
"Aku ga pernah menyangka kalau kamu ternyata perempuan yang berhati keras Del," ucap Adit dengan sinis
"Setidaknya aku tidak akan pernah melakukan hal menjijikan seperti yang kalian lakukan mas," jawab Adel dengan tegas
"Terserah kamu aja Del, jadi apa rencana kamu saat ini?"
"Secepatnya aku akan cari rumah dan membawa Ical keluar dari rumah itu, bagaimana pun juga itu adalah rumah kamu mas"
Adit pun membuang nafasnya dengan kasar untuk mengurangi gejolak yang sedang dia rasakan, lalu menatap ke arah Adel dengan serius
"Kamu dan Ical ga perlu keluar dari rumah itu, biar aku yang keluar dari rumah itu untuk selamanya." ucap Adit dengan tegas
"Tapi rumah itu rumah kamu mas, kamu membeli rumah itu memakai uang pribadi kamu sendiri. Untuk membeli rumah itu ga memakai uang aku sepeser pun"
"Apa kamu harus membahas sampai sejauh itu Del?" tanya Adit sambil mengerutkan keningnya
"Aku cuma ga mau di kemudian hari kamu akan datang seenaknya ke rumah itu, karena kamu merasa kalau itu adalah rumah kamu." jawab Adel dengan tegas
Lagi-lagi Adit membuang nafasnya dengan kasar
"Aku ga sangka ternyata pikiran kamu bisa picik begini Del!!"
"Aku janji ga akan pernah masuk ke dalam rumah itu tanpa seijin kamu, rumah itu aku berikan kepada Ical karena Ical juga anak aku. Dia berhak untuk mendapatkan semua yang terbaik yang aku punya saat ini," ucap Adit dengan tegas
Tiba-tiba saja Adel menampilkan sebuah senyuman yang terlihat sinis
"Apa kamu yakin mau melakukan itu mas? lalu bagaimana dengan istri baru kamu?"
"Aku akan membawa Rara tinggal di apartemen aku, lagi pula kalau kamu tiba-tiba membawa Ical pindah dari rumah itu dia pasti curiga. Bukannya kita sudah sepakat?"
__ADS_1
"Kamu dengar sendiri ya Ra, bukan mbak ga mau menyerahkan rumah itu untuk kalian. Tapi mas Adit yang menyerahkan rumah itu untuk Ical," ucap Adel dengan suara yang terdengar sedikit sombong
Ternyata sedari tadi Rara dan yang lainnya sudah berada tak jauh dari mereka, tetapi Rara dan yang lainnya tetap terdiam di tempat yang sama karena melihat mereka sedang berbincang dengan serius. Sedangkan Adit yang baru saja mengetahui bahwa Rara berada di dekatnya seolah tidak mau perduli
"Oke, aku akan melakukan sesuai keinginan kamu mas"
Adel pun segera pergi meninggalkan tempat itu, sedangkan Dirga langsung menatap ke arah Rara
"Kamu tunggu sebentar di sini ya, biar mas Dirga ngomong sebentar sama mas Adit"
Rara pun hanya menjawab dengan anggukan kepalanya dan Dirga langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah Adit, saat itu Dirga merasa harus melepaskan Rara ke tangan Adit dengan cara yang baik
"Aku titip Rara ya mas"
Adit hanya terdiam dengan wajah datar seolah tidak perduli dengan ucapan Dirga pada saat itu
"Aku tau kamu menikah sama Rara karena keadaan mas, tapi aku tetap berharap kamu bisa menghargai Rara dengan baik. Kalau kamu memang ga bisa menjaga dia dengan baik kamu bisa kembalikan Rara kapan pun sama aku mas, sebagai seorang kakak aku akan selalu menerima Rara dengan tangan terbuka"
"Apapun yang sudah terjadi tetap saja sekarang kamu sudah menjadi seorang istri Ra, kamu harus berusaha untuk menjalankan kewajiban kamu sebagai seorang istri dengan baik ya." ucap Dirga sambil tersenyum hangat
Rara hanya bisa menjawab dengan anggukan kepalanya dan air mata yang mulai menetes, Dirga pun langsung memeluk tubuh Rara dengan sangat erat
"Mas Dirga akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu Ra, dan kalau ada masalah apapun jangan pernah ragu untuk cerita sama mas. Kamu akan selalu menjadi adik kesayangan mas Dirga," bisik Dirga dengan lembut
Setelah merasa cukup untuk memberikan nasihat kepada Rara Dirga pun melepaskan Rara kepada laki-laki yang kini telah menjadi suaminya, Adit pun langsung membawa Rara ke apartemen miliknya. Sebuah tempat yang membuat pernikahan tersebut bisa terjadi
Di sepanjang perjalanan hanya ada keheningan di antara mereka bertiga, hanya sesekali Adit berbincang dengan asisten pribadinya mengenai masalah pekerjaan. Rara bagaikan seseorang yang tidak di anggap keberadaan oleh Adit pada saat itu
"Apa aku sama sekali ga terlihat ada di antara mereka? kalau saat ini aja sudah seperti ini, bagaimana aku menjalani hari-hari aku selanjutnya berdua sama mas Adit?" ucap Rara di dalam hatinya
__ADS_1
Siap ataupun tidak kini Rara harus mulai menjalani hidup bersama laki-laki yang tidak mencintai dirinya sama sekali, tapi apa daya karena kini Rara tetap harus menjalani itu semua. Rara harus melakukan itu semua untuk menebus kesalahan yang tidak lakukan sama sekali
Saat tiba di lobby apartemen asisten pribadi Adit sudah bersiap untuk membantu membawakan barang-barang milik Rara, Adit yang menyadari hal tersebut langsung membuka suara
"Ga perlu di bantu karena dia bisa sendiri," ucap Adit dengan tegas
Asisten pribadi Adit menatap ke arah Rara dengan tatapan mata merasa sedikit bersalah, tetapi yang Rara lakukan pada saat itu adalah memberikan sebuah senyuman yang terlihat tulus
"Aku bawa sendiri aja, terima kasih ya." ucap Rara dengan tulus
"Kamu bisa pulang sekarang, besok pagi tolong jemput saya karena tadi saya tinggal mobil saya di kantor"
"Baik pak"
Tetapi entah mengapa pada saat itu asisten pribadi Adit menatap Adit dengan tatapan mata yang tajam, orang itu seolah sedang memberi peringatan kepada Adit. Sedangkan Rara yang berpikir bahwa orang tersebut melakukan hal itu karena dia langsung memegang lengan orang tersebut
"Saya baik-baik aja pak, sebaiknya bapak pulang aja. Ga baik untuk bapak kalau bapak membuat atasan bapak tersinggung," ucap Rara dengan suara pelan
"Baik bu," dengan sopan lalu tersenyum
Adit yang merasa sedikit jengkel melihat hal tersebut langsung melangkahkan kakinya
"Sekali lagi saya ucapkan terima kasih ya pak," ucap Rara dengan tulus lalu tersenyum
Rara pun segera menyusul langkah kaki Adit, sedangkan asisten pribadi Adit menatap punggung mereka berdua dengan senyuman yang penuh arti
"Mungkin kamu belum sadar Dit, tapi saya merasa kalau perempuan ini adalah perempuan baik. Dan saya berharap semoga hidup kamu akan menjadi lebih baik bersama dia," batin asisten pribadi Adit
Pada awalnya Adit tidak menyadari Rara merasa sedikit kesulitan saat mengikuti langkah kaki Adit, tetapi saat Adit menyadari bahwa Rara sudah tertinggal sedikit jauh dia pun mulai melambatkan langkah kakinya
__ADS_1
"Sial..!! jalan aja lama banget sih anak ini!! apa ga ada hal lain yang bisa dia lakukan selain merepotkan hidup aku?" gerutu Adit di dalam hatinya
Adit dulu pernah menganggap Rara bagaikan adik kandungnya sendiri, tetapi kini hati Adit benar-benar telah berubah karena dia selalu merasa jengkel hanya dengan melihat wajah Rara