
Hari berganti hari dan waktu berganti waktu, tak ada satu haripun dilewati Mira untuk meninggalkan atau membiarkan Arka seorang diri, disaat masa masa sulit yang sedang dihadapi Arka, hanya Mira yang ada disisinya disampin kedua orang tuanya yang selalu memegang tangan Arka bersamanya. Kini kemoterapi tak dapat menyelamatkan nyawanya, hanya mampu memperpanjang sediki hidupnya namun, apakah akan selamanya ia akan merasakan sakit yang terus saja menggerogoti tubuhnya, seperti hidup enggan mati tak mau rasanya.
Kini Arka hanya dapat menghabiskan sisa hidupnya berbaring di rumah sakit dan tak dapat melakukan apapun, wajahnya yang sudah sangat pucat ditambah lagi rambutnya yang sudah tak ada lagi menghiasi kepalanya. Tak ada satupun yang mengetahui tentang kondisinya selain Mira, gadis yang masih tetap menjadi pujaan hatinya.
“Aku datang. Bagaimana keadaanmu?”, tanya Mira yang baru datang setelah pulang dari kampus, kini penampilannya sudah sangat berbeda dari Mira yang dikenalnya ketika masih SMA, ia telah berubah menjadi wanita yang sangat cantik.
“Cantik. Cantik sekali”, ungkapan kagum Arka pada Mira yang saat itu tengah berdiri dihadapannya.
“Aku atau bunga yang kubawa?”, tanya Mira yang tersenyum mendengar gurauan Arka
“Bunga yang kamu bawa tak bisa mengalahkan kecantikanmu, Mira”, jawab Arka mencoba duduk dari posisi tidurnya.
“Jangan paksakan dirimu jika tak bisa melakukannya sendiri”, ucap Mira.
Melihat tubuh Arka yang semakin lama semakin melemah membuat Mira tak kuasa menahan sedih di hatinya, meski ia menahan namun kedua matanay tak bisa berbohong, entah berapa lama lagi waktu yang tersisa bagi Arka, entah berapa lama lagi waktu yang dapat Mira berikan untuk mengisi sisa hidup Arka dengan kebahagiaan. Beruntung kedua orang tua Arka tiba tepat waktu, Mira memiliki alasan untuk pergi ke luar sejenak.
Pergi untuk menangis dan meluapkan kesedihannya di pelukan Raka. Mira selalu pergi dengan Raka ketika ia harus menjenguk Arka di rumah sakit, kini dirinya seperti sudah diambang batas kesedihan, tangisan yang ia tahan sedari tadi akhirnya pecah di pelukan Raka, dalam diam ia menangis, mencoba tak bersuara agar tangisannya tak terdengar oleh Arka dan keluarganya.
“Kak, Mira sudah tak sanggup lagi jika harus berpura pura seperti ini. Melihatnya semakin lama semakin lemah sudah sangat menyakitkan. Aku tak sanggup jika harus kehilangan satu satunya sahabat yang kumiliki”, lirihnya sambil menahan isak tangis yang erdengar sangat menyayat hati. Raka terus mendekap Mira hingga ia merasa tenang tanpa mengatakan apapun lagi. Hatinya juga sangat sedih melihat kekasihnya terus saja seperti ini namun apa boleh buat? Tak ada yang bisa dilakukannya, semua sudah digariskan dan beginilah adanya.
“Jadilah kuat untuknya, jadilah tegar. Kuatkan hatimu karena dengan begitu Arka juga akan kuat. Diakhir hidupnya, berikan dia senyumanmu yang terbaik dan bukan air mata kesedihan”, ucap Raka berusaha untuk menguatkan Mira yang terus saja menangis.
Mira menunggu hingga dirinya tenang dan mengompres kedua matanya dengan es batu untuk sementara agar ia tak terlihat seperti telah menangis, Mira kembali menata hatinya dan menguatkan dirinya untuk kembali menemani Arka didalam.
“Maafkan aku, apakah aku terlalu lama?’, ucap Mira dengan tersenyum seperti tak terjadi apapun sebelumnya.
Matahari mulai menunjukkan waktu senjanya yang indah. Kini ia hanya berdua dengan Arka menikmati matahari yang mulai terbenam di taman. Arka terus saja melihat ke arah matahari senja dan perlahan mengangkat tangannya seolah ingin menggenggam matahari yang mulai terbenam.
“Jika suatu hari tiba waktuku untuk terbenam dan tak juga bangkit, jangan lupakan aku Mira. Sebagai kekasih dan juga sahabatmu, sebagai pria bodoh yang selalu mencintaimu walau pada akhirnya aku tak bisa memilikimu seutuhnya”, ucap Arka sambil terus saja menatap matahari dengan tangannya yang terangkat. Mira kembali meneteskan airmatanya, kini ia memeluk satu satunya sahabat yang sangat disayangi sambil terus menangis. Hatinya menjerit , ucapannya terdengar seperti kalimat perpisahan untuk Mira.
__ADS_1
“Sampai kapanpun, aku akan menyayangimu sebagai seorang sahabat dan juga cinta pertamaku. Terimakasih untuk perasaan tulus yang selalu kamu berikan, maaf jika aku tak bisa membalasnya”, jawab Mira dengan terus mendekap Arka yang duduk di kursi roda. Ia merasakah tubuh Arka yang mulai dingin dan Mira semakin ketakutan, ia takut kalau kalau Arka akan segera meninggalkannya.
“Apa yang kamu katakan? Kamu selalu berada disisiku selama ini, itu sudah lebih dari cukup”, balas Arka dengan menahan tangisnya.
“Mira, apa boleh aku meminta satuhal padamu?”, sambung Arka
“Katakan saja apapun yang kamu inginkan”, jawab Mira yang kini berhadapan dengan Arka.
“Besok jangan temui aku. Aku ingin memberikan sebuah hadiah untukmu. Ku rasa aku sudah tak pernah memberikan apapun untuku bukan? Jadi besok, tolong jangan temui aku. Aku tak ingin kamu mengetahui hadiah yang sedang ku siapkan”, ucap Arka mengutarakan permohonannya pada Mira.
Mira mengangguk mengerti dan berjanji untuk tak menemuinya besok, ia memberikan ruang untuk Arka mempersiapkan sebuah hadiah untuknya. Tak ada kecurigaan dalam diri Mira kala itu.
“Baiklah, mari masuk. Hari sudah malam, kamu harus pulang. Lihatlah kekasihmu menatapku dengan sangat menakutkan. Dia pikir aku tak menyadarinya? Dasar bodoh”, ucap Arka menatap Raka di balik pepohonan sedang memantau mereka berdua.
“Astaga, aku tak menyadarinya”, balas Mira dengan tertawa kecilnya melihat tingkah Raka.
Pagi hari pun datang, hari ini Mira melakukan rutinitasnya speerti biasa, bangun kuliah, bersantai sejenak dengan teman temannya lalu pulang kerumah. Kali ini ia tak menjenguk Arka seperti permintaannya. Namun, ia merasa ada sesuatu yang aneh tengah terjadi, firasatnya mengatakan bahwa hal buruk telah terjadi. Hal yang teramat sangat buruk, Mira merasa tak tenang dan gelisah, entah apa yang membuatnya begitu gelisah.
“Mira tak tahu papa. Mira merasa ada sesuatu yang aneh, seperti mendapat firasat buruk”, jawb Mira dengan gelisah.
“Tentang?”, tanya ku
“Mira pun tak tahu mama”, balas Mira.
“Beristirahatlah, mungkin besok kamu akan lebih baik”, ucap Sam menyuruh Mira beristirahat lebih awal malam ini.
Tepat tengah malam, ketika semua orang telah beristirahat, Arka mengalami sesak napas, bukan sesak napas biasa. Seolah ia sudah tak kuat lagi menarik napas, matanya yang membola membuat kedua orang tuanya panik.
“Haaahhh.... hhhaaaahh”, Arka mencoba tenang dan bernapas namun ia tak bisa.
__ADS_1
“Arka.. Nak.. Bernapaslah”, ucap ibunya ketakutan. Segerap ia menekan tombol darurat memanggil dokter dan suster datang melihat kondisi Arka sudah tak baik baik saja.
“Arka, bersabarlah nak, jangan tinggalkan mama”, lirih ibunya menangis dengan terus menggenggam tangan Arka erat erat.
“Cepat nyalakan defribrilaornya”, perintah dokter segera. Dengan alat pacu detak jantung, dokter mencoba mengembalikan ritme jantung Arka agar ia kembali.
“Naikan tekanannya”, perintah dokter. Namun tak ada yang terjadi.
“Tambahkan lagi”, printah dokter. Bahkan hingga sampai lima kali, detak jantung Arka tak juga kembali. Kini dokter menyerah dan tak bisa menyelamatkan Arka.
“Maafkan kami, anak bapak dan ibu telah meninggal, pada hari rabu pukul setengah satu malam. Sekali lagi maafkan kami”, ucap dokter meminta maaf dan melepas seluruh alat bantu yang terpasang pada tubuh Arka.
“Aaaaa... Anakku.. Arkaa...”, teriak ibunya histeris.
Perasaan sakit yang dirasakan oleh sang ibu sangat dalam, begitu pula dengan ayahnya. Dalam diam ia menangisi satu satunya anak yang sangat ia banggakan pada akhirnya meninggalkan mereka untuk selamanya.
Pagi hari telah tiba dan sangat beruntung Mira bahwa hari ini tak ada kelas, dengan begitu Mira dapat mengunjungi Arka lebih awal dan membawakan kue kering kesukaannya yang adalah hasil buatannya sendiri.
Sesampainya dirumah sakit, Mira segera menuju kamar Arka namun, iya tak mendapati siapapun di sana, seluruh barang barang Arka pun telah hilang, tak ada satupun jejak bahwa Arka masih menempati ruangan itu.
“Suster, pasien ini, dia dimana?”, tanya Mira. Pada saat itu, Mira menyadari bahwa firasatnya adalah sebuah kebenaran. Perasaan tak tenang yang melingkupinya kemarin malam adalah pertanda bahwa hal yang benar benar sangat buruk telah terjadi. Dengan sisa kekuatannya Mira berlari keluar dari mobil ke rumah duka.
Melihat semua orang mengenakan pakaian berwarna hitam membuat Mira terus menangis dan berjalan masuk ke dalam. Seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya, Peti mati dihiasi tanda salib dan lilin didepannya. Ia adalah Arka, Mira menyentuh Arka dengan air matanya yang terus mengalir, merasakan tubuh sahabatnya yang sedingin es. Lagi lagi ia tak percaya dengan apa yang terjadi, Mira menjerit dan menangis membuat semua orang melihat padanya.
Kini tak ada lagi sosok Arka dihidupnya, seorang sahabat yang bertingkah konyol dihadapannya. Ia telah pergi untuk selamanya namun tidak dengan kenangan manis di hatinya, sejenak ia mengurung diri untuk beberapa hari karena tak percaya bahwa Arka telah pergi meninggalkannya. Namun seiring berjalannya waktu, Mira kembali bangkit dan menyadari bahwa Arka akan selalu ada bersamanya, di hati dan setiap langkahnya.
“Akankah Mira baik baik saja? Mengapa ia harus merasakan hal yang serupa denganku?”, ucapku merasa kasihan padanya karena harus merasakan kehilangan untuk pertama kalinya.
“Ia adalah gadis yang tangguh dan kuat, jika kamu saja bisa melewati masa kelam itu bersamaku, maka Mira pun akan mampu melewatinya, bersama Raka. Biarkan ia mengukir kisah pahit manis hidupnya sendiri. Waktu kita telah berakhir untuk melakukan itu”, jawab Sam meyakinkanku.
__ADS_1
Aku bersyukur bahwa Mira mampu bangkit dengan cepat, mungkin ia merasa hatinya sedikit kosong karena Arka tak lagi bersamanya namun aku tahu bahwa ia lebih baik dariku.
~TAMAT~