My First Love ( Kenanganku Terungkap Kembali)

My First Love ( Kenanganku Terungkap Kembali)
BAB 74 | Tangis dan Kebahagiaan


__ADS_3

Itu adalah teriakkan terakhirku, aku tak kuat lagi. Bahkan untuk bernafas saja dadaku terasa sesak dan tubuhku sakit. Perasaan lega melingkupiku ketika ku rasakan bayi berhasil keluar dari perutku, bersamaan dengan keringat dan air mata yang keluar, aku ingin segera memeluk putriku yang baru saja ku lahirkan. Tanganku bergetar namun ku coba untuk mengulurkan tanganku meminta bayi yang ada di pelukan dokter. Aku tak mengerti mengapa hanya aku saja yang tersenyum dan bahagia, mengapa semua orang di ruangan ini memasang wajah sedih mereka? Dan mengapa pula Sam bertelut sambil menunduk dan menutupi wajahnya. Aku panik, aku takut aku tak ingin apa yang kupikirkan terjadi.


“Dokter, anakku. Berikan anakku”, ucapku dengan lemah dan mengulurkan kedua tanganku.


Para medis menatap ke arahku sedang dokter masih berusaha mengguncangkan tubuh anakku dan sesekali memukul punggung belakangnya. Sebagai ibunya aku tak terima ketika anak yang baru saja ku lahirnya dipukul oleh seorang dokter tanpa sebab.


“Apa? Apa yang dokter lakukan pada anakku? Mengapa memukul anakku. Berikan anakku. Cepat”, sentakku dan menangis


Aku mulai berpikiran yang tidak tidak ketika dokter terus saja memukul anakku dan menekan dadanya. Dengan tangan yang bergetar, aku menangis. Sakit, sangat sakit rasanya. Aku tak bisa mengatakan apapun lagi selain menangis, mataku terus tertuju pada anak yang masih dalam penanganan dokter.


“Sam, ada apa? Anakku, bawa dia kemari. Aku ingin memeluk anakku”, pintaku sambil menangis.


Tak hanya diriku, Sam pun menangis. Aku tak pernah melihatnya menangis dan sangat terpukul seperti ini, ia menangis kencang dan lebih kencang. Rasa sakit yang ku rasakan saat aku mempertaruhkan nyawaku utuk melahirkan putriku tak ada apa apanya dari pada rasa sakit yang ku rasakan saat ini. Tanpa pengertian dari dokter aku dapat mengambil kesimpulan bahwa anakku tak selamat.


Beberapa menit berlalu dan dokter sudah menyerah pada anakku. Tubuhnya yang mulai membiru dan dingin pada akhirnya diserahkan padaku. Anakku tak bergerak dan juga tak bernapas. Ku genggam tangan mungilnya dan ku kecup lembut, aku tak kuasa membendung air mataku. Mengapa ini terjadi padaku? Mengapa dari sekian banyak wanita di dunia ini aku yang harus mengalaminya? Aku sudah melakukan yang terbaik dan berusaha semaksimal mungkin namun mengapa aku harus menghadapi kenyataan pahit ini?


“Sam, anakku. Anakku tak bernapas? Ia harus segera ku beri ASI”, ucapku menngis


Ditengah keterpurukanku Sam mencoba untuk berdiri tegak dan berjalan mendekat padaku meski langkah kakinya seikit gemetar. Ia mencoba untuk menenangkanku yaang tak bisa menerima kenyataan bahwa anak kami telah tiada.


“Rein, sadarlah. Ia telah tiada. Anak kita telah tiada Rein”, ucap Sam dengan nada yang bergetar.


“Tidak Sam, ia akan bangun ketika ia mendengar suaraku. Aku selalu mengajaknya berbicara dan aku yakin kalau ia akan membuka matanya saat mendengar suaraku lebih lama lagi”, ucapku berharap


Aku terus saja mengajak anakku berbicara meski matanya masih terpejam dan tubuhnya makin dingin ku rasakan. Meski wajahnya kaku dan tubuhnya membiru, aku tak menyerah dan masih percaya bahwa anakku akan segera bernapas.


“Rein, aku mengerti perasaanmu namun ku mohon sadarlah. Anak kita tak bisa di selamatkan”, ucap Sam menenagkan ku.

__ADS_1


“Diamlah. Apa yang kamu tahu Sam? Aku ibunya, aku yang mengandungnya selama sembilan bulan, aku yang berjuang mengeluarkannya. Ia ada dalam diriku selama ini, menyatu dengan darah dan jantungku. Dia anakku, kamu tak tahu apapun tentangnya”, bentakku.


Aku merasa terpukul dengan keadaan ini, sejujurnya aku tak ingin mengakui bahwa anakku telah tiada, aku tak ingin menerima kenyataan pahit ini, jauh dalaam lubuk hatiku aku berharap ia kembali. Aku ingin mendengar tangisannya dan merasakan gerakannya.


“Tak apa sayang. Mama disini bersamamu. Maafkan mama, karena mama kamu tak bisa selamat, karena mama sangat lemah kamu tak tertolong”, ucapku menangisi kepergian anak yang baru saja ku lahirkan.


Dalam hatiku aku berdoa dan aku berharap utuk diberikan satu kali lagi kesempatan, hatiku menginginkannya, aku memeluk anakku erat erat seakan tak ingin lepas darinya dan menimangnya sambil bersenandung seperti yang biasa ku lakukan saat anakk masih dalam kandunganku. Aku tak bisa berkata kata lagi, tanganku bergetar menimangnya dan air mataku terus mengalir dengan derasnya. Aku menciumnya untuk yang terakhir kalinya meski hatiku masih tak ingin melepaskannya. Disaat aku menyerahkannya ku rasakan sesuatu dari tubuh anakku


Ku lihat sekilas anakku bergerak dan aku mendengar rengekkan kecilnya, ku lihat tubuhnya yang membiru perlahan berubah menjadi kemerah merahan hingg akhirnya ku rasakan jantungnya mulai berdetak. Tangisannya yang cukup kencang membuat hatiku senang dan gembira, tak kusangka pada akhirnya aku mendengar suara tangisannya, tak kusangka kesedihan tergantikan dengan tawa bahagia.


Aku mendekap anakku dengan erat dan ikut menangis bersamanya. Saat itu aku tak bisa menggambarkan betapa bahagianya aku. Begitu pula dengan Sam, ku raih tangan Sam dan ku berikan anak ini padanya. Ia pun harus merasakan kebahagian itu


“Anakku hidup... Sayang, dia hidup, dia bernapas”, ucapnya sambil menimang dan menangis secara bersamaan.


Tak hanya aku dan Sam yang menangis, dokter dan tim medis dalam ruangan itu pun menangis melihat momen haru yang terjadi padaku, Sam dan juga anak kami. Anak ini adalah anak ajaib, pemberian yang sangat luar biasa dari Tuhan.


“Mama.. Adik Mira sudah lahir?”, tanya Mira


“Lihatlah, ia sedang meminum susu”, jawabku lembut


Setelah anakku selesai menyusu padaku, ku berikan pada ke dua mertuaku yang terlihsat sangat ingin menimang cucu ke dua mereka.


“Cantik sekali cucu oma”, ucap mama


“Lihatlah hidungnya, sama sepertimu Sam”, ucap papa.


“Apakah kalian telah menamainya?”, tanya papa

__ADS_1


“Belum, kami akan segera menamainya”, jawabku singkat.


Aku seakan tak bisa melepaskan padanganku dari anak ini, sesekali ku letakkan tanganku di dadanya untuk memastikan bahwa anakku masih bernapas karena aku masih takut mengingat kejadian beberapa waku lalu.


“Jadi, akan kita namai siapa bayi kecil ini?”. Tanya Sam sambil menyetuh lembut tangan mungilnya.


“Anak ini lebih ajaib dari Mira. Kalau Mira kita beri nama Miracle Setya Agung bagaimana kalau anak ini kita beri nama Grace? Karena anak ini diberikan hidup kedua oleh Tuhan. Grace Setya Agung”, ucapku sambil menimangnya.


“Grace Setya Agung? Nama yang cantik, sama sepertinya”, ucap Sam setuju.


Suara pintu terbuka membuat pandanganku tertuju pada sosok seorang wanitaa yangterlihat bahagia datang menghampiriku sambil membuka tangannya lebar lebar.


“Reina... Selamat, anak kedua mu telah lahir. Biar ku lihat betapa cantiknya anakku”, ucap Meli dengan meminta anak yang ku timang


“Anak mu?”, tanya ku dengan menyipitkan mataku


“Hmm, anakku. Mira juga anakku. Apa itu masalah bagimu?”, tanya Meli dengan menggenggam tangan mungilnya.


“Lihatlah dirinya, sangat cantik seperti ku”, ucap Meli.


Aku dan Sam tertawa mendengar celotehan Meli yang selalu saja seperti ini, kami berencana tak menceritakan kisah dibalik lahirnya Grace pada Meli atau ia akan panik dan membuatku juga Sam pusing mendengar ocehannya.


“Siapa namanya?”, tanya Meli


“Grace Setya Agung”, jawab Sam.


“Nama yang cantik. Sama seperti ku”, ucap Meli lagi.

__ADS_1


“Terserah pada mu saja Meli”, ucap Sam meliriknya


__ADS_2