My First Love ( Kenanganku Terungkap Kembali)

My First Love ( Kenanganku Terungkap Kembali)
BAB 62 | Anak ke Dua?


__ADS_3

Ken terkejut dengan pernyataan dari ayahnya yang tak ia sangka akan didengarnya secepat ini. Segera ia menatap kembali ayahnya dengan memasang wajah terkejut sekaligus tak percaya.


“Melamar Laura?”, ucap Ken mengulang perkataan ayahnya.


“Bukankah itu tujuanmu Ken?”. Tanya Pak Sukmo sambil menyendokkan sesuap ke mulutnya


“Papa sudah cukup melihat keahlianmu dan kini lakukan apa yang kamu mau. Papa akan berikan kamu modal lalu kembangkan usahamu sendiri. Ingat, jangan permalukan papa. Mengerti!”. Ucap Pak Sukmo sambil menunjuk Ken dengan garpu yang dipegangnya.


Bisa ku lihat ekspresi wajah bahagia Ken ketika papa memberikan apa yang diinginkannya dari hasil kerja kerasnya sendiri. Senyuman terus menghiasi wajahnya bahkan sampai acara makan siang ini selesai.


“Papa, Ken harus kembali ke kantor”, ucapnya sambil tersenyum.


“Berhati hatilah Ken”, ucap ibunya.


Segera setelah Ken berpamitan ia menuju mobilnya dan kembali ke kantor. Aura bahagia Ken terus terpancar dari wajahnya dari rumah sampai ke kantornya. Sedang aku masih tetap berada di rumah untuk menghabisan waktu sekeja bersama mertuaku.


“Mama, Rein saja yang membersihkan meja. Mama beristirahat saja”, ucapku.


“Kamu tidak pulang?”, tanya Sam.


“Lihatlah anakmu, Mira merindukan opa nya”. Ucapku sambil menunjuk Mira yang tengah asik bermain dengan papa.


Setiap kakek didunia pasti juga merindukan bisa bermain dengan cucu mereka. Namun papa adalah tipikal orang yang pekerja keras meski di usia senja, bermain bersama Mira adalah satu hal yang jarang bisa dilakukannya karena pekerjaaan yang sangat padat. Sekali lagi ku lihat wajah papa yang bahagia ketika ia bisa bermain dengan cucu kesayangannya.


“Mira memang anak pembawa kebahagiaan. Ken saja sampai tak ingin lepas dari Mira dan sekarang ku rasa papa juga begitu”. Ucapku dengan terus menatap Mira yang bahagia.


“Karena itu cepatlah buatkan papamu cucu agar mama dan papa bisa lebih bahagia lagi”, ucap mama menggodaku.


“Berapa yang mama inginkan? Sam akan berusaha mengabulaknnya. Bukan begitu sayang?”. Ucap Sam sambil mencium keningku.


Aku melihat ke arah Sam sambil mengerutkan keningku serta mematung. Meskipun aku sudah lama menikah dengannya namun aku masih saja belum terbiasa dengan caranya menggodaku yang selalu berhasil membuat jantungku berpacu dengan cepat mendengar setiap godaannya.

__ADS_1


“Baiklah, aku harus pergi sekarang. Jangn pulang terlalu malam sayang. Aku merindukanu”. Ucap Sam dengan kembali menggodaku sambil mengedipkan satu matanya.


“Sam. Hentikan”. Ucapku memukul salah satu lengannya.


Setelah bercanda denganku Sam menuju mobilnya dan segera kembali ke kantor sedang aku masuk bersama mama untuk membantunya membereskan meja makan sebelum akhirnya aku pulang ke rumah.


“Mama bermain saja dengan Mira. Biarkan Rein yang mengurus semua ini, ada bibi juga yang akan membantu Rein”. Ucapku sambil membawa beberapa piring yang dibawa mama.


“Benarkah tak apa?”, tanya mama.


“Rein akan membereskan ini semua. Mama bersantailah dengan papa dan bermain dengan Mira”, ucapku tersenyum.


Mama meninggalkan ku dan segera duduk di samping papa lalu ikut bermain bersama Mira. Suara tertawa Mira yang cukup kencang terdengar olehku bahkan ketika aku berada di dapur. Aku bisa membayangkan betapa bahagianya kedua mertuaku yang bermain bersama Mira.


Selesai membereskan dapur dan meja makan aku menyusul Mira yang sedang dipeluk oleh papa sampai tertidur. Waktu menunjukkan pukul empat sore dan aku harus segera pulang untuk menyiapkan makan malam di rumah. Ku ambil tas ku dan mencoba mengambil Mira dari pelukan papa.


“Rein haruskah kamu pulang sekarang?”. Tanya papa sambil terus menggendong serta mengayunkan tubuhnya pelan.


Aku bisa melihat wajah mama papa yang berubah dari senang menjadi sedikit kecewa karena aku harus membawa Mira pulang. Ingin rasanya berlama lama di rumah mengingat mereka sangat senang dengan adanya Mira di rumah ini.


“Sering seringlah datang Rein atau kami akan merasa kesepian tanpa Mira”. Ucap mama.


Aku mengangguk seraya perlahan mengambil Mira dari pelukan papa yang teah tertidur pulas. Dengan mencium tangan ke mertuaku, aku segera berpamitan pulang dan memeluk mereka yang juga mencium Mira yang tertidur.


“Rein pulang mama, papa”. Ucapku sambil menggendong Mira dan segera pergi.


Ken mencoba menghubungi Laura sedari tadi namun tak ada jawaban dari nya. Maksud hati ingin memberikan berita baahagia padanya namun sepertinya ia harus menundanya karena pekerjaan yang menumpuk dan tak mungkin Ken hanya berfokus pada Laura saja.


“Ada apa?. Mengapa ia tak bisa dihubungi sejak tadi?”, ucap Ken sambil menandatangani dokumen di hadapannya.


Pesan teks yang ditinggalkan oleh Ken juga tak kunjung di jawab oleh Laura yang membuat Ken sulit untuk berkonsentrasi kali ini. Berkali kali ia melihat ponselnya untuk memastikan pesannya telah dibaca atau belum oleh Laura namun sampai saat ini tak ada balasan apapun darinya.

__ADS_1


“Benarkah? Apakah ia sesibuk itu sampai mengabaikan seluruh panggilan dan juga pesanku? Tidak tahukah ia kalau aku sangat merindukannya? Aku juga memiliki berita bahagia untuknya. Ahh.. Haruskah aku menyusul ke apartemennya saat ini?”, omelnya.


Ken memutuskan untuk pulang lebih cepat dan mengistirahatkan tubuh dan juga pikirannya malam ini. Ia berusaha untuk menahan diri agar tak melakukan kesalahan, Ken pulang ke apartemennya dan masih terus mencoba menghubungi kekasihnya.


Perlahan pemikiran yang buruk tentang Laura memenuhi kepalanya yang membuatnya muali gelisah dan berpikir yang tidak tidak. Ken mencoba untuk menenangkan diri sambil berjalan kesana kemari sambil menunggu balasan dari Laura.


“Ah.. Sial. Ponselku mati”. Ucapnya sambil mencoba menyalakan ponselnya


“Semoga tak ada hal yang penting hari malam ini”, guamamnya dalam hati.


“You good?”. Tanya pria yang sedang menyetir di sebelah laura.


“Hmm.. I’m good”, jawab Laura singkat.


“Sepertinya malam ini kita hanya bisa mengunjungi toko perhiasan saja. Tak apa?”, tanya pria itu sembari menyetir.


“Terserah saja”, jawab Laura singkat.


Laura memasuki toko perhiasan sambil melihat lihat betapa cantikya seluruh perhiasan yang ada di toko itu sambil sesekali mencoba beberapa perhiasan yang ia sukai. Tak lama pria itu mengalungkan sesuatu di leher Laura yang membuatnya sedikit terkejut.


“Bagaimana dengan ini? Kamu menyukainya?”, tanya pria itu.


Laura memandang dirinya di cermin sambil melihat kalung yang terpasang di lehernya dan ia mengangguk sambil tersenyum. Beberapa pegawai tersenyum melihat Laura dan pria disampingnya yang sangat tampan.


“Lihatlah pria itu. Tidakkah ia sangat tampan?”, ucap salah satu pegawai kepada pegawai lain.


"Beruntung sekali wanita itu mendapatkan pria setampan dia", balas pegawai lain


“Kita ambil yang ini? Atau kamu ingin memilih yang lebih bagus?”, tanya pria itu pada Laura.


“Ini saja sudah sangat bagus”, ucap Laura sambil tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2