Menjadi Istri Kakak Ipar Ku

Menjadi Istri Kakak Ipar Ku
Mengungkapkan Perasaan


__ADS_3

Dengan sejuta perasaan malu Rara masih berusaha untuk menatap ke arah Adit dengan tajam


"Kalau gitu balikin buku diary aku mas!!" ucap Rara penuh penekanan


Adit menggelengkan kepalanya


"Biarin mas Adit yang simpan buku ini ya Ra"


"Tapi itu kan punya aku mas, lagian ga ada gunanya juga buku itu di tangan kamu"


"Kata siapa buku ini ga ada gunanya Ra?"


Rara yang tidak mengerti arah ucapan Adit hanya bisa terdiam sambil menatap Adit dengan lekat


"Awalnya mas Adit mau melepaskan kamu setelah membaca surat yang kamu tinggalkan Ra, mas Adit cuma bisa melepaskan kamu untuk menebus perasaan bersalah mas Adit. Tapi buku ini membuat mas Adit merubah keputusan mas Adit, jadi kamu harus mengerti kalau buku ini penting untuk mas Adit"


Rara yang sudah merasa malu bukan main memilih untuk langsung merebahkan tubuhnya dengan posisi membelakangi tubuh Adit, Adit pun tersenyum bahagia lalu meletakkan buku tersebut ke tempat semula


"Jangan marah ya Ra," ucap Adit dengan lembut


Rara memilih untuk diam karena perasaan malu bercampur jengkel yang sedang dia rasakan pada saat itu, Adit pun mendekatkan tubuhnya ke arah Rara dan mencium ujung kepala Rara dengan lembut


"Selamat istirahat istri kecil mas Adit"


"Akh!! kamu selalu bersikap curang mas!! kamu suruh aku tidur tapi kamu melakukan hal itu dengan lembut, gimana aku bisa tidur kalau kamu membuat jantung aku jadi ga karuan?" gerutu Rara di dalam hatinya


Rara tetap setia dengan posisi diam seolah dia sudah tertidur tetapi kedua matanya tidak bisa terpejam sama sekali, setelah tak ada pergerakan dari Adit dia pun mulai memutar tubuhnya dan menatap ke arah wajah tampan sang suami


"Kenapa kamu selalu bersikap curang mas? kamu sudah tau tentang perasaan aku yang sebenarnya tapi aku ga tau apapun tentang perasaan kamu, aku cuma tau kamu menjadikan aku sebagai istri kamu seutuhnya tanpa tau perasaan kamu sama sekali." ucap Rara dengan pelan tapi tetap terdengar


Rara pun menghembuskan nafasnya dengan kasar

__ADS_1


"Apa aku ada di sini hanya sebagai pelengkap hidup kamu mas?" lanjut Rara lirih


Rara pun tersenyum getir membayangkan bahwa Adit memilih dirinya karena semuanya memang sudah terlanjur terjadi, tetapi tiba-tiba saja Adit menarik tubuh Rara masuk ke dalam pelukan hangatnya. Rara pun langsung membulatkan kedua bola matanya karena merasa terkejut dan hendak berontak


"Kata siapa Ra? kalau mas Adit cuma anggap kamu sebagai pelengkap hidup mas Adit, untuk apa mas Adit berkorban sebanyak ini?"


Rara pun mendongakkan kepalanya dan saat itu Adit sudah membuka kedua bola matanya sambil tersenyum hangat


"Mas Adit mungkin ga pernah mengungkapkan apapun sama kamu, tapi kamu harus tau kalau mas Adit benar-benar mencintai kamu sebagai seorang wanita Ra. Di mata mas Adit kamu bukan hanya sebagai pelengkap hidup atau pun seorang pengganti, kamu adalah perempuan yang sudah mas Adit pilih untuk menemani hidup mas Adit." lanjut Adit dengan yakin


Rara yang merasa terkejut hanya bisa terdiam dan membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami


"Tidur ya sayang sudah malam," ucap Adit lalu mencium ujung kepala Rara dengan lembut


Entah sudah seberapa cepat detak jantung Rara pada saat itu, tetapi yang pasti dia tidak memungkiri bahwa pelukan hangat dari seorang Aditya Putra Erlangga membuat Rara benar-benar merasa nyaman. Hati Rara mengatakan untuk mulai tidak menolak pelukan hangat tersebut


"Kamu memang curang mas!! kemarin aku masih merasa takut saat kamu mendekat, tapi hari ini aku bahkan bisa merasakan perasaan nyaman saat ada di dalam pelukan kamu." batin Rara sambil tersenyum tipis


Adit yang sudah jauh lebih dewasa memilih untuk tidak langsung menuntut haknya sebagai seorang suami walaupun hubungan mereka sudah lebih baik, dia hanya ingin melakukan hal tersebut bila Rara sudah benar-benar siap untuk melakukan itu


Pagi itu Rara terbangun lebih dulu dan saat dia mulai membuka kedua bola matanya wajah tampan Adit menyambut dirinya, Adit masih setia dengan posisi memeluk tubuh mungil Rara dan membuat Rara tersenyum tipis


"Kamu adalah contoh laki-laki yang selalu membuat aku kagum dengan sikap hangat kamu kepada keluarga kamu kak, siapa yang akan menyangka kalau saat ini kamu akan menjadi suami aku kak? aku akan selalu berdoa semoga perasaan kamu ke aku ga akan pernah luntur seperti perasaan kamu terhadap mbak Adel mas," batin Rara


Rara memberanikan dirinya untuk mencium pipi Adit secara perlahan


"Maaf ya mas karena aku baru memiliki keberanian untuk mencium kamu di saat kamu tertidur"


Rara mulai memindahkan tangan Adit secara perlahan dan mulai turun dari atas tempat tidur, dia pun segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Tetapi saat dia sudah berpakaian rapi sekalipun Adit masih juga terlelap


Rara yang merasa sedikit bosan memilih untuk keluar dari dalam kamar dan menuju ke arah dapur, dia pun melihat beberapa orang pekerja terlihat sedang sibuk untuk menyiapkan sarapan di rumah mewah tersebut

__ADS_1


"Apa makanan untuk sarapan sebanyak ini? memang berapa banyak yang kerja di rumah ini?" batin Rara sambil mengerutkan keningnya


"Selamat pagi," sapa Rara lalu tersenyum


Sontak saja semua mata langsung tertuju ke arah Rara dan menundukkan sedikit kepalanya tanda memberi hormat, seorang pekerja yang terlihat paling senior pun segera menghampiri Rara


"Selamat pagi bu, apa ada yang ibu butuhkan?" tanya bi Susi


"Oh ga ada, kebetulan aja saya sudah bangun tapi mas Adit masih tidur jadi saya ke sini. Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Rara dengan polosnya


Ucapan polos Rara membuat wajah semua orang yang berada di tempat itu langsung berubah menjadi tegang, mana mungkin mereka mempunyai keberanian untuk memberikan sebuah pekerjaan kepada Rara. Sedangkan Rara yang tidak makan malam karena menunggu Adit pulang saja membuat posisi mereka seolah-olah menjadi salah


"Aduh ga perlu merepotkan ibu, kami bisa menyelesaikan semuanya dengan baik bu. Bagaimana kalau ibu istirahat di dalam kamar aja?"


"Sepertinya mereka takut untuk membiarkan aku melakukan sesuatu, ya udah sebaiknya aku juga jangan membebani mereka." batin Rara sambil tersenyum


Rara pun berusaha untuk mengerti posisi mereka


"Ya sudah kalau begitu, tapi saya mau membuat teh untuk mas Adit"


Wajah bi Susi si pekerja senior pun menjadi semakin tegang, walaupun Adit malam itu tidak berbicara langsung kepada dirinya tetapi dia mendengar dari yang bersangkutan bahwa sosok Rara sangat penting di mata seorang Aditya Putra Erlangga


"Bagaimana kalau kami saja yang siapkan teh untuk pak Adit bu, nanti akan kami antar ke dalam kamar"


Rara pun menggelengkan kepalanya


"Untuk yang satu ini biar saya bikin sendiri, ini teh untuk suami saya jadi biar saya yang siapkan." ucap Rara dengan tegas


"Pantas aja pak Adit bisa takluk sama ibu Rara walaupun ibu Rara bisa di bilang masih muda tapi punya aura yang kuat," batin bi Susi sambil tersenyum canggung


Bi Susi hanya bisa pasrah dan langsung menyiapkan semua yang Rara butuhkan, Rara pun mulai membuat teh hangat dengan seiris potongan lemon seperti yang biasa Adit minum di pagi hari

__ADS_1


__ADS_2