Menjadi Istri Kakak Ipar Ku

Menjadi Istri Kakak Ipar Ku
Menaruh Harapan


__ADS_3

"Kamu lagi ngapain mas?" tanya Rara dengan gugup


Adit pun melepaskan pelukannya dan menatap ke arah Rara sambil tersenyum hangat


"Aku cuma membalas perbuatan kamu dengan cara yang sama Ra, jadi sekarang kamu ga perlu merasa malu atau bersalah karena sekarang sudah impas." ucap Adit dengan santai


Tanpa rasa bersalah sama sekali Adit langsung melangkahkan kakinya ke arah meja makan, sedangkan Rara masih membeku di tempat yang sama. Saat Adit sudah mendudukkan tubuhnya di meja makan pun Rara masih setia dengan posisi yang sama


"Ya ampun Ra kamu imut banget sih," ucap Adit di dalam hatinya sambil tersenyum


"Kok bengong sih Ra? ayo makan mas Adit udah lapar Ra"


"Ya mas"


Rara yang tersadar pun langsung melangkahkan kakinya ke arah meja makan, sedangkan Adit menunjukkan sikap yang biasa saja di hadapan Rara seolah tidak terjadi apapun di antara mereka berdua


Adit hanya tidak ingin Rara terus merasa canggung dan mengurung diri di dalam kamarnya, sikap Adit yang seperti itu membuat Rara akhirnya bisa bersikap seperti biasanya


Dari pagi buta Rara mulai menyiapkan ini dan itu untuk semua keperluan mereka berlibur, dia juga mulai menyiapkan beberapa jenis makanan untuk bekal mereka selama di perjalanan. Rara sudah berbelanja setelah mendengar ada kemungkinan mereka akan berlibur


Sedangkan Adit yang baru saja terbangun dari tidurnya langsung mengerutkan keningnya saat dia keluar dari dalam kamarnya, dia bisa mencium aroma makanan dan melihat sudah ada beberapa menu makanan yang sudah Rara siapkan


"Kamu lagi ngapain Ra?"


"Lagi siapkan bekal untuk di jalan mas," jawab Rara tanpa menoleh ke arah Adit


Adit pun membuang nafasnya dengan kasar dan mulai melangkahkan kakinya ke arah Rara berada


"Rencananya kamu mau menyiapkan berapa macam makanan Ra?"


"Habis ini tinggal satu lagi kok mas," jawab Rara dengan polosnya


"Kalau yang kamu masak sudah matang sudah cukup ya Ra"

__ADS_1


Rara pun langsung menatap ke arah Adit dengan wajah serius


"Kenapa mas?"


"Perjalanan dari sini ke sana paling cuma makan waktu tiga atau empat jam Ra, jadi kamu ga perlu menyiapkan makanan terlalu banyak"


"Tapi aku takut Ical lapar waktu lagi di jalan mas, siapa tau aja dia belum sarapan waktu nanti kita jemput dia." ucap Rara dengan polosnya


Adit pun tersenyum mendengar jawaban dari Rara pada saat itu


"Kan ada rest area Ra, kalau memang semua yang kamu siapin ini belum cukup nanti kita mampir di rest area aja." jawab Adit dengan lembut


"Tapi mas...."


"Ga pakai tapi Ra, pokoknya habis ini kamu langsung siap-siap ya. Selesai mas Adit mandi kita langsung jalan jemput Ical"


"Ya mas"


Adit pun segera membersihkan diri dan mereka pun langsung meninggalkan apartemen tersebut, saat akan naik ke dalam mobil Rara terlihat diam dengan wajah sedikit bingung


"Aku duduk belakang aja ya mas, pasti Ical mau duduk di depan sama kamu." ucap Rara hati-hati


Adit pun meletakkan tangannya di ujung kepala Rara dengan lembut


"Kamu istri aku Ra jadi kamu duduk depan, kalau nanti Ical mau depan kamu bisa pangku dia"


"Apa nanti mbak Adel ga akan marah mas kalau dia lihat aku duduk di depan sama kamu?"


"Ga usah di pikirin ya Ra, lagi pula biasanya Adel ga pernah antar Ical ke depan waktu aku jemput Ical." ucap Adit penuh keyakinan


"Apa aku boleh untuk duduk di samping kamu dengan alasan itu mas? apa kamu benar-benar menganggap aku sebagai seorang istri? atau kamu cuma mengimbangi perasaan aku aja mas?" tanya Rara di dalam hatinya


Ada seribu pertanyaan hinggap di benak Rara pada saat itu, tetapi yang pasti dia tidak mempunyai keberanian untuk menanyakan hal tersebut kepada orang yang ada di hadapannya

__ADS_1


"Ayo Ra"


Dengan hati yang tak karuan Rara pun mendudukkan tubuhnya di bangku depan, saat mereka tiba di sana Adit segera menghubungi Haikal dan memberitahukan bahwa dia sudah tiba. Dan anak tersebut langsung keluar dari rumah mewah tersebut di antar oleh sang pengasuh


Adit dan Rara sengaja turun dari mobil untuk menyambut Haikal, saat melihat Rara anak itu langsung tersenyum bahagia dan berlari kecil mendekat ke arah mereka. Haikal pun langsung memeluk kaki Rara dengan erat


"Hai sayang," sapa Rara dengan lembut


Haikal mendongakkan kepalanya sambil tersenyum


"Aku kangen banget sama tante Rara," ucap Haikal dengan tulus


Haikal pun langsung menatap ke arah Adit


"Pah tante Rara duduk di depan aja ya sama aku, boleh kan pah?"


Adit pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum


"Asik!! aku mau duduk di pangkuan tante Rara. Itu hukuman buat tante Rara karena tante Rara ga pernah telepon aku." ucap Haikal dengan polosnya


Rara tidak bisa mengungkapkan dengan kata-kata perasaan bahagia yang sedang dia rasakan pada saat itu, tetapi yang pasti hatinya benar-benar terasa hangat dengan sambutan yang dia dapatkan dari anak tersebut


Mereka pun memulai perjalanan tersebut dengan hati yang bahagia, Rara dan Haikal terus saja bercanda di sepanjang perjalanan tersebut. Mereka seperti memiliki dunianya sendiri hingga seperti melupakan keberadaan Adit yang berada di sampingnya


"Kalau Rara mau menerima aku menjadi suami dia seutuhnya aku ga perlu lagi merasa khawatir tentang Ical, dengan sikap Rara yang seperti itu terhadap Ical membuat aku yakin kalau Rara benar-benar menyayangi Ical." ucap Adit di dalam hatinya sambil melirik ke arah Rara yang sedang membuat Haikal tertawa lepas


Setelah mereka tiba di villa milik Adit mereka pun istirahat sejenak, setelah itu Haikal pun mengajak Rara bermain di kolam renang yang berada di sana. Sedangkan Adit hanya memperhatikan mereka dari kejauhan sambil tersenyum tipis


Melihat wajah bahagia dari Rara dan sang buah hati membuat hati Adit benar-benar terasa hangat, senyuman di wajah Adit pun mulai menghilang saat dia mulai menyadari akan sesuatu


"Aku baru sadar kalau aku sudah sangat lama tidak merasakan perasaan seperti ini, semenjak Adel mulai mendapatkan promosi dia mulai jarang untuk pergi bersama kami. Dan sekarang aku baru benar-benar sadar kalau perasaan yang aku miliki untuk Adel sudah lama menghilang dengan sendirinya"


"Kalau kamu benar-benar bersedia untuk menjadi pasangan hidup aku, aku berharap kamu ga akan melakukan hal yang sama dengan Adel. Aku ga akan menghalangi apapun yang kamu impikan Ra, tapi tolong jangan terlalu banyak menghabiskan waktu kamu untuk mengejar mimpi kamu. Jangan membuat perasaan kita menghilang di makan waktu"

__ADS_1


Tanpa sadar Adit mulai menaruh harapan yang besar kepada Rara, dia benar-benar tidak ingin mendapatkan kegagalan dalam berumah tangga untuk yang kedua kalinya


__ADS_2