
Hingga mereka selesai sarapan Rara masih tidak memiliki keberanian untuk membuka suara, Adit yang sudah mulai tidak tahan pun langsung menatap ke arah Rara dengan wajah serius
"Ada apa? kenapa dari tadi kamu lihatin saya terus?" tanya Adit dengan tegas
"Sebelumnya aku minta maaf mas kalau dari tadi aku bikin kamu kurang nyaman aku cuma mau tanya sesuatu sama kamu mas," ucap Rara dengan hati-hati
"Kamu kalau mau ngomong langsung aja, ga usah muter-muter dulu"
"Maaf mas aku cuma mau tanya apa aku masih boleh kuliah? aku ingin mewujudkan harapan terakhir ibu aku." ucap Rara sambil menundukkan kepalanya
"Ternyata kamu perempuan yang pintar Ra!! aku pikir kamu akan jadi perempuan bodoh dengan langsung mengatakan apa yang kamu mau, pasti kamu akan pakai alasan kuliah untuk minta mobil dari aku. Ga semudah itu Ra!!" ucap Adit di dalam hatinya sambil tersenyum sinis
"Apa saya ada melarang kamu untuk tetap kuliah?"
Rara pun menjawab dengan menggelengkan kepalanya
"Lalu apa masalahnya? saya sudah kasih kamu kartu, saya yakin isi kartu itu cukup untuk membeli semua keperluan yang kamu butuhkan selama kuliah." ucap Adit dengan tegas
"Bukan mas, aku bukan mau minta uang dari mas Adit." jawab Rara dengan cepat
"Kamu bilang kamu bukan mau minta uang, berarti memang ada yang kamu minta dari saya!!" ucap Adit di dalam hatinya sambil tersenyum sinis
"Jadi kamu mau minta apa dari saya?" tanya Adit dengan tegas
"Aku cuma mau minta izin keluar rumah sama kamu mas," jawab Rara sambil menundukkan kepalanya
Adit pun langsung mengerutkan keningnya mendengar hal tersebut
"Aku ga salah dengar kan? dia bukan mau minta mobil sama aku tapi dia mau minta izin untuk keluar rumah"
"Kalau ngomong sama orang lain lihat muka orangnya"
"Maaf mas," ucap Rara dan mulai mengangkat wajahnya
"Kenapa kamu minta izin keluar rumah dari saya?" tanya Adit dengan wajah serius
"Bukannya mas Adit yang bilang kalau aku harus melakukan tugas aku sebagai istri dengan baik, aku rasa mendapatkan izin dari suami untuk keluar rumah juga kewajiban seorang istri." jelas Rara
Entah mengapa pada saat itu hati Adit seperti mendapatkan sebuah tamparan kecil dari Rara, tetapi Adit masih tidak mau mengakuinya itu semua
__ADS_1
"Lain kali kamu ga perlu meminta izin dari saya, karena saya ga akan melarang kamu melakukan apapun di luar sana"
"Terima kasih mas," jawab Rara sambil tersenyum
"Termasuk kalau kamu mau punya hubungan dengan seorang laki-laki di luar sana saya juga ga akan melarang hal itu, tapi dengan catatan kamu harus tetap tau batasan-batasannya selama kamu masih menjadi istri saya." ucap Adit dengan tegas
Dalam sekejap senyuman di wajah Rara pun langsung menghilang begitu saja mendengar ucapan terakhir dari Adit, Rara pun hanya menjawab dengan anggukan kepalanya
"Apa ada lagi yang mau kamu minta dari saya?"
"Ga ada mas, terima kasih"
"Saya sudah kasih dia kesempatan untuk ngomong tapi dia tetap ga minta apapun, apa tadi dia benar-benar cuma mau minta izin untuk keluar rumah?" ucap Adit di dalam hatinya dengan wajah sedikit bingung
"Ya sudah kalau begitu saya mau berangkat kerja"
Adit pun mulai bangkit dari duduknya dan menyiapkan semua barang-barang yang akan dia bawa, dan Rara pun mengikuti semua langkah kaki sang suami
"Kata dia udah ga ada lagi yang mau dia minta, kenapa dia masih ngikutin terus?"
Adit terus berpura-pura tidak mengetahui bahwa Rara mengikuti langkah kakinya dan saat Adit akan keluar dari apartemen tersebut tiba-tiba saja Rara memegang ujung pakaian Adit
"Apa lagi Ra? saya mau berangkat kerja," ucap Adit dengan tegas
"Apa aku masih boleh cium tangan kamu mas?" tanya Rara dengan tulus
Sekali ini Adit seperti mendapatkan sebuah tamparan yang sangat keras secara tidak langsung dari Rara, dia bahkan sampai tidak bisa mengeluarkan kata-kata dari bibirnya pada saat itu. Adit hanya langsung menyodorkan tangannya kanannya ke arah Rara
Rara pun mencium punggung tangan Adit sama seperti yang selalu dia lakukan saat dulu kala, ada sebuah perasaan yang mengganjal di dalam hati Adit pada saat itu karena dia bisa melihat ketulusan dari wajah Rara pada saat itu
"Apa aku benar-benar sudah salah sangka sama anak ini?"
"Hati-hati di jalan ya mas," ucap Rara dengan tulus
Adit hanya menjawab dengan anggukan kepalanya lalu segera pergi meninggalkan apartemen tersebut, sedangkan Rara melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Saat Adit tiba di lobby apartemen sang asisten pribadi yang bernama Harun sudah menanti dirinya di sana
Mereka pun langsung masuk ke dalam mobil dan menuju ke arah kantor, di sepanjang perjalanan Adit terus larut di dalam pikirannya sendiri
"Semua bukti yang ada cuma mengarah ke Rara, tapi kenapa sekarang aku jadi ragu? apa karena semalam aku dengar dia cerita ke Dirga sambil nangis?" ucap Adit di dalam hatinya
__ADS_1
Adit terus larut di dalam pikirannya sendiri sampai lupa bahwa di sampingnya pada saat itu masih ada orang lain
Harun pun berdehem
"Kenapa?" tanya Adit sambil menatap Harun dengan wajah malas
"Lu yang kenapa Dit? dari tadi lu bengong aja seperti orang bodoh"
"Gw lagi malas ngomong sama lu"
Harun pun tersenyum tipis
"Apa karena masalah kemarin?" tanya Harun dengan santai
"Itu lu tau, walau pun kita teman seharusnya lu jangan lawan gw secara terang-terangan begitu dong"
Harun adalah satu-satunya sahabat Adit dan saat Adit ingin merintis usahanya dia pun meminta Harun untuk ikut bergabung, mereka akan berbincang dengan bahasa formal hanya ketika mereka sedang di hadapkan dengan pekerjaan
"Gw kira lu ga sadar kalau gw lagi kasih lu peringatan"
"Cuma orang buta yang ga bisa lihat cara lu menatap gw kemarin," ucap Adit dengan sinis
"Sorry Dit, soalnya menurut gw sikap lu sudah sedikit berlebihan sama anak itu." ucap Harun dengan serius
Adit pun langsung menatap tajam ke arah Harun
"Woi!! lu itu teman gw dan lu juga kerja sama gw, kenapa lu malah bela dia?"
"Karena gw rasa sepertinya ada yang salah Dit," jawab Harun dengan yakin
"Maksud lu?"
"Gw ngerasa ragu kalau anak itu terlibat di masalah malam itu Dit"
"Harun adalah tipe orang yang peka, dia yang ga mungkin bisa bilang begitu kalau dia ga punya alasan yang jelas." ucap Adit di dalam hatinya
"Kenapa lu bisa bilang begitu? kan lu juga lihat sendiri buktinya"
"Itu yang belum bisa gw jawab Dit, tapi gw benar-benar yakin kalau anak itu anak baik." ucap Harun dengan yakin
__ADS_1