
Semakin lama Wulan semakin tidak sabar melihat sang adik yang terlihat seperti uring-uringan selama dia menyantap makan siangnya, karena Adit terlihat beberapa kali menghembuskan nafasnya dengan kasar dengan wajah yang masam
"Yakin ga mau cerita ke mbak tentang masalah kamu?" tanya Wulan dengan serius
"Aku mau cerita apa mbak? aku baik-baik aja kok." jawab Adit dengan yakin
"Kalau begitu berhenti menghela nafas kamu dan buang jauh-jauh muka asem kamu itu, kamu bikin makan siang mbak terasa ga enak." ucap Wulan dengan suara sinis
Adit pun langsung berusaha untuk mengendalikan ekspresi wajahnya pada saat itu, dia tidak ada niat sama sekali untuk menjelaskan apa yang sedang dia rasakan kepada sang kakak
"Sial!! kenapa aku jadi kepikiran Rara terus!! tanpa sadar aku jadi bersikap seperti tadi di depan mbak Wulan, kalau aja aku ga ingat ada mbak Wulan di tempat ini pasti laki-laki tadi ga akan selamat dengan mudah!! belum saatnya aku cerita sama mbak Wulan," ucap Adit di dalam hatinya
Setelah Wulan selesai makan siang Adit pun langsung menatap sang kakak dengan wajah serius
"Jadi apa alasan mbak panggil aku ke sini mbak?"
"Mbak mau minta tolong sama kamu"
"Minta tolong apa ya mbak?"
"Tolong kamu temani mbak menghadiri acara nanti malam, suami mbak lagi keluar kota dan ga mungkin dong mbak datang ke acara itu sendirian." jawab Wulan dengan serius
"Kenapa ga ajak yang lain aja sih mbak?" tanya Adit dengan wajah memelas
"Siapa? papa? lebih ga mungkin lagi dong Dit, makanya mbak mau minta tolong sama kamu." ucap Wulan dengan tegas
Adit pun terdiam seperti sedang memikirkan apa yang harus dia lakukan
"Sebenarnya aku malas untuk keluar apalagi suasana hati aku lagi seperti ini, tapi mungkin itu lebih baik dari pada aku ketemu Rara. Aku cuma takut ga bisa mengendalikan mulut aku sama dia, aku kan udah janji ga akan menyakiti perasaan dia lagi." ucap Adit di dalam hatinya
__ADS_1
Setelah beberapa pertimbangan Adit pun memutuskan untuk menemani sang kakak hadir di acara tersebut, dengan cara seperti itu setidaknya dia bisa menghindari Rara untuk sementara waktu. Karena dia tau dengan pasti bahwa saat itu hatinya sedang terbakar api cemburu
Setelah pertemuan dengan sang kakak selesai Adit pun kembali ke kantornya dan kini dia sudah mendudukkan tubuhnya di bangku kebesarannya
"Aku kasih kabar ke Rara ga ya tentang ini? sebenarnya aku masih jengkel sama anak itu, tapi kalau aku ga kasih kabar nanti dia tungguin aku untuk makan malam." gumam Adit
Dengan hati yang masih terasa panas Adit memilih untuk mengalah dan langsung meraih ponselnya lalu mengirimkan sebuah pesan singkat kepada Rara
"Malam ini mas Adit pulang agak terlambat ya Ra, mas Adit harus temani mbak Wulan datang ke sebuah acara"
Di seberang sana Rara merasa bahagia karena Adit masih mengirimkan kabar kepada dirinya
"Sepertinya mas Adit ga terlalu marah karena kejadian tadi, berarti nanti aja aku jelasinnya setelah mas Adit pulang aja." ucap Rara di dalam hatinya
"Ya mas"
"Ya mas"
Untuk saat itu Rara memang bisa bernafas dengan lega karena merasa semuanya baik-baik saja, tetapi setiap manusia tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi di waktu yang selanjutnya. Bahkan sesuatu yang sangat menyakitkan bagi seorang Rara akan terjadi sesaat lagi
Adit menemani sang kakak menghadiri acara tersebut tanpa ada pemikiran apapun, dia hanya berniat untuk mengindari Rara sementara untuk waktu. Tetapi Adit harus mendapatkan sebuah kejutan yang sangat istimewa di acara tersebut
Acara tersebut di hadiri oleh banyak orang-orang penting di kota tersebut, salah satu orang yang hadir di acara tersebut adalah Jonathan Perkasa. Yang lebih gila lagi Jonathan hadir ke acara tersebut bersama Adel sebagai pendamping dirinya
Posisi meja Adit dan Jonathan berada sedikit jauh, Adit yang melihat kehadiran mereka di tempat itu merasa sedikit khawatir terhadap Wulan. Dia pun berusaha tetap terlihat tenang di hadapan sang kakak
"Sial!! ini sih namanya aku gali kuburan aku sendiri!! tadi siang aku sudah berusaha menutupi hubungan aku sama Rara, kenapa malamnya harus ketemu mereka sih? semoga aja mbak Wulan ga sadar dengan keberadaan mereka di tempat ini, nanti secepatnya aku bujuk mbak Wulan untuk pergi dari sini." gerutu Adit di dalam hatinya
Untuk sesaat Adit bisa merasa tenang karena Wulan benar-benar tidak menyadari keberadaan Adel bersama laki-laki lain di tempat itu, tetapi sebuah bangkai tidak akan bisa di sembunyikan terlalu lama. Saat ada orang menyapa Wulan secara tidak sengaja kedua bola mata Wulan melihat keberadaan Adel di tempat itu
__ADS_1
Setelah selesai berbincang ringan orang tersebut pun meninggalkan meja Wulan dan Wulan langsung menatap ke arah Adit dengan wajah penuh amarah
"Kamu harus menjelaskan tentang masalah ini sama mbak sekarang juga Aditya Putra Erlangga!!" ucap Wulan penuh penekanan
"Kenapa nasib aku hari ini sial banget sih? Adel juga ga ada pikirannya sama sekali!! kenapa dia harus datang ke acara terbuka seperti ini dengan laki-laki itu? sekarang jadi posisi aku yang serba salah," gerutu Adit di dalam hatinya
"Kamu lagi bahas tentang apa sih mbak?" tanya Adit dengan wajah berpura-pura tidak tahu
Wulan pun memberikan senyuman yang terlihat sinis kepada sang adik
"Berhenti berpura-pura bodoh Dit, mbak yakin kamu sudah dari tadi mengetahui hal itu. Sekarang jelasin ke mbak apa yang sedang di lakukan istri kamu di tempat ini bersama laki-laki lain?" tanya Wulan penuh penekanan
"Maksud mbak istri aku yang mana?"
"Apa kamu pikir mbak ga berani untuk datang ke meja mereka dan membuat keributan?" tanya Wulan dengan tatapan membunuhnya
Adit yang awalnya berencana untuk mengalihkan pikiran Wulan langsung di buat mati kutu dengan ucapan Wulan pada saat itu
"Mbak ga bisa melakukan itu, ada nama baik keluarga kita di pertaruhkan kalau mbak sampai melakukan hal tersebut." jawab Adit dengan tegas
Lagi-lagi Wulan tersenyum sinis
"Kamu masih berani mengingatkan mbak tentang nama baik keluarga kita Dit? apa kamu pikir yang di lakukan istri kamu saat ini ga mencoreng nama baik keluarga kita?" tanya Wulan penuh penekanan
Adit pun membuang nafasnya dengan kasar lalu mulai menatap ke arah sang kakak dengan wajah serius
"Adel ga melakukan kesalahan apapun saat ini mbak, dia juga ga mencoreng nama baik keluarga kita. Karena kami memang sudah bercerai," ucap Adit dengan serius
Dengan terpaksa Adit mengatakan itu semua kepada sang kakak, karena dia tau dengan pasti bahwa Wulan mempunyai sifat yang tegas. Adit yakin bahwa Wulan tidak akan berdiam diri sebelum dia mendapatkan sebuah jawaban yang tepat
__ADS_1