My First Love ( Kenanganku Terungkap Kembali)

My First Love ( Kenanganku Terungkap Kembali)
BAB 105 | Jangan Dekati Dia


__ADS_3

Siapa yang tak kenal dengan Mira? Sosok gadis manis nan pintar, berkepribadian baik, dirinya bahkan dieluh eluhkan menjadi gadis idamana setiap laki laki di SMA Harapan Bangsa namun pilihan hatinya jatuh kepada Arka, laki laki biasa saja. Tidak terlalu pintar, tidak terlalu tampan namun ia adalah wakil ketua OSIS, mungkin hal itu yang membuat Mira jatuh hati.


Hubungan mereka sudah diketahui oleh banyak orang, bahkan satpam pun tahu bahwa mereka adalah sepasang kekasih yang sangat serasi. Kisah cinta mereka sangat indah dan menyenangkan, membuat tiap siswa yang melihatnya sedikit mengiri akan hubungan mereka.


“Bisakah kamu seperti Arka? Lihatlah dirinya, baik dan juga setia. Ia tak pernah melirik gadis lain selain Mira”, ucap salah satu siswi dengan kesal pada kekasih yang berada tepat di sampingnya saat Mira dan Arka sedang berjalan menyusuri koridor sekolah untuk pergi ke kantin.


“Arka tak pernah menatap gadis lain karena Mira sudah paket komplit, lihatlah dirimu, pintar juga tidak!!”, balas kekasihnya dengan sedikit rasa kesal, membuat Mira dan Arka mempercepat langak mereka menahan tawa yang tak tertahankan. Keadaan pun sama ditemapt lain, tak jauh beda seperti pasangan sebelumnya ketika mereka melihat Mira dan Arka.


“Hai Mira”, sapa seorang pria yang sedang duduk di sebuah bangku bersama kekasihnya, ia menatap Mira dengan tatapan kagum akan kecantikan Mira dan Mira pun menjawab sapaannya sambil melambaikan tangannya dengan sopan dan segera merangkul lengan Arka menunjukkan bahwa dirinya tengah berjalan dengan kekasihnya. Namun gadis di sebelahnya malah memukul pria yang menyapa Mira karena kesal.


“Jaga tatapanmu!!. Mira takkan menyukai pria sepertimu, bersyukurlah karena hanya aku yang menerima cintamu”, geramnya pada pria yang sepertinya adalah kekasihnya.


Arka menarik tangan Mira dan mendekap tubuhnya yang terlihat mungil ketika disandingkan dengannya, ia tak ingin pria lain menyapa atau menatapnya. Arka yang sebelumnya tersenyum hangat merubah raut wajahnya menjadi cukup menyeramkan. Ia menjaga Mira dari mata laki laki yang berusaha untuk memandangnya.


“Jangan harap mereka bisa menatap gadisku”, ucap Arka dengan suara pelan agar hanya Mira yang bisa mendengarnya. Mira terkekeh dan mencubit lembut pipi Arka yang menggemaskan ketika sedang dalam mode penjaga.


“Lepaskan aku. Kita di sekolah, kamu tak boleh merangkul ku seperti itu”, ucap Mira mencoba melepaskan diri dari Arka.

__ADS_1


Sebuah bangku kosong mereka tempat sambil membawa makanan mereka masing masing ditengah ramainya kantin siang itu, Arka mengunyah makanan dalam mulutnya sambil melihat Mira dengan senyuman yang seperti tak akan luntur dari wajahnya, memandangi gadis dengan rambut panjang yang terikat sambil sesekali membersihkan ujung bibir Mira dari sisa makanan yang menempel. Tatapannya sangat lembut memandangi Mira, Mira yang sadari bahwa Arka memandanginya menatapnya balik.


“Kapan kamu akan berhenti memandangiku?”, tanya Mira sambil terus menatap Arka


“Takkan pernah, aku takkan pernah melepaskan pandanganku padamu, karena aku tahu, sekali aku melepaskan pandanganku maka pria lain akan datang dan merebutmu dariku”, ucap Arka dengan terus menatap kekasihnya itu. Mira hanya terkekeh dan melanjutkan makannya. Berbeda dengan Arka yang nampak serius dengan perkataannya, ia mengetahui saingannya bukan seluruh siswa yang ada di SMA Harapan Bangsa, melainkan orang terdekat Mira sendiri.


“Berhentilah menatapku Arka, kamu membuatku malu”, ucap Mira memohon dengan sangat menggemaskan sambil menutupi wajahnya. Tingkah Mira semakin membuat Arka gemas terhadapnya. Perlahan ia memegang kedua tangan Mira dan menyingkirkan dari wajahnya, membuat mata Mira dan Arka saling bertemu.


“Mira, jangan pernah menatap pria lain seperti kamu menatapku saat ini. Kamu tak tahu betapa bahayanya tatapanmu saat ini”, ucap Arka sambil terus menatapnya. Mira menaikkan kedua alisnya lalu memutar bola matanya mencoba memahami perkataan Arka saat itu namun ia tak paham juga.


“Mengapa? Mengapa tatapanku membahayakan?”, tanya Mira dengan kepolos, kepolosannya semakin membuat Arka tergila gila pada Mira, seandainya mereka tidak di sekolah mungkin Arka sudah memeluk Mira erat erat sambil mencubit cubit pipinya layaknya sebuah bonek yang amat lucu sangking menggemaskannya Mira di mata Arka.


“Baiklah, sepertinya kita harus berpisah. Aku akan mengantarkanmu pulang. Tunggulah aku, biar aku menjemputmu di kelas”, ucap Arka lembut. Mereka beranjak dari duduk mereka dan segera masuk ke kelas masing masing.


Bel tanda pelajaran telah usai berbunyi, seperti yang dikatakan Arka padanya, Mira duduk dan menunggu Arka datang dan menjemputnya, ia terus menunggu ditengah suasana anak anak berhamburan berebut keluar dari kelas hingga akhirnya, pria dengan jakaet kulit hitam dengan tas yang ada di bahunya datang dan memanggil Mira.


“Pulang atau menghabiskan waktu bersamaku melihat matahari terbenam?”, tanya Arka memberikan pilihan pada Mira alih alih mencoba mengajaknya keluar. Mira menggelengkan kepalanya menolak ajakan Arka meski ingin.

__ADS_1


“Maafkan aku, tapi tidak kali ini, aku ingin berada di rumah”, ucap Mira mecolak Arka.


“Ku mohon, satu jam saja. Aku tak puasa hanya beberapa menit saja dikantin bersamamu. Aku berjanji kita takkan lama”, ucap Arka memohon sambil berjanji dan membuat tanda silang tepat di dadanya. Mira menghela napas dalam dan mengangguk seraya menuruti keinginan kekasihnya itu. Dengan mobil Arka, mereka pergi ke salah satu kedai kopi starbank dan menghabiskan waktu bersama ditemani beberapa camilan dan kopi.


“Mengapa kamu makan seperti anak kecil? Lihatlah, aku selalu membersihkan ujung bibirmu dari sisa makanan yang menempel”, ucap Arka mencoba membersihkan sisa makanan yang menempel di ujung bibir Mira, namun sesuatu menghalanginya. Sehelai tisue menutupi bibir Mira. Tanpa disadari seorang pria bertubuh besar dan tinggi mendatangi meja Mira sambil memegangi tisue yang ia berikan pada Mira.


“Gunakan tisue saja”, ucapnya dengan menatap ke arah Arka. Mereka berdua saling menatap.


“Kakak. Apa yang kakak lakukan disini?”, tanya Mira melihat keatas sisi kirinya, Raka sedikit menundukkan kepalanya menatap Mira dengan senyuman. Suatu kebetulan mereka bertemu denag Raka di kedai kopi. Mira mengambil tisue yang diberikan Raka dan membersihkan sendiri sisa makanan yang menempel di ujung bibir Mira sedangkan Raka duduk di samping Arka dan menggesernya ke arah dalam mendekat pada dinding.


“Baru pulang?”, tanya Arka sambil mengambi gelas kopi Mira dan meminumnya tepat dimana Mira minum sebelumnya membuat Arka membulatkan kedua matanya melihat aksi Raka yang begitu berani dihadapannya, kekasih Mira.


“Ya kami baru saja pulang. Untuk apa pria tua sepertimu ditempat ini?”, tanya Arka kesal pada Raka yang tiba tiba saja datang dan mengganggu kebersamaan mereka dan lagi mengatakan Raka sebagai pria tua yang membuat Mira menahan tawanya.


“Aku tak bertanya padamu bocah!!”, balas Raka singkat. Ia ketus pada Arka dan tersenyum manis pada Mira, sungguh membuat Arka sangat kesal. Ia mencoba menggeser Raka sekuat tenaga namun apa noleh buat, tubuh Arka lebih kecil, Raka bahkan tak bergerak sedikitpun meski Arka mencoba untuk menggesernya.


“Sebenarnya papa menghubungiku untuk menjemputmu. Namun aku mampir dulu kemari untuk membelikanmu minuman dingin kesukaanmu sebelum aku menjemputmu. Namun nyatanya kamu pulang bersamanya?”, tanya Raka dengan menunjuk Arka yang berada di sebelahnya tanpa menatapnya. Arka terkejut mendengar Raka menyebut orang tua Mira dengan sebutan papa. Sedekat apa hubungan mereka hingga Raka memanggil orang tua Mira dengan sebutan papa? Arka tak mengetahuinya.

__ADS_1


“Papa? Apa aku tak salah dengar? Ia menyebut om Sam dengan sebutan papa?”, tanya Arka terkejut melihat kedekatan mereka berdua.


“ Yaa itu benar. Kamu kekasihnya namun tak tahu sedekat apa hubunganku dengan Mira? Itu artinya kamu tak mengetahui kalau kita sering tidur bersama?”, tanya Raka mencoba memancing Arka hingga ia lebih kesal dari sebelumnya. Mira terkejut mendengar Raka mengatakan hal tak masuk akal pada Arka, ia mencubit punggung tangan Raka sambil membulatkan matanya menahan emosinya karena ia merasa Raka sudah muali keterlaluan pada Arka. Keinginan Arka agar bisa berdua dengan kekasihnya kandas karena kehadiran Raka yang tiba tiba saja datang dan merusak segalanya.


__ADS_2