
Kandunganku kian lama kian membesar begitupun dengan bentuk tubuhku yang terus membengkak setiap harinya. Ku lihat gambar diriku di cermin sambil tersenyum dan menyentuh perutku dengan lembut, aku tak peduli bagaimana bentuk tubuhku asalkan bayi dalam kandunganku sehat dan baik baik saja, aku pun akan tetap baik baik saja. Ku dengar langkah kaki datang mendekat padaku ketika aku tengah bersiap dan ku biarkan ia memelukku.
“Bukankah tubuhku semakin membesar Sam?”, ucapku pada Sam yang merangkulku dari belakang.
“Tak masalah, tubuhmu juga membesar ketika sedang mengandung Mira”, ucap Sam dengan senyumannya yang terpancar dari cermin.
Sam membalikkan tubuh ku dan membuat kami berhadapan. Dengan jemarinya yang menyentuh wajahku, ia membenarkan posisi rambutku yang sedikit berantakan juga merapikan gaun yang ku kenakan saat itu.
“Kami terlihat sangat menawan dengan gaun putih ini. Dan lagi mengandung membuatmu semakin terlihat sangat cantik”. Ucap Sam dengan memegang kedua tanganku.
Aku mendekat pada Sam dan membearkan posisi dasinya juga merapikan sedikit kemeja juga jas yang ia kenakan. Dada yang membidang dan bahu yang cukup lebar memancarkan aura kewibawaannya.
“Kamu sudah siap? Mari kita berangat”. Ucapku dengan menggandeng lengan Sam
Hari ini adalah salah satu hari yang sangat membahagiakan bagi kami semua, khususnya bagi Ken dan Laura yang hari ini akan melaksanakan pernikahan mereka. Proses mereka hingga mencapai titik ini tidaklah mudah dan kini, mereka berdua mengikat janji suci bersama pendeta yang memberkati pernikahan mereka. Berjanji sehidup semati baik suka maupun duka dan terus bersama sampai akhir. Diiringi instrumen yang menambah kesan menyentuh, Ken dan Laura mendeklarasikan janji suci mereka di hadapan Tuhan.
“Saya, Laura Evelyn bersedia menerima Kennan Setya Agung sebagai seorang suami yang akan saya hargai dan hormati serta berjanji akan menemani dalam suka maupun duka, baik sehat ataupun sakit dan akan selalu menemaninya sampai akhir”, ucap Laura mendeklarasikan janji sucinya.
“Saya, Kennan Setya Agung bersedia menerima Laura Evelyn sebagai seorang istri yang saya cintai dan hargai serta berjanji akan menemani dalam suka maupun duka, baik sehat ataupun sakit dan akan selalu menemaninya sampai akhir”, ucap Ken mendeklarasikan janji sucinya.
Dihadapan seluruh tamu undangan yang hadir dalam pemberkatan nikah sekaligus resepsi pernikahan mereka, Ken mengecup lembut bibir Laura menandakan mereka telah resmi menjadi pasangan suami istri. Aku melihat air mata Laura turun karena perasaan bahagia yang tengah dialaminya saat ini. Pernikahan mereka diadakan secara outdoor di sebuah hotel mewah di Jakarta dengan sangat meriah. Aku merasa sedikit iri dengan Laura dan Ken yang berbahagia di hari pernikahan mereka, tak sepertiku yang pada awalnya tak merasa bahagia.
“Ada apa? Apa kamu lelah?”, tanya Sam yang entah kapan berada di sampingku.
__ADS_1
“Tidak, aku tak lelah. Aku hanya menikmati momen bahagia mereka”, ucapku sambil meminum segelas anggur di tanganku.
“Benarkah? Sepertinya bukan, katakanlah”. Ucap Sam merangkulku.
“Aku sedikit iri dengan Laura dan Ken saat ini. Yang ku maksudkan bukan karena pestanya yang meriah atau apapun itu. Namun hari bahagia mereka, dihari pernikahanku aku tak merasakan kebahagiaan sedikit pun kala itu. Hal itu telah berlalu jadi aku memutuskan untuk tak lagi memikirkannya”, ucapku dengan memaksakan senyumanku
“Kamu ingin mengulangnya kembali?”, tanya Sam lembut
Aku menggelengkan kepalaku dan melemparkan senyuman pad Sam, ku sandarkan kepalaku pada Sam yang berdiri tepat di sampingku. Aku tak ingin mengulangnya, biarlah menjadi pelajaran bagiku dan menjadi penyesalanku sendiri. Dengan begitu aku akan selalu mengingat bagaimana perjuangan Sam hingga berhasil meluluhkan hatiku dan bagaimana aku sangat mencintainya hingga saat ini.
Waktu berlalu dengan begitu cepat hingga pesta telah usai, kini Laura tak lagi tinggal di apartmen miliknya naamun bersama dengan Ken yang saat ini adalah suaminya. Bersma Ken, Laura menjalani kehidupan yang baru yaitu kehidupan sebagai sepasang suami istri.
“Aku tak percaya pada akhirnya kita akan menikah Ken”, ucap Laura memasuki apartemen Ken
“Mengapa? Kamu tak percaya padaku? Atau kamu sudah menemukan penggantiku kalau kalau aku tak bisa menikahimu?”, jawab Ken santai dengan melepaskan jas miliknya.
“Kemarilah, berikan aku kecupanmu lagi Lau”. pinta Ken dengan membuka kedua tangannya lebar lebar sambil berlajal menuju Laura.
“Tak mau. Aku akan mandi terlebih dahulu”, jawab Laura menghindar.
“Aku akan menemanimu Lau”, balas Ken segera
“Aku sedang datang bulan. Jangan macam macam denganku” balas Laura tersenyum.
__ADS_1
“Laura selalu saja haid setiap bulan. Haruskah aku membuatnya berhenti haid selama sembilan bulan?”, gerutunya
Bagi Ken larangan adalah perintah yang harus dilakukan meskipun Laura sudah mengatakan bahwa ia sedang datang bulan namun Ken tetap bersih keras ingin bersamsa dengan Laura. Ken masuk ke dalam kamar mandi secara perlahan dan ia melihat Laura sedang berendam di dalam bathtub dengan rambut yang terikat sampai ke atas. Keinginan utuk menyentuh Laura yang menjadi istrinya sangat besar namun Ken mengurungkan niatnya karena Laura mengatakan bahwa ia sedang datang bulan.
“Laura, apa kamu benar benar sedang datang bulan?”, tanya Ken dengan wajah yang sangat menginginkan sesuatu.
“Ingin ku perlihatkan darah ku?”, tantang Laura.
Ken menghela napas panjang dan segera melepas seluruh pakainannya lalu mandi dengan shower, bukan pertama kali bagi Laura melihat Ken telanjang tepat dihadapannya. Namun entah mengapa hari ini Laura merasa malu melihat Ken yang saat ini menyaksikan Ken yang sedang mandi.
“Ada apa dengan ku? Bukankah bukan pertama kalinya aku melihat Ken seperti ini?”. Batin Laura dengan memalingkan wajahnya.
Ken dan Laura tak saling bicara hingga Ken selesai membersihkan diri. Ia mengambil handuk dan mengeringkan tubuhnya lalu mengenakan baju tidur yang ia bawa sebelum mandi.
“Kamu belum selesai? Jangan terlalu lama atau kamu akan merasa pusing karena terlalu lama berendam”, ucap Ken lalu meninggalkan kamar mandi.
Laura menganggung dan menenggelamkan dirinya ketika ia melihat Ken telah pergi meninggalkannya seorang diri. Laura menutup matanya dan menahan napasnya cukup lama.
“Haahh ... Haahh ...”, suara napas terengah
“Mengapa aku malu pada Ken? Bukankah ia saat ini adalah suamiku? Sadarlah Laura, ia bukan lagi kekasihmu. Untuk apa kamu merasa malu telah melihat tubuhnya?”, ucapnya pada dirinya sendiri.
Cukup lama Laura berendam sampai pada akhirnya ia selesai memandikan diri, ia keluar dari kamar mandi dengan mengenakan baju tidur dan melihat Ken yang masih terjaga dengan memainkan ponselnya. Tanpa mengatakan apapun Laura segera tidur dan memejamkan matanya, perlahan Laura merasakan Ken mendekap hangat dirinya dan merasakan hangatnya pelukan Ken.
__ADS_1
“Good night Lau”, ucap Ken mencium kepala Laura
“Good night Ken”, jawab Laura.