Menjadi Istri Kakak Ipar Ku

Menjadi Istri Kakak Ipar Ku
Keanehan Rara


__ADS_3

Adit pun berusaha untuk menenangkan hatinya dan ingin mencari tau yang sebenarnya telah terjadi, dia hanya tidak ingin bila hubungan Rara dan Haikal menjadi renggang dan membuat posisi dia menjadi serba salah


"Tapi apa kamu ga sadar akan sesuatu sayang?"


"Maksud kamu apa sih mas?" tanya Rara dengan polosnya


"Apa kamu ga sadar kalau cerita di film itu sama dengan posisi kamu saat ini sayang?"


"Kok kamu jadi sama-samain aku sama orang itu sih mas!!" jawab Rara dengan wajah keberatan


"Kenapa Rara menunjukkan sikap seperti ini? sikap dia menunjukkan kalau masalah ini ga ada sangkut pautnya sama dia," batin Adit


"Mas Adit bukan mau samain kamu dengan perempuan itu sayang, mas Adit cuma mau bilang kalau posisi perempuan itu sama dengan posisi kamu." jelas Adit dengan lembut


Untuk sesaat Rara pun terlihat terdiam


"Astaga aku cuma mau tau pendapat mas Adit kalau dia tau tentang ucapan laki-laki itu, karena memutar balik sedikit ceritanya bisa jadi pas banget dengan posisi aku saat ini." batin Rara


"Benar juga ya mas"


Adit pun tersenyum tipis


"Tapi aku ga mau jadi seperti dia mas, karena menurut aku kalau kita mau bersama papanya kita juga harus bisa menerima anaknya." lanjut Rara dengan tegas


"Rara tipe orang yang ga bisa menutupi apa yang sedang dia rasakan, atau jangan-jangan sebenarnya.. Sebaiknya nanti aku cari tau tentang ini semua lebih jauh," batin Adit


Sebagian hati Adit bisa merasa tenang karena dia yakin itu semua tidak ada hubungannya dengan Rara, tetapi sebagian hatinya juga merasa khawatir karena pilihan terakhir ada di Jonathan


"Maka dari itu tadi mas Adit bilang semua tergantung pribadi orangnya masing-masing sayang"


"Iya mas, aku juga bingung kalau ada orang yang bisa bersikap seperti itu"


"Apa kamu tau kalau suami mbak Wulan juga seorang duda yang sudah punya anak satu sayang?"


Rara yang merasa terkejut tanpa sadar langsung membuka mulutnya dan membuat Adit tersenyum melihat ekspresi yang Rara tunjukkan saat itu


"Apa kamu ga tau tentang itu?"

__ADS_1


Rara pun menjawab dengan menggelengkan kepalanya


"Apa anak perempuan itu mas?"


Adit pun menjawab dengan anggukan kepalanya


"Anak itu bukan anak kandung mbak Wulan sayang, tapi kamu bisa lihat sendiri bagaimana kedekatan mereka berdua"


Entah mengapa tiba-tiba saja Rara menampilkan ekspresi wajah yang terlihat cemas


"Kamu kenapa sayang?" tanya Adit dengan lembut


"Aku cuma takut mas"


"Kamu takut apa sayang?"


"Aku takut kalau aku ga bisa bersikap seperti mbak Wulan saat nanti aku punya anak sama kamu mas"


"Apa kamu mau tau penilaian mas Adit tentang kamu?"


Rara pun menganggukkan kepalanya


"Kenapa kamu bisa bilang seperti itu mas?" tanya Rara dengan serius


"Karena sikap kamu ke Ical saat ini sama persis dengan sikap mbak Wulan dulu ke anak itu, ikatan hati yang sudah terbangun tidak bisa hilang dengan mudah sayang"


"Semoga aja aku bisa belajar dan mengikuti sikap mbak Wulan ya sayang, kamu juga harus selalu mengingatkan aku kalau aku ada melakukan kesalahan sama Ical. Aku ga mau tanpa sadar aku membuat hati Ical jadi sedih," ucap Rara dengan serius


Adit pun langsung memegang kedua pipi Rara dengan senyuman yang terlihat sumringah


"Kamu kenapa sih mas?"


"Apa kamu ga sadar kalau kamu sudah melakukan sesuatu sayang?"


Rara pun menggelengkan kepalanya dengan wajah bingung, Adit pun mencium kening Rara dengan lembut


"Tadi itu untuk pertama kalinya kamu panggil mas Adit dengan sebutan sayang loh"

__ADS_1


Rara yang merasa sedikit malu pun menutupi itu semua dengan wajah seriusnya


"Apa aku ga boleh panggil kamu dengan sebutan sayang mas? kamu aja selalu panggil aku sayang dan ga pernah lagi panggil nama aku lagi"


Adit pun memberikan senyuman yang terlihat hangat


"Bukan ga boleh sayang, mas Adit malah merasa senang mendengar itu." jawab Adit dengan yakin


Rara yang merasa semakin malu hanya bisa membenamkan wajahnya ke dada bidang sang suami, Adit pun mengelus rambut panjang Rara dengan sejuta pertanyaan di dalam benaknya


"Aku yakin itu semua itu bukan cuma ada di dalam film, apa yang sebenarnya sudah laki-laki itu lakukan terhadap Ical?" batin Adit


Adit dengan setia menemani sang istri hingga Rara menuju ke alam mimpi, setelah Rara terlelap dia pun mulai memindahkan tubuh Rara secara perlahan dan keluar dari dalam tersebut lalu menuju ke ruang kerjanya. Adit pun menghubungi seseorang dan memerintahkan sesuatu kepada orang tersebut


Di tempat yang berbeda Adel sedang menghabiskan malamnya seorang diri karena Jonathan kini sudah jarang untuk kembali ke rumah itu, Jonathan hanya sesekali datang ke rumah mewah tersebut untuk mengambil pakaiannya tanpa pernah bermalam di rumah itu


Jonathan sedang melalui hari-harinya seperti dulu lagi, di siang hari dia akan berkerja dan di malam hari dia habiskan di sebuah club bersama teman-temannya. Adel yang tidak ingin harga dirinya memilih untuk menerima itu semua


Hari itu Haikal melihat sang mama masih menggunakan pakaian rumah di saat dia akan berangkat ke sekolah


"Mama ga kerja mah?"


"Mama sudah izin ga masuk kantor sayang, mama lagi kurang enak badan"


Setelah sarapan Haikal pun segera pergi ke sekolah, sedangkan Adel hari itu memutuskan untuk menenangkan hatinya sebelum dia mengambil sikap. Dia sudah bertekad tidak ingin berada di posisi seperti itu selamanya


Sedangkan di tempat yang berbeda tiba-tiba saja pagi itu Rara bersikap sangat manja kepada Adit, dia merasa tidak ingin berjauhan dengan sang suami sama sekali


"Apa kamu harus pergi ke kantor mas? aku mau di temani sama kamu hari ini"


Adit pun tertawa kecil melihat keanehan sang istri, Rara yang melihat di tertawakan oleh sang suami langsung memasang wajah cemberut


"Kamu kenapa sih sayang?"


"Aku ga apa mas," jawab Rara dengan sinis


Adit yang baru pertama kali melihat sikap Rara seperti itu tidak sampai hati bila menolak permintaan sang istri, dia pun memikirkan langkah terbaik yang bisa dia lakukan untuk mewujudkan keinginan sang istri

__ADS_1


"Ya udah mas Adit ga pergi ke kantor tapi nanti siang mas Adit harus pergi sebentar ya, mas Adit ada janji makan siang sama pak Handoko sayang." ucap Adit dengan lembut


Senyuman kebahagiaan langsung terlihat dari bibir Rara pada saat itu, dia pun menjawab dengan anggukan kepalanya. Sepanjang pagi itu Rara tidak mau berjauhan sama sekali dari tubuh sang suami, entah mengapa Rara seperti ingin terus menerus mencium aroma mint dari tubuh sang suami


__ADS_2