
Pagi itu tempat bermain cukup ramai, Sam melamun seorang diri sedang anak anak bermain dengan begitu gembiranya. Hanya Sam satu satunya pria di sana. Setiap anak yang berada di tempat bermain itu pergi bersama ibunya. Sam memejamkan matanya dan sesekali mengusap wajahnya. Dia mendengar segalanya, pembicaraan Rein da juga Meli.
Saat pembicaraan itu sedang terjadi Sam ada di depan pintu kamar untuk bersiap keluar dan membantu Rein. Namun Sam mendengar segalanya, hal itu membuatnya sakit. Segala usaha nya untuk membuat Rein tertawa selama ini benar benar terasa sangat sia sia.
Sam frustasi, berkali kali dia menghela napas panjang, berusaha unuk tidak memikirkan kejadian itu namun tak bisa dipungkiri setiap perkataan Rein tersimpan di otaknya. Sam berusaha terlihat baik baik saja, namun sepertinya hal itu sulit untuk dilakukan, Sam sudah memasang wajah sedingin es sejak pagi tadi pada Rein.
Sesekali Sam melihat anak anak yang sedang bermain ceria dan tersenyum pada mereka yang sedari tadi melihat Sam, Sam tidak mau terlihat murung didepan anak anak.
“Hati hati mainnya Mira, Raka. Jangan dorong dorongan nanti jatuh” Teriak Sam.
Sam kembali menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Sam benar benar tak habis pikir dengan segala yang dilakukan Rein padanya, Selama tujuh tahun Sam telah berfikir bahwa Rein telah benar benar jatuh hati padanya dan melupakan bagian masa lalunya, namun pada kenyataannya tidak. Itu semua terlihat palsu dimata Sam hari itu. Segala yang dilakukan Rein palsu.
“Masih kurang kah pengorbananku selama ini? Ku pikir setelah sekian lama kita menikah, Rein akan mencintaiku sepenuhnya. Apa yang kurang dariku?”
Hari itu suasana hatinya benar benar tidak tenang, yang dilakukannya hanya melamun sambil melihat anak anak bermain, segala hal yang dilaluinya sangat berat. Sam menutup kelapanya dengan kedua tangannya sambil bergumam sendiri.
“Apa yang kurang dariku? Aku mencintainya dengan tulus, tidak bisakah dia melihatnya? apa lagi yang harus ku lakukan agar Rein melupakan Rey dan datang padaku. Tidak seharusnya dia seperti ini pada suaminya.”
Sam yang terus memasang wajah sedih terlihat oleh Mira anaknya. Mira anak yang sangat meyayangi ayahnya. Mira keluar dari area permainan meninggalkan Raka bermain sendiri dan langsung berlari menemui Sam dan langsung memeluk Sam.
“Papa, papa kenapa? Mira senang kok papa sedih?”
Senyum Mira langsung mengubah wajah Sam yang murung menjadi tersenyum. Sam memegang wajah kecil Mira dengan kedua tangannya. dan menggelengkan kepalanya.
“Seharusnya aku tidak menunjukkan perasaan sedih pada Mira, tidak seharusnya aku seperti ini” katanya dalam hati.
“Mira main lagi yaa sama Raka. Papa mau kekamar mandi dulu.”
Sam tersenyum dan menyuruh Mira untuk kembali bermain sedang ia menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Sam melihat wajahnya dicermin untuk beberapa saat, berusaha untuk melupakan setiap kata kata Rein, namun tak bisa. Sam merasa tak ada lagi yang bisa dilakukannya.
“Haruskah aku berpisah dari Rein? aku sangat mencintainya. Aku menginginkannya seutuhnya. Apakah keinginanku ini terlalu egois untuk Rein?”
Mungkin air mata tak terlihat di wajah Sam, namun hatinya sakit. Sam sangat sangat tulus pada Rein, Sam rela menunggu Rein selama apapun itu, namun jika Rein memilih untuk tidak benar benar mencintai Sam apakah itu semua sepadan dengan segala yang dilakukan Sam untuknya?
__ADS_1
Sam keluar dari kamar mandi untuk kembali mengawasi anak anak bermain. Waktu sudah mulai sore hari, Sam memanggil anak anak untuk mengajak mereka untuk makan makan sebelum pulang.
“Mira.. Raka, ayo kita makan dulu sebelum pulang” Sam memanggil dengan suara cukup keras.
Mira dan Raka mendengar Sam langsung keluar dari tempat bermain dan mengikut Sam.
Mereka makan bersama, Sam berusaha terlihat seperti tidak ada apa apa, mereka bercanda dan tertawa bersama.
...****************...
Aku dan Meli sedang bertengkar hebat di rumah. Mengetahui aku hanya berpura pura tulus mencintai Sam, Meli sangat kecewa padaku, aku memahami bahwa Meli sangat khawatir padaku.
“Rein, sekarang apa maumu? kamu mau terus terbelenggu dengan masalalumu? Kamu benar benar senang tidak bisa lepas dari bayang bayang Rey sampai saat ini?”
Meli terus dan terus memarahiku, Aku tidak mengeluarkan satu katapun. Berkali kali aku menutupi wajahku, tak tahu bagaimana cara menjelaskannya pada Meli, meski aku menjelaskannya tak mungkin Meli akan mengerti dengan apa yang kurasakan selama ini.
“Mel, sampai kapanpun Rey adalah cinta pertamaku. Dan Sam, dia hanya sebuah kesalahan Mel. dan Sampai kapanpun aku tak akan pernah bisa mencintainya.”
Suasana di rumah sangat panas saat itu, kami benar benar bertengkar hebat, aku mengeluarkan apa yang aku rasakan pada Meli sekeras mungkin, tak bisa ku bohongi hatiku lagi, hatiku tidak bisa berpaling dari Rey selama apapun itu, dan Sam tidak akan pernah bisa menggantikan posisi Rey sampai kapanpun.
Sam melihat ke arah Meli dengan senyuman palsu diwajahnya.
“Meli, bisa aku titip Mira hari ini menginap dirumahmu? Aku dan Rein harus membereskan masalah ini berdua”
Meli melihat kearahku lalu menatap Sam dan menganggukkan kepalanya, Meli mengambil barang barangnya dan mengajak Raka juga Mira pulang kerumahnya. Mira menangis ketakutan saat itu, Hatiku cukup sakit melihat Mira yang menangis ketakutan seperti itu. Bagaimanapun juga Mira adalah anakku, darah dagingku sendiri.
“Mamaa.. mama.. Mira mau sama mama... jangan suruh Mira pergi mama”
Mira menangis sangat kencang, Meli menggendong Mira dan meninggalkan kami berdua. Suara Mira mesih terdengar meskipun sudah keluar dari rumah. Aku menahan tangisku. Bagaiman aku bisa mengatasi ini semua? Apa yang harus ku lakukan sekarang?
Sam mendatangiku, kali ini dia sangat dekat denganku.
“Ayo kita selesaikan masalah ini berdua” dengan suara lembut yang sedikit putus asa.
__ADS_1
Aku melihat Sam dan menggelengkan kepalaku sambil menangis.
“Tidak ada yang perlu dibahas lagi, ini sudah selesai Sam”
Aku meninggalkan Sam namun Sam menahan tanganku, aku berusaha melepaskan diri dari Sam namun tangan Sam terlalu kuat, aku tak bisa melepaskan diri darinya. Makin ku paksa makin kuat tangan Sam menahanku.
“Sam lepas, tanganku sakit” pintaku
Sam masih terus menahan tanganku, dia tak melepaskannya meski tahu aku kesakitan, aku terus berusaha melepaskan diri darinya, namun Sam menarik tanganku yang membuatku berada di pelukannya. Kali ini Sam memelukku seperti tak ingin melepaskanku. Makin tak mungkin aku melarikan diri darinya, tubuhnya yang kekar dan besar benar benar menahanku, tak ada tenaga lagi aku melawan kekuatan Sam yang tak sebanding denganku.
“Sampai kapanpun, aku tak akan melepaskanmu. Kamu milikku, selamanya akan menjadi milikku”
Sam melepaskan pelukannya dan menatapku, tatapan itu belum pernah ku lihat sebelumnya, tatapan yang begitu dingin. Baru pertama ku rasakan, aku ketakutan dengan tatapan Sam padaku.
Sam menarikku ke kamar dengan paksa, dan aku tak bisa lagi melawannya, kekuatanku tak sebanding dengannya. Sam membuka pintu kamar dan mendorongku ke kasur, saat ini posisi Sam ada tepat di atasku, Sam menahan tanganku dan menciumku, ciuman Sam sangat liar kali ini, aku tak bisa bernapas, aku berusaha untuk menghindari ciumannya, namun tak bisa. Aku mendorong Sam sekuat tenaga.
“Sam lepaas” teriakku.
Aku marah pada Sam, aku menamparnya dan menangis, tidak seharusnya Sam melakukan ini padaku. Hal ini bukan main main. Namun Sam tidak berhenti, kali ini Sam menahanku dengan sekuat tenaga dan menciumku kembali, Sam menciumku dengan sangat kasar, aku menendangnya dengan lututku tepat di perutnya agar aku bisa menghindari Sam. Sam memegang perutnya yang kesakitan dengan satu tangan dan tangan yang lain berhasil menangkapku.
Dia menarikku hingga aku terbaring kembali di kasur dan memegangi tubuhku dengan kedua tangannya. Ku lihat wajah sedihnya, air matanya menetes dan jatuh ke wajahku. Dia menangis, Sam masih terus menciumku, aku terus bergerak untuk melepaskan diri darinya.
“Tidak bisakah kamu diam sebentar? Apa aku harus melakukannya lebih jauh supaya kamu mendengarkanku?” Teriaknya. Kali ini tangannya sudah bersiap untuk melepas pakaianku.
Aku terdiam, dan tidak melawan kekuatan Sam lagi. Sam perlahan melepaskan kedua tangannya dan menjatuhkan dirinya keatasku.
.
.
.
.
__ADS_1
Hai semua.. Terimakasih yaa sudah baca novel ini. kalau kalian suka bisa di like dan kasi saran yaa. Saran apapun asal membangun dari kalian sangat penting loh.. 😘😘