
Pada saat itu Rara memiliki pemikirannya sendiri mendengar jawaban dari Adit, dia pun menatap Adit dengan tatapan mata yang terlihat sedikit bersedih
"Apa setelah itu mas Adit mau minta aku pergi untuk selamanya? apa itu juga alasan mas Adit bersikap berlebihan dari tadi?" tanya Rara di dalam hatinya
"Maksud kamu apa sih mas?" tanya Rara lirih
Adit pun tersenyum hangat lalu meletakkan tangannya di ujung kepala Rara dengan lembut
"Karena mulai besok akan ada yang urus untuk makan kita berdua Ra, jadi kamu ga perlu lagi bangun terlalu pagi untuk siapin sarapan atau repot untuk makan malam kita," jawab Adit dengan lembut
Rara hanya bisa terdiam seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar, tetapi ternyata semua tidak berhenti sampai di situ karena Adit kembali membuka suara
"Kalau aku mau sewa orang untuk bersih-bersih di apartemen kita, kamu keberatan ga Ra? masa Adit belum berani ambil keputusan untuk yang satu itu, mas takutnya kamu merasa ga nyaman kalau ada orang lain di apartemen kita"
"Sebenarnya buat apa sih mas? aku masih bisa kok kerjain itu semua," ucap Rara dengan tegas
"Karena kamu istri aku Ra, aku kasihan juga lihat kamu sibuk terus di apartemen kita. Lebih baik kamu fokus sama kuliah kamu aja Ra"
"Sebenarnya apa tujuan kamu yang sebenarnya mas? aku baru sadar kalau dari tadi kamu selalu menggunakan kata apartemen kita dan istri." ucap Rara di dalam hatinya sambil menatap ke arah Adit dengan tatapan mata yang sulit untuk di artikan
"Kenapa Ra? apa ada masalah?"
"Kita menikah sudah mau satu bulan mas, kenapa baru sekarang kamu bilang kasihan lihat aku repot masak atau bersih-bersih? bukannya kamu sendiri yang minta aku mengerjakan itu semua mas," ucap Rara dengan tegas
"Karena baru sekarang mas Adit berniat untuk mengejar kamu tanpa mengingat semua yang sudah terjadi di masa lalu, mas Adit saat ini hanya menunggu kamu benar-benar siap untuk memulai semuanya Ra." ucap Adit di dalam hatinya sambil tersenyum
"Kenapa mas? apa kamu ga bisa jawab? kalau kamu ga bisa jawab aku minta ga usah melakukan hal yang aneh-aneh mas," ucap Rara dengan tegas
__ADS_1
Rara sudah mulai mengambil kembali bahan makanan yang sempat di kembalikan oleh Adit, tapi lagi-lagi Adit mengeluarkan kembali bahan makanan tersebut. Rara pun langsung menatap tajam ke arah Adit sambil mengerutkan keningnya
"Kenapa lagi sih mas?"
"Kamu kasih tau dulu ke mas Adit alasan kamu menolak tawaran dari mas Adit?" tanya Adit dengan tegas
"Ga ada alasan yang spesial mas, karena aku masih bisa kerjain itu semua." jawab Rara dengan yakin
"Tapi mas Adit ga suka lihat kamu mengerjakan itu semua Ra, tadi kamu tanya kenapa baru sekarang mas Adit melakukan ini semua? jawabannya cuma satu Ra, karena mas Adit mau menjalankan peran mas Adit sebagai seorang suami dengan baik." ucap Adit dengan yakin
"Tapi mas..."
"Oke, mas Adit ga akan sewa orang untuk bersih-bersih di apartemen kita. Tapi mas Adit ga mau lagi masih lihat kamu sibuk masak, gimana?"
Rara pun terlihat terdiam menerima serangan Adit yang bertubi-tubi pada hari itu, sedangkan Adit tersenyum hangat lalu meletakkan tangannya di ujung kepala Rara
"Kamu ga usah pikirin masalah apapun ya Ra, mas Adit cuma minta supaya kamu lebih fokus sama kuliah kamu aja." lanjut Adit dengan lembut
Rara hanya bisa menyerah dengan keputusan akhir yang Adit ambil pada saat itu, acara berbelanja mereka pun berakhir dengan membeli semua keperluan rumah tanpa membeli bahan-bahan makanan
"Sudah semua Ra?"
"Sepertinya udah semua mas"
"Ya udah kita bayar dulu ya"
Rara pun mengangguk dan mereka langsung melangkahkan kakinya menuju ke arah meja kasir, dengan cepat Rara bersiap untuk mengeluarkan kartu yang pernah Adit berikan. Tetapi tiba-tiba Adit menyodorkan kartu miliknya kepada sang kasir
__ADS_1
"Kok kamu yang bayar mas? kartu yang untuk belanja keperluan rumah ada di aku mas," ucap Rara dengan polosnya sambil menatap ke arah Adit
"Ya ampun Ra kamu polos banget sih, kalau begini mas Adit takut ga bisa menahan diri sama kamu Ra." ucap Adit di dalam hatinya
"Tapi kan sekarang kamu lagi jalan sama mas Adit Ra, masa kamu yang bayar"
"Tapi itu kan kartu kamu mas, berarti kan kamu yang bayar mas bukan aku." jawab Rara dengan polosnya
Ingin sekali rasanya Adit memeluk tubuh Rara dengan sangat erat karena dia benar-benar merasa gemas melihat istri kecilnya tersebut
"Tapi orang-orang ga tau kalau kartu yang sama kamu dari mas Adit Ra, coba bayangin pandangan orang-orang kalau melihat itu? orang-orang pasti akan berpikiran kalau mas Adit menumpang hidup sama kamu dong," jelas Adit dengan lembut
"Aduh maaf mas, aku ga kepikiran sampai sejauh itu." ucap Rara dengan wajah bersalah
"Kamu ga perlu minta maaf Ra, dengan sikap kamu yang seperti itu membuat mas Adit semakin yakin untuk memperjuangkan kamu." ucap Adit di dalam hatinya sambil tersenyum
Semua barang belanjaan mereka telah di masukkan ke kantongnya masing-masing, Adit pun langsung mengambil semua kantong belanjaan yang terlihat besar dan berat. Adit hanya menyisakan dua kantong belanjaan yang terlihat ringan
"Biar aku bantu bawain mas," ucap Rara dengan cepat
"Ga usah Ra, mas Adit bisa kok. Sudah tugas laki-laki untuk menanggung beban yang lebih berat, kamu bisa bawa yang itu kan?" jawab Adit dengan lembut
Pada saat itu Rara hanya bisa menjawab dengan anggukan kepalanya, tetapi dia sudah tidak bisa lagi memungkiri bahwa debaran di dalam hatinya semakin terasa hebat
"Tolong mas, tolong jangan selalu bersikap seperti ini sama aku. Jangan buat aku benar-benar jatuh hati sama kamu mas, saat nanti kamu mendapatkan pengganti mbak Adel bagaimana dengan hati aku mas?" ucap Rara di dalam hatinya
Dengan mudahnya seorang Aditya Putra Erlangga berhasil mencuri hati sang istri kecilnya, tetapi Adit bertekad untuk memulai semuanya secara perlahan. Adit hanya ingin memiliki hati Rara seutuhnya sebelum mereka benar-benar menjalani kehidupan sebagai pasangan suami istri yang sesungguhnya
__ADS_1
Di sepanjang perjalanan pulang Rara tidak memiliki keberanian untuk menatap wajah Adit terlalu lama, karena debaran di dalam hatinya selalu datang setiap dia melakukan hal tersebut
Sedangkan Adit selalu menemukan bahan untuk memulai percakapan sehingga Rara harus menatap ke arah dirinya, dan Adit pun bisa bernafas dengan lega karena merasa Rara sudah mulai ada hati untuk dirinya