
Setelah Adit berhasil untuk mengendalikan hatinya dia pun melanjutkan kembali apa yang sedang dia lakukan pada saat itu
"Besok-besok jangan masak sepagi ini ya Ra, sudah hampir satu bulan saya selalu makan sarapan yang sudah dingin. Asal kamu tau aja Ra makanan yang sudah terlalu dingin rasanya jadi kurang enak," ucap Adit dengan santai
"Terus kamu mau minta aku masak jam berapa mas? kalau aku masak seperti dulu nanti kamu marah lagi karena kamu lihat wajah aku," ucap Rara di dalam hatinya sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar
Dan lagi-lagi Rara hanya mengiyakan ucapan Adit untuk menghindari permasalahan yang baru, sedangkan Adit benar-benar merasa terhibur dengan itu semua
"Masa baru begini aja udah mulai kesal sih Ra?" ucap Adit di dalam hatinya
Adit pun menatap Rara dengan seksama pada saat itu sambil terus saja tersenyum, untuk sesaat dia memang berhenti untuk berbicara dan saat dia lihat Rara mulai fokus melanjutkan apa yang sedang dia lakukan dia pun membuka suara
"Satu lagi Ra jangan pernah kabur dari tempat ini pagi-pagi buta, apa kamu mau seperti perem...."
Ucapan Adit langsung tertahan karena tiba-tiba saja Rara membanting pisau yang berada di tangannya ke atas talenan, entah dari mana datangnya keberanian Rara pada saat itu karena dia langsung menatap ke arah Adit dengan tajam tanpa perasaan takut sama sekali
"Kenapa?" tanya Adit dengan santai
"Saya bukan perempuan murahan mas, jadi sudah cukup kamu selalu mengatakan aku sebagai perempuan murahan sampai saat ini." ucap Rara dengan tegas
Adit sama sekali tidak merasa marah melihat Rara yang sedang menunjukkan perasaan yang sedang dia rasakan, hati kecilnya bahkan merasa bahagia karena Rara sudah mulai berani untuk menunjukkan sikap yang lain di hadapan dirinya
"Siapa yang mau bilang kamu seperti perempuan murahan? aku ga mau bilang itu kok Ra," ucap Adit dengan santai
Rara hanya terdiam tanpa menjawab apapun dengan ekspresi wajah yang sama
"Saya cuma mau bilang kamu seperti perempuan yang ga punya suami, selalu pergi pagi buta padahal saat itu suami kamu masih ada di rumah." lanjut Adit lalu tersenyum
__ADS_1
Mungkin karena beban di dalam hati Rara pada saat itu sudah tidak bisa dia bendung lagi, bahkan mendengar penjelasan dari Adit pun hanya membuat dia merasa semakin di permainkan
"Akh!!" teriak Rara
Rara mengempeskan semua bahan makanan yang sudah dia siapkan dengan sangat kuat dia pun langsung berjongkok, apa yang Rara lakukan pada saat itu membuat Adit tidak bisa mengetahui apa yang sedang di lakukan oleh istri kecilnya tersebut. Karena tubuh Rara terhalang oleh meja makan
"Lagi ngapain anak itu? dia kan belakangan ini kelihatan berani untuk melawan aku, jangan-jangan dia sekarang lagi cari senjata untuk pukul aku." ucap Adit di dalam hatinya
Adit yang asik dengan pemikirannya sendiri langsung mengambil sebuah bantal yang berada di ruang tamu, dia akan menjadikan bantal tersebut untuk menjadi tameng bila Rara benar-benar berniat untuk menyerang dirinya. Tetapi setelah cukup lama Adit menunggu Rara tak juga menunjukkan batang hidungnya
"Sebenarnya anak itu lagi ngapain sih? kenapa ga keluar juga anak itu?" tanya Adit di dalam hatinya sambil mengerutkan keningnya
Adit pun segera bangkit dari duduknya sambil membawa bantal tadi untuk berjaga-jaga, dia pun mulai melangkahkan kakinya ke arah Rara dan berusaha untuk tidak mengeluarkan suara sama sekali
Saat Adit sudah berhasil menemukan keberadaan Rara, yang sedang di lakukan oleh Rara pada saat itu adalah duduk di atas lantai dengan kedua kaki yang di tekuk dan melipat kedua tangannya untuk sandaran keningnya. Tanpa Adit harus melihat wajah Rara sekalipun dia tetap tau bahwa Rara saat itu sedang menangis dalam diam
Jauh di dalam lubuk hatinya Adit ikut merasakan kesedihan Rara pada saat itu, perasaan bersalah juga menyelimuti hatinya dengan sangat erat
"Kamu ngapain Ra?" tanya Adit dengan lembut
Rara hanya terdiam dengan posisi yang sama
"Kalau kamu diam begini apa sarapan aku bisa matang?"
Adit yang tau harus berbuat apa mengunakan kata-kata tersebut untuk mencairkan suasana yang ada, tetapi berbeda dengan Rara yang sudah benar-benar merasa marah merasa ucapan Adit seperti sebuah bensin yang di siramkan ke dalam api
Rara pun langsung mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Adit dengan tajam, walau pun air mata Rara masih tetap terus mengalir dengan sendirinya
__ADS_1
"Kamu ngomong apa mas? kamu lapar? kamu mau makan kan?" tanya Rara dengan suara yang terputus-putus tertahan oleh tangisan
Rara langsung meraih benda apapun yang terlihat oleh matanya dan melemparkan benda tersebut ke arah Adit dengan sekuat tenaga
"Makan ini mas!!" teriak Rara
Adit yang melihat hal tersebut langsung menggunakan bantal yang sempat dia bawa untuk menangkis barang-barang yang Rara lemparkan ke arah dirinya
"Ra... Sadar Ra, kamu ngapain sih Ra?!!" ucap Adit sedikit berteriak
Pada saat itu Rara sama sekali tidak mau mendengar apapun yang Adit katakan, dia terus meluapkan amarahnya dengan cara melempari Adit dengan barang yang bisa dia temukan. Hingga barang-barang yang berada di sekitar Rara pun mulai habis, Adit pun bisa bernafas sedikit lega melihat hal tersebut
Tetapi ternyata perlawanan yang akan Rara lakukan tidak mau berhenti sampai di situ, dia pun langsung bangkit dan tanpa sadar memegang pisau yang tadi sempat dia gunakan. Adit pun langsung membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna
"Jangan main-main Ra!! apa kamu mau jadi istri yang durhaka?!!" teriak Adit dengan wajah panik
Sudah pasti Adit benar-benar merasa panik saat Rara memegang sebuah pisau, karena sedari tadi Rara terus melempari dirinya dengan barang-barang yang ada dan Rara melakukan itu semua dengan sekuat tenaga
Rara yang mendengar ucapan terakhir Adit seperti mendapatkan kembali kesadarannya, dia pun langsung meletakkan pisau tersebut dan tertawa walaupun air matanya masih tetap mengalir
"Kamu barusan bilang apa mas?"
"Aku bilang apa ya? aku lupa Ra," jawab Adit dengan hati-hati
"Istri durhaka mas"
Adit yang masih merasa sedikit terkejut dengan semua perbuatan Rara hanya bisa menjawab dengan anggukan kepalanya
__ADS_1
"Apa kamu ga pernah tanya sama diri kamu sendiri mas? apa kamu sudah menjadi suami yang baik?" tanya Rara lalu tersenyum tipis