My First Love ( Kenanganku Terungkap Kembali)

My First Love ( Kenanganku Terungkap Kembali)
BAB 68 | Bolehkah Aku?


__ADS_3

Aku terdiam dan termenung dalam kamar seorang diri, ku biarkan perasaan sedih menguasaiku saat itu. Dengan terus memegangi dadaku yang terasa sesak aku menahan tangisku, kini baayangan masa laluku pun datang dan kembali memenuhi pikiranku. Wajahnya sangat mirip sekali degan Rey, pria yang pernah ku cintai namun ia telah pergi meninggalkanku selamanya. Seorang pria yang ku dambakan untuk tetap ada bagiku sampai selamanya namun nyatanya ialah yang menghancurkan hidupku. Mengapa? Mengapa disaat aku telah bahagia dengan Sam wajah itu kembali datang?. Mataku terpejam dan hanya bayang bayang Rey yang ku lihat.


Aku menyeka air mataku yang membanjiri wajahku dan mencoba turun sebelum Sam datang. Namun baru saja aku turun dari ranjangku, Sam masuk ke kamar dan melihat mataku yang bengkak akibat menangis cukup lama.


“Sayang, apa yang terjadi? Mengapa kamu menangis?”, tanya Sam menghampiriku.


“Aku baik baik saja Sam”, jawabku lemah.


Sam terlihat panik melihat kondisiku yang tak terlihat baik. Ia memelukku dan menenangkanku, aku tak ingin memberitahu Sam yang sebenarnya terjadi padaku. Aku ingin mengatasi ini seorang diri, aku sadar bahwa diriku adalah milik Sam saat ini.


“Aku baik baik saja Sam. Jangan khawatir, aku akan menceritakannya saat aku telah siap. Mari turun dan makan malam bersama”. Ucapku menggandeng Sam keluar dari kamar.


Aku merasa buruk malam itu, malam itu aku bahkan tak mengatakan apapun dan hanya makan dengan perasaan yang tak nyaman. Mencoba untuk terlihat baik baik saja dihadapan Sam namun aku tak bisa melakukannya, berkali kali Sam melihat ku menyeka air mataku yang turun dan hanya menungguku menceritakannya.


Selesai makan malam aku menyerahkan seluruhnya pada Bi Sumbi, asisten rumah tangga untuk membereskan rumah dan juga mengurus Mira malam ini karena aku merasa sangat buruk dan ingin segera beristirahat.


“Bi, tolong bereskan semuanya dan urus Mira”, ucapku.


“Tak perlu Bi, saya yang akan mengurus Mira”, ucap Sam melihatku


Sam menarikku naik ke atas dan masuk ke kamar untuk membicarakan masalah yang sedang menimpaku saat ini. Aku bisa merasakan emosi dalam genggamannya yang sangat erat ketika ia menariku.


“Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi padamu, kalau kamu mengabaikanku aku akan terima saja karena mungkin kamu sangat lelah. Namun aku tak bisa melihatmu mengabaikan Mira”, ucap Sam sedikit emosi.


“Baiklah, aku yang akan mengurus Mira”. Jawabku dengan berjalan keluar kamar.


Sam menghampiriku dan menarik tanganku agar langkahku terhenti. Ia menatapku tajam seakan tak mengerti dengan apa yang terjadi padaku. Aku menunduk dan menangis sambil terus menutupi wajahku.


“Maafkan aku Sam, tak seharusnya aku seperti ini padamu”, ucapku dengan terus menangis.


“Ada apa? Aku tak mengerti dengan mu Rein”, ucapnya bingung.


Sejak hari itu aku bertemu dengan Ryan, tetangga yang pindah tepat di depan rumah, hari hariku berubah. Seakan aku kembali seperti Rein yang dahulu, aku yang terjebak di masa lalu. Sam merasakan perubahan yang terjadi padaku sejak ia melihat ku menangis tanpa alasan dihadapannya. Ia bahkan menjari tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku namun ia tak menemukannya karena hal itu hanya aku yang tahu.

__ADS_1


Satu minggu lamanya sejak aku berubah. Tak henti hentinya Sam mencoba menghiburku dan merayuku untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi padaku.


“Rein, apakah kamu ingin pergi berlibur? Aku akan mengosongkan jadwalku untuk menikmati liburan denganmu dan Mira”, ucapnya menatapku.


“Tak perlu, lebih baik aku dirumah mengurusmu dan Mira”, jawabku singkat.


“Apakah kamu ingin pergi berbelanja? Kalau benar iya, kuberikan black card milikku dan berbelanjalah sepuasmu”, ucap Sam mencoba merayuku.


“Tenanglah Sam. Tak ada yang terjadi padaku, aku baik baik saja”, jawabku lembut.


“Dan kamu berharap aku mempercayainya?”, jawab Sam kesal.


“Rein sadarkah kamu kalau sikap dan juga sifatmu sama seperti sembilan tahun yang lalu saat kita baru saja menikah? Tak ada cinta dimatamu waktu itu dan saat ini aku kembali melihatnya. Tak ada cinta dimatamu ketika kamu berbicara denganku sekarang”, ucap Sam menatapku sedih.


Aku menatap Sam dan tersenyum untuk menenangkannya, ku genggam dan ku kecup tangannya untuk meyakinkan Sam bahwa pemikirannya salah tentangku.


“Jangan berpikir yang macam macam. Bukankah kamu yang menarikku keluar dari masa kelamku dan berhasil membuatku jatuh cinta padamu?. Aku mencintaimu Sam dan selamanya akan seperti itu”, ucapku meyakinkannya.


Sam tersenyum sambil mengangguk dan mengecup tanganku . Ia mengambil tas kantor miliknya lalu melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


Aku mengantarkannya sammpai ke depan gerbang dan tanpa terduga Ryan muncul yang membuatku membulatkan mataku terkejut.


“Astaga. bagaimana mungkin?”, ucap Sam


“Ada apa Sam?”, tanyaku menghampirinya.


Sam menunduk sembari melihat dua ban mobilnya yang bocor saat ia harus segera pergi ke kantor pagi ini.


“Gunakan saja mobilku. Aku akan mengurusnya sebelum mengantarkan Mira”. Ucapku mengusap punggung Sam.


“Tak perlu, Mira akan terlambat kalau kamu harus mengurus mobil terlebih dahulu. Aku akan memesan taksi online saja”, ucapnya segera.


Sam menunggu taksi online yang ia pesan tepat di depan gerbang dan aku menemaninya sampai taksi itu datang. Tanpa ku sadari Ryan menghampiri Sam yang sedang menunggu taksi datang menjemputnya.

__ADS_1


“Pak Sam”, sapa Ryan.


“Saya Ryan, tetangga yang baru pindah tepat di depan rumah pak, apa yang anda tunggu?”, ucapnya memperkenalkan diri.


“Oh, saya menunggu taksi online yang saya pesan. Saya harus segera ke kantor untuk menghadiri rapat”, jelas Sam.


“Bagaimana kalau pergi bersama saya? Saya juga harus pergi bekerja, bukankah kita satu arah?”, ucap Ryan.


“Sebaiknya kamu menunggu taksi online saja, jangan dengarkan dia”, ucapku.


Aku tak ingin Sam terlibat apapun dengannya, hanya karena ia memiliki wajah yang sangat mirip dengan Rey, aku mencoba menghalangi Sam untuk akrab dengan Ryan.


“Kalau aku tak menerima tawarannya, aku yang akan terlambat. Tak apa Rein akan ku batalkan saja”, ucap Sam.


“Bolehkah?”, tanya Sam.


“Silahkan”, jawab Ryan.


Aku mengepalkan tanganku melihatnya tersenyum padaku. Bahkan cara tersenyum mereka berdua pun sama, aku mencoba menahan diriku sampai ku lihat Sam pergi dan tak terlihat olehku. Segera aku masuk ke dalam dan ku ambil ponselku lalu menghubungi Meli untuk meminta pertolongannya.


“Mira, hari ini Mira berangkat dengan tante Meli ya sayang”. Ucapku merapikan seragam Mira.


“Ada apa mama? Mengapa bukan mama yang mengantar Mira?”, tanya Mira polos.


“ Mama sedang tak dalam kondisi yang baik sayang. Mama akan menjemput Mira saat pulang”. Ucapku sambil memakaikan tas pada punggung Mira.


Dari dalam rumah ku dengar suara klakson mobil dan segera ku bawa Mira keluar untuk berangkat bersama Meli.


“Maafkan aku sudah merepotkanmu Meli”, ucapku membukakan pintu untuk Mira.


“Tenanglah. Aku akan kembali setelah mengantar anak anak, sepertinya kamu butuh teman”, jawab Meli.


Aku mengangguk dan melambaikan tanganku pada Mira, segera setelah ku lihat mobil yang dikendarai Meli telah pergi, aku masuk ke dalam rumah dan mengambil album yang ku sembunyikan dari Sam selama kami menikah.

__ADS_1


Aku kembali mengenangnya. Bolehkan aku melakukannya meskipun aku telah menikah dan memiliki anak? Bolehkan aku mengenang kisah cintaku yang dahulu bersama Rey?. Tidak bukan?, aku tahu hal itu salah namun sesaat setelah aku melihat wajah Ryan yang sangat mirip dengan Rey, aku ingin kembali mengenangnya.


__ADS_2