
Adit pun membuang nafasnya dengan kasar
"Sepertinya gw udah gagal sebelum berjuang," ucap Adit lirih
Harun pun melirik sekilas ke arah Adit lalu tersenyum tipis
"Maksud lu gimana Dit?"
"Kemarin gw udah buat keputusan untuk coba buka lembaran baru sama anak itu, tapi ternyata dia cuma anggap gw sebagai kakak. Lu tau? dia bilang dia lihat gw seperti Dirga kakak kandung dia, coba lu bayangin kalau lu jadi gw." ucap Adit dengan nada suara sedikit sinis
Harun pun mulai tertawa geli mendengar hal tersebut dan berhasil membuat Adit langsung menatap ke arah dirinya dengan tajam
"Apa menurut lu penolakan dari Rara sesuatu yang lucu?" tanya Adit penuh penekanan
"Bukan penolakan dari anak itu yang bikin gw ketawa Dit," jawab Harun dengan santai
"Jadi apa yang bikin lu ketawa?"
"Ya lu lah Dit yang bikin gw ketawa"
"Gw? memang apa yang lucu dari gw sampai lu bisa ketawa geli begitu?" tanya Adit dengan tegas
"Gw tanya dulu sama lu, lu bilang secara jelas apa ga sama dia kalau lu berniat membuka lembaran baru sama dia?" ucap Harun dengan serius
Adit pun hanya bisa terdiam dan Harun pun langsung tersenyum tipis karena diamnya Adit sudah memberikan dia sebuah jawaban
"Pertama di awal hubungan kalian ga ada kata damai buat anak itu, kedua lu ga bilang secara jelas sama anak itu. Yang bikin gw bingung, otak pintar lu di simpan di mana Dit? kenapa lu bisa berharap banyak sama dia kalau belum ada kata baik di hubungan kalian berdua?" ucap Harun dengan tegas
"Jadi gw harus gimana dong?" tanya Adit dengan polosnya
"Lu kan udah pernah nikah Dit, kalau lu lagi ada selisih paham sama mantan istri lu itu. Apa yang lu lakuin setelah itu?"
"Betul juga ya, perbuatan aku kemarin ke Rara bisa di bilang sedikit berlebihan. Ga ada salahnya aku coba untuk dekati dia pelan-pelan dulu," ucap Adit di dalam hatinya lalu tersenyum tipis
"Sudah paham Dit?"
Adit tersenyum sambil memberikan kedua ibu jari tangannya di hadapan Harun dan Harun pun tersenyum tipis
__ADS_1
"Gw ga tau harus bilang lu itu orang pintar atau orang bodoh Dit? kalau masalah pekerjaan bagi gw lu itu memang ga ada duanya, tapi kalau urusan perasaan dari dulu lu selalu terlihat bodoh di mata gw." ucap Harun di dalam hatinya
Adit yang sudah bertekad untuk mendekati Rara secara perlahan memutuskan untuk pulang lebih awal pada hari itu
"Aku pulang"
"Ya mas," jawab Rara yang masih sibuk memasak
Adit pun mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah Rara
Kasihan juga lihat dia harus masak setiap hari cuma untuk makan aku, belum lagi dia masih bersih-bersih di tempat ini." ucap Adit di dalam hatinya
"Belum selesai ya Ra?" tanya Adit dengan lembut
"Sebentar lagi matang kok mas, tumben kamu pulang lebih cepat mas?"
"Tadi udah ga ada kerjaan Ra jadi ya mas Adit pilih pulang aja"
"Oh, sebentar lagi matang ya mas"
"Ya udah mas Adit ke kamar dulu ya, mas Adit mau ganti baju dulu Ra"
Adit pun mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamarnya dan akhirnya Rara pun mulai menyadari sesuatu
"Mas Adit memang bilang mau merubah sikap dia, tapi apa ini ga sedikit berlebihan ya? masa mau masuk ke kamar untuk ganti baju dia ngomong sama aku," gumam Rara
Aditya Putra Erlangga memang sudah memutuskan untuk mendapatkan hati Rara, tetapi Rara pada saat itu masih belum menyadari bahwa hatinya sudah terpaut oleh Adit sebelum laki-laki tersebut menunjukkan perubahan sikapnya yang sangat drastis
Adit yang sudah berganti pakaian langsung keluar dari dalam kamarnya, dia pun melangkahkan kakinya menuju ke arah dapur dan mengambil air putih yang berada di lemari es
"Ini sih namanya kesempatan yang datang dengan sendirinya," ucap Adit di dalam hatinya sambil tersenyum tipis
Adit yang tidak mau membuat Rara curiga pun mendudukkan tubuhnya di ruang tamu, dan saat jam makan malam tiba mereka pun mulai menyantap makanan yang telah Rara siapkan. Lalu tiba-tiba saja Adit mulai menatap ke arah Rara dengan serius
"Ra boleh request sesuatu untuk sarapan besok ga?"
"Memang kamu mau makan apa mas?" tanya Rara dengan polosnya
__ADS_1
"Aku pengen makan nasi goreng Ra"
"Oh ya udah mas, nanti pagi aku bikin nasi goreng untuk sarapan ya"
Adit hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum penuh kemenangan, selesai makan malam Rara pun memeriksa lemari es untuk memastikan bahan-bahan untuk membuat nasi goreng di pagi hari. Dan dia baru menyadari bahwa persediaan telur di tempat itu telah habis
"Mas Adit kan paling suka makan nasi goreng yang telurnya agak banyak, berarti aku harus belanja sekarang." ucap Rara di dalam hati sambil memasang wajah malas
Rara pun membuang nafasnya dengan kasar dan mulai melangkahkan kakinya ke arah Adit, sedangkan Adit memang sengaja mendudukkan tubuhnya di ruang tamu untuk menunggu kehadiran Rara
"Aku mau keluar sebentar ya mas"
"Kamu mau ke mana Ra?" tanya Adit berpura-pura
"Aku mau beli telur mas, sekalian aja aku belanja kebutuhan yang lain"
"Ya"
Rara pun langsung menuju ke arah kamarnya untuk bersiap, sedangkan Adit dengan cepat langsung masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil kunci mobilnya dan segera keluar dari dalam kamarnya
Adit yang tidak ingin kecolongan lagi seperti sebelumnya langsung menunggu Rara tepat di depan kamarnya, saat Rara keluar dari dalam kamarnya dia pun merasa sedikit bingung melihat Adit berada di sana
"Kamu lagi ngapain mas?" tanya Rara dengan polosnya
"Mas Adit lagi tungguin kamu Ra"
"Apa mas Adit mau titip sesuatu mas? biar nanti aku beliin sekalian"
"Astaga!! ternyata mendapatkan hati anak kecil di umur aku yang sekarang ini benar-benar butuh kesabaran yang lebih," ucap Adit di dalam hatinya sambil tersenyum
"Mas Adit ga mau titip sesuatu sama kamu kok Ra," jawab Adit dengan lembut
"Terus kamu ngapain tunggu aku di sini mas?" tanya Rara dengan wajah semakin bingung
Adit pun meletakkan tangannya di ujung kepala Rara dengan lembut
"Mas adit cuma mau antar kamu untuk belanja Ra," ucap Adit dengan lembut lalu tersenyum hangat
__ADS_1
Deg..Deg..Deg..
Ada sebuah debaran di dalam dada Rara yang tidak dia mengerti pada saat itu, tetapi yang pasti dia yakin bahwa debaran tersebut terjadi saat melihat senyuman hangat dari seorang Aditya Putra Erlangga