Menjadi Istri Kakak Ipar Ku

Menjadi Istri Kakak Ipar Ku
Boleh Aku Peluk Kamu?


__ADS_3

Pada hari itu karena kerjaan yang menumpuk membuat Adit harus pulang sedikit terlambat, saat ini pekerjaan yang harus Adit hadapi seolah tidak pernah ada habisnya. Tetapi itu semua tidak ada artinya bagi seorang Adit karena dia bisa melihat wajah Rara saat dia kembali ke kediaman mereka


"Ibu ada di mana?" tanya Adit ke salah satu pekerja


"Ibu ada di dalam kamar pak"


"Apa ibu sudah makan malam?"


"Belum pak"


Secara spontan Adit langsung melihat jam tangan yang dia gunakan, dia melihat bahwa saat itu sudah hampir jam sembilan malam. Adit pun langsung menatap tajam ke arah sang pekerja sambil mengerutkan keningnya dan berhasil membuat nyali sang pekerja menciut


"Kenapa ibu belum makan malam? apa kalian ga menyiapkan makan malam untuk ibu?" tanya Adit dengan tegas


"Maaf pak, tapi tadi ibu bilang ibu mau tunggu bapak pulang dulu." jawab sang pekerja tanpa berani menatap ke arah Adit


"Lain kali kalau ibu belum makan malam sampai jam segini langsung kasih kabar ke saya," ucap Adit dengan tegas


"Baik pak"


Adit pun langsung melangkahkan kakinya ke arah kamar mereka, saat dia membuka pintu Rara sedang duduk di atas sofa. Sedangkan Rara yang melihat Adit langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri Adit dengan senyuman hangat


"Kamu baru pulang mas?"


"Kenapa kamu belum makan malam Ra? apa kamu ga enak badan?" tanya Adit dengan wajah cemas


"Bahkan saat kamu baru pulang kerja sekalipun kamu malah memikirkan tentang aku yang belum makan mas," batin Rara sambil tersenyum bahagia


"Boleh aku peluk kamu mas?"


Sontak saja pertanyaan dari Rara membuat seorang Adit menjadi bingung, dia pun hanya bisa terdiam membeku dengan pemikiran yang sudah melayang bebas


"Untuk apa Rara minta peluk aku? ini terlalu aneh," batin Adit


"Kenapa mas? apa aku ga boleh peluk kamu?" tanya Rara lalu tersenyum hangat


"Kamu sebenarnya kenapa sih Ra? kalau memang ada masalah kita bisa bicarakan baik-baik"

__ADS_1


"Masalah apa ya mas? aku cuma minta ijin untuk peluk kamu," jawab Rara sambil mengerutkan keningnya


"Kamu mau peluk aku dalam rangka apa Ra? kalau kamu mau peluk aku supaya aku kasih izin kamu untuk pergi, aku ga mau Ra." ucap Adit dengan tegas


Ekspresi wajah Adit pada saat itu bisa menunjukkan dengan jelas apa yang ada di dalam benaknya dan Rara pun tertawa geli melihat itu semua


"Astaga mas!! kenapa kamu punya pemikiran sejauh itu dari mana? kalau aku memang mau pergi ya ga perlu pakai peluk-peluk kamu dulu lah mas"


"Karena sikap kamu yang sedikit aneh Ra, apa maksud kamu tiba-tiba aja minta izin mau peluk? belum lagi kata si mbak sampai sekarang kamu belum makan malam"


Rara pun tertawa geli dan membuat Adit menatap dirinya dengan serius


"Aku mau peluk kamu sebagai ucapan terima kasih dari aku karena kamu sudah berusaha keras untuk mencari aku mas"


"Terus kenapa kamu belum makan malam sampai sekarang Ra?"


"Karena aku mau makan malam bareng sama kamu mas, cuma itu aja dan ga ada alasan lain lagi mas." jawab Rara dengan yakin


Adit yang masih sedikit tidak percaya masih menatap ke arah Rara dengan seksama


Adit hanya terdiam dan menatap Rara dengan lekat, sebagian dari hatinya masih tidak bisa percaya dengan penjelasan yang Rara katakan pada saat itu


"Kalau kamu ga kasih ijin aku untuk peluk kamu ga masalah kok mas, tapi aku harus tetap ucapakan terima kasih untuk semua perjuangan kamu supaya bisa menemukan aku mas." ucap Rara dengan tulus


Rara pun mulai memutar tubuhnya untuk mendudukkan tubuhnya di tempat semula


"Kamu ga jadi peluk aku Ra?"


Rara pun menatap ke arah Adit dengan senyuman yang terlihat tulus


"Jadi kamu kasih aku ijin untuk peluk kamu mas?"


"Kenapa harus ijin untuk peluk aku Ra? aku kan suami kamu," jawab Adit dengan yakin


Rara pun mengembangkan sebuah senyuman yang terlihat tulus dan langsung memeluk tubuh Adit dengan erat


"Tadi mas Dirga sudah cerita semuanya, terima kasih ya mas"

__ADS_1


"Aku memang ga tau apa yang Dirga bilang sama kamu Ra tapi yang pasti aku harus berterima kasih sama Dirga, setidaknya sekarang hubungan aku sama Rara sudah lebih baik." ucap Adit di dalam hatinya sambil membalas pelukan Rara


"Apa kamu sudah makan malam mas?"


"Aku juga belum makan malam, aku ganti baju sebentar ya"


Adit memilih untuk berbohong karena dia tau Rara belum makan malam karena menunggu dirinya, Adit terpaksa mengisi kembali perutnya walaupun saat itu dia tidak merasa lapar. Setelah makan malam mereka pun kembali ke dalam kamar


Mereka berdua sudah berbaring di atas tempat tidur walaupun masih dalam keadaan yang sedikit canggung, tak ingin kesalahan yang sama terulang kembali Rara langsung memadamkan lampu yang berada di sebelahnya


Adit sudah mulai merebahkan tubuhnya dengan benar dan bersiap untuk menuju ke alam mimpi, dia ingin segera cepat tiba di alam mimpi agar tidak merasakan hukuman dari Rara seperti malam sebelumnya


"Apa mbak Adel cinta pertama kamu mas?"


Adit pun membuka kedua bola matanya dan memutar wajahnya agar bisa menatap ke arah Rara


"Kenapa kamu tanya tentang itu Ra?"


"Cuma pengen tau aja mas, karena kata orang-orang cinta pertama itu sulit untuk di lupakan. Tadi aku dengar dari mas Dirga kalau sebentar lagi mbak Adel mau menikah lagi," ucap Rara dengan hati-hati


Adit yang merasa tak puas untuk menatap Rara memutar tubuhnya agar dia bisa menatap Rara dengan bebas


"Kenapa kamu tiba-tiba bahas tentang ini Ra? apa kamu lagi cemburu sama Adel?" tanya Adit lalu tersenyum tipis


"Ga kok mas, aku cuma khawatir sama kamu aja. Apa kamu baik-baik aja?"


Adit pun langsung mengerutkan keningnya


"Maksud kamu gimana ya Ra?"


"Apa kamu benar-benar bisa melepaskan mbak Adel untuk laki-laki lain mas?" tanya Rara tak enak hati


A


"Sebenarnya aku ga enak kalau bilang ini ke kamu Ra, karena pasti kamu akan anggap cerita aku ini cuma untuk membela diri aku sendiri. Tapi kalau kamu memang mau tau perasaan mas Adit ke Adel sekarang mas Adit akan bilang dengan jujur," ucap Adit dengan yakin


Pada saat itu Rara memang menjawab dengan anggukan kepalanya, tetapi dia tidak bisa berbohong bahwa jauh di dalam hatinya dia juga merasakan sedikit perasaan takut mendengar apa yang akan Adit katakan

__ADS_1


__ADS_2