Menjadi Istri Kakak Ipar Ku

Menjadi Istri Kakak Ipar Ku
Kembali Ke Keluarga Erlangga


__ADS_3

Wulan bisa bernafas dengan lega karena dia yakin bahwa Adit akan menjadikan Rara sebagai seorang istri dengan semestinya, bukan hanya karena perasaan bersalah atau karena kejadian tersebut


"Sekarang kamu bilang sama mbak, kenapa kamu ajak mbak ketemuan?"


Adit pun memberikan sebuah senyuman yang terlihat canggung


"Aku mau meminta bantuan untuk mencari tau keberadaan Rara saat ini mbak"


Wulan pun langsung membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna, dalam sekejap ekspresi wajah Wulan menjadi tidak bersahabat dan langsung menatap tajam ke arah sang adik


"Apa maksud kamu Aditya Putra Erlangga? baru tadi kamu bilang kalau anak itu ada perasaan sama kamu, kenapa sekarang kamu bilang kalau anak itu pergi dari kamu?" tanya Wulan penuh penekanan


"Untung aja aku ajak ketemuan mbak Wulan di tempat umum, kalau aku ketemuan mbak Wulan di kantornya pasti sekarang aku udah abis di pukul." ucap Adit di dalam hatinya


Wajah Adit sudah tidak menentu pada saat itu, di satu sisi dia takut untuk menceritakan yang sudah dia lakukan kepada Rara tapi di sisi lain dia yakin tidak akan bisa menemukan solusi jika tidak berkata dengan jujur


"Atau jangan-jangan semua yang kamu bilang tadi kebohongan belaka, kamu cuma berniat mengikat anak itu untuk keegoisan kamu sendiri." ucap Wulan penuh penekanan


"Ga kok mbak, aku serius aku juga baru tau dari buku diary Rara." jawab Adit dengan cepat


"Terus kenapa dia pergi dari kamu?"


"Aku secara ga sengaja melakukan sebuah kesalahan sama Rara mbak," jawab Adit dengan hati-hati


"Bicara yang jelas Dit!!"


Dengan berhati-hati Adit mulai menceritakan kesalahan terbesar yang telah dia lakukan terhadap Rara, di mulai dari kecemburuan yang tidak beralasan hingga apa yang dia lakukan pada malam itu


"Apa kamu sudah gila Dit?" tanya Wulan dengan wajah penuh amarah


"Aku tau aku salah mbak, aku pasti akan menebus semua kesalahan yang sudah aku lakukan sama dia mbak. Tapi yang terpenting saat ini adalah aku harus bisa menemukan dia mbak," ucap Adit dengan suara memelas


Wulan menutup kedua bola matanya dan memijat pelipisnya, kepalanya terasa sangat pusing memikirkan kelakuan sang adik


"Mbak mau ya bantu aku?"

__ADS_1


Wulan menghembuskan nafasnya dengan kasar lalu menatap Adit dengan serius


"Mbak pasti akan selalu berusaha untuk membantu kamu sebisa mungkin Dit"


Untuk sesaat Adit di buat bisa bernafas dengan lega karena dia merasa akan mendapatkan bantuan dari sang kakak


"Jadi mbak akan bantu aku kan?" tanya Adit lalu tersenyum


"Untuk yang satu ini sepertinya mbak ga bisa untuk bantu kamu Dit, mencari keberadaan seseorang yang menghilang tanpa jejak bukan hal kecil. Mbak ga mungkin bisa menutupi masalah sebesar ini dari papa," jawab Wulan dengan tegas


Tentu saja Adit tidak mau menyerah begitu saja, dia pun mulai mengeluarkan semua jurus yang dia punya yang selalu dia gunakan untuk membujuk sang kakak. Tetapi tetap saja sang kakak menjawab dengan menggelengkan kepalanya


"Mbak rasa sudah saatnya kamu kembali ke keluarga Erlangga dan mengambil posisi yang seharusnya menjadi milik kamu, dengan begitu kamu bisa lebih leluasa untuk mencari anak itu. Mbak yakin kamu akan lebih mudah menemukan dia dengan menggunakan keluarga Erlangga di belakang kamu," ucap Wulan dengan tegas


"Tapi mbak...." ucap Adit dengan wajah memelas


"Sampai saat ini mbak ga pernah tau alasan kamu yang sebenarnya menolak hal itu, tapi untuk saat ini cuma itu pilihan terbaik yang ada di depan mata kita Dit"


Wulan memang sudah sepenuhnya memegang kendali atas perusahaan keluarga Erlangga, tetapi bukan berarti sang papa melepaskan Wulan begitu saja. Karena semua hal besar yang Wulan lakukan masih berada di bawah pengawasan penuh sang papa


FLASH BACK


"Apa maksud kamu Aditya Putra Erlangga?" tanya sang papa dengan wajah menahan amarah


"Aku tau keputusan yang aku pilih pasti akan membuat papa kecewa, tapi aku benar-benar ingin memulai usaha aku sendiri pah." jawab Adit dengan yakin


"Apa usaha yang akan kamu rintis itu bisa lebih baik dari perusahaan keluarga kita?" tanya sang papa lalu tersenyum sinis


Adit pun tersenyum tipis


"Aku yakin itu semua ga mungkin pah, tapi aku juga ingin punya kebanggaan tersendiri kalau aku berhasil untuk bertahan pah"


Sang papa berusaha sekuat tenaga menahan luapan emosi yang sedang dia rasakan, sedangkan sang mama dan Wulan hanya bisa terdiam seribu bahasa melihat perdebatan panas kedua orang tersebut


"Apa kamu sudah yakin ingin mencoba usaha kamu sendiri?"

__ADS_1


"Iya pah," jawab Adit penuh keyakinan


"Papa akan setuju dengan pilihan kamu kalau kamu menyetujui satu syarat dari papa," ucap sang papa dengan tegas


"Syarat apa pah?"


"Mulai detik ini kamu tidak boleh lagi menggunakan nama besar keluarga Erlangga dan semua dukungan yang ada, baik itu untuk kepentingan pribadi kamu ataupun perusahaan kamu itu." ucap sang papa dengan tegas


Adit yang sudah bertekad untuk melakukan hal tersebut langsung menyetujui syarat dari sang papa


"Papa akan lihat sejauh apa perusahaan kamu itu akan bertahan?"


Adit pun mulai merintis usahanya tanpa nama besar keluarga Erlangga ataupun dukungan apapun dari perusahaan keluarga mereka, lambat laun mulai tersebar kabar bahwa Adit adalah seorang anak yang di abaikan di keluarga besar Erlangga


FLASH OFF


"Apa mbak ga bisa bantu aku kasih solusi yang lain mbak?" tanya Adit dengan wajah memelas


Wulan pun menggelengkan kepalanya


"Jaringan keluarga Erlangga sangat besar Dit, kalau kamu memang mau menemukan istri kamu secepat mungkin hanya itu cara yang terbaik." jawab Wulan dengan penuh keyakinan


Adit pun terlihat terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu


"Apa yang sebaiknya aku lakukan saat ini? tapi aku ga juga ga bisa membiarkan Rara terlalu lama di luar sana, bagaimana kalau sesuatu yang buruk menimpa dia? pasti aku akan lebih merasa bersalah terhadap Rara," ucap Adit di dalam hatinya


"Gimana Dit? mbak harap kamu jangan berpikir terlalu lama, karena semakin lama kamu membuat keputusan maka semakin lama kita bisa menemukan anak itu"


Adit pun menghembuskan nafasnya dengan kasar lalu menatap ke arah Wulan dengan lekat


"Kamu benar mbak, tolong kasih aku sedikit waktu untuk memikirkan tentang perusahaan aku. Setelah itu aku akan segera menemui papa untuk membahas tentang ini." ucap Adit dengan yakin


Wulan pun memberikan sebuah senyuman yang penuh arti dan Adit hanya bisa menatap sang kakak dengan lekat


"Aku harap keputusan aku untuk kembali ke keluarga Erlangga ga akan menyakiti perasaan kamu mbak," ucap Adit di dalam hatinya

__ADS_1


__ADS_2