depannya aku tinggal mencari alasan untuk menghindari dia"


Adel pun berusaha untuk memastikan terlebih dahulu bahwa laki-laki yang berada di sampingnya masih dalam keadaan tertidur, di pun bisa bernafas sedikit lega karena saat itu Jonathan seperti sedang tertidur dengan pulas


"Bagus!! sekarang saatnya aku meninggalkan tempat ini sebelum laki-laki ini terbangun"


Adel pun mulai berusaha untuk memindahkan tangan kekar yang berada di atas tubuhnya dengan sangat perlahan, tetapi belum sempat dia berhasil melakukan hal tersebut tangan kekar tersebut menarik tubuh Adel semakin masuk ke dalam pelukannya


"Kamu mau pergi kemana sih sayang?" bisik Joe dengan lembut


"Sial!! ternyata laki-laki ini sudah terbangun!! sabar Adel kamu harus bisa sabar, kamu harus ingat kalau orang ini adalah investor di proyek besar yang sedang kamu pegang." ucap Adel di dalam hatinya


"Sepertinya sekarang sudah pagi pak, jadi saya harus segera pulang ke rumah"


Adel berusaha sekali lagi untuk melepaskan tubuhnya dari pelukan laki-laki tersebut, tetapi hasilnya hanya sia-sia karena laki-laki tersebut semakin mengeratkan pelukannya


"Ya aku tau kalau ini sudah pagi, tapi masih terlalu pagi untuk bangun sayang," bisik Jonathan lalu mencium telinga Adel dengan sangat lembut


Dan bodohnya karena ciuman Jonathan pada saat itu Adel merasakan sebuah desiran yang sangat kuat melalui aliran darahnya


"Sial!! kenapa aku jadi merasakan itu? kamu harus sadar Adel!! keadaan kalian saat ini bisa dengan mudah mengulang kesalahan itu lagi!!"


Adel pun berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan tangan Jonathan yang sedang memeluk tubuh polosnya dengan erat


"Tolong lepasin saya pak, saya harus pulang sekarang juga." ucap Adel dengan tegas


Adel melakukan sebuah kesalahan besar pada pagi itu, karena penolakan keras yang dia lakukan membuat jiwa seorang Jonathan merasa tertantang untuk benar-benar menaklukkan Adel


Jonathan pun langsung melepaskan pelukannya tetapi dia langsung bangkit dan membuat tubuhnya berada tepat di atas tubuh polos Adel, dia menggunakan kedua tangan dan kakinya untuk menopang berat tubuhnya. Adel pun langsung membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna

__ADS_1


"Laki-laki ini benar-benar sudah gila!!" ucap Adel di dalam hatinya


Pada saat itu Adel sudah yakin bahwa dia tidak mungkin bisa terlepas dari laki-laki tersebut dengan mudah


__ADS_2