
Sam masuk ke kantornya dengan wajah yang sedikit kesal. Dia melonggarkan dasinya dan melepaskan jasnya lalu meletakkan dikursinya. Sam duduk sambil menghela napas panjang lalu memejamkan matanya sekejap dan mengetuk meja dengan jari jarinya. Saat memejamkan mata yang terlihat hanya wajah Rein istrinya, dia hanya melihat senyum Rein, wajah lucu nya ketika sedang terkejut, wajah marahnya karena kesal akan hal kecil dan segala hal tentang Rein membuat Sam yang awalnya kesal perlaha tersenyum. Dia membuka matanya dan melihat ke langit langit, membayangkan betapa menyenangkannya kalau saat ini Sam bisa bertemu dengan Rein.
Siang itu Rein datang ke kantor dengan pakaian sederhana namun terkesan cukup elegan, seluruh pekerja disana menyapa Rein dengan sopan karena dia adalah istri dari Sam direktur perusahaan tersebut.
“Selamat siang bu Reina” Sapa mereka
Rein hanya mengangguk sambil tersenyum sopan. Mereka terpanah melihat Rein yang sangat cantik. Dengan penampilan yang bisa dibilang sederhana namun aura kecantikannya benar benar terpancar.
“Eh, itu istrinya pak bos? Cantik sekali” Kata salah satu pegawai.
Semua mata seakan akan tertuju pada kedatangan Rein siang itu.
Hanya berjarak beberapa menit saat Sam memikirkan Rein, seseorang mengetuk pintu ruangannya dan masuk ke ruangan Sam. Dia adalah Rein dan anaknya Mira. Sam tersenyum lebar melihat istri yang dicintainya datang disaat Sam sedang memikirkannya. Sam membenarkn posisi duduknya wajahnya terlihat sangat senang akan kedatangan Rein.
“ Rein, ada apa?” Sambil tersenyum
Rein mendatangi Sam dengan senyuman sambil membawakan bekal makanan untuk Sam, sedang Mira berlari ke arah Sam dan langsung naik ke pangkuan Sam sambil memeluknya dan mencium pipinya.
“Papa” Memanggil dengan bahagia
“Tadi pagi kan kamu belum sempat bawa bekal, jadi setelah jemput Mira aku langsung kemari untuk mengantarkan bekal ini.” Kataku.
Rein meletakkan bekal di meja Sam, dari baunya saja Sam sudah menegtahui kalau ini adalah makanan faforitnya. Ikan pesmol dan tumis kangkung juga potongan buah melon kesukaan Sam.
“Oh iyaa, nanti sepertinya aku pulang agak malam, aku harus ke rumah mama, mama merindukan Mira katanya” Sambil mengelus kepala Mira
Sam mengangguk sambil tersenyum. Rein mendapatkan ijin dari Sam untuk menemui ibunya.
“Mama kita mau ke rumah oma?” Tanya Mira kegirangan.
Mira tidak bertemu dengan omanya selama tiga tahun, karena jaraknya yang cukup jauh dan kondisi orang tua Rein yang sudah tidak kuat lagi menempuh perjalanan jauh.
Siang itu aku mengantarkan bekal ke kantor Sam dan langsung menuju ke rumah mama bersama Mira. Cukup lama perjalanan yang kami tempuh, hampir tiga jam. Mira mempunyai sifat yang sama seperti ku, dia selalu tidak suka kesunyian, apapun akan dia bahas jika mulai merasa bosan. Mulai dari nama oma dan opanya, makanan kesukaan mereka, dan masih banyak lagi pertanyaan pertanyaan yang ditanyakan Mira padaku.
“Mama, apa oma pernah memarahi mama?” Tanya nya.
Aku melihat ke arah Mira sekilas dan menjawabnya sambil mengangguk dan tersenyum.
“Iya, dulu mama anak yang cukup nakal dan suka berkelahi dengan teman mama, Sampai oma datang dan memukul juga menghukum mama tidak boleh bermain berasama teman teman mama” Jawabku.
Mendengar itu Mira tertawa, aku melihatnya tertawa terbahak bahak, sepertinya senang sekali Mira mendengarnya.
“Mama sama saja, waktu Mira bertengkar mama juga memarahi Mira, padahal mama juga melakukan hal yang sama sewaktu kecil”
__ADS_1
Mendengar itu aku tersenyum kecil dan juga sedikit malu pada diriku yang dulu. Sifat dan karakter Mira benar benar cukup mirip denganku, atau mungkin semua perempuan melakukan hal yang sama? entah mereka masih kecil atau sudah dewasa. Sama sama mudah terpancing emosinya.
Suasana hening sementara, ku lihat Mira sedang melihat jalan dengan cukup konsentrasi, seperti ada yang dipikirkannya. Karena tidak biasanya Mira tiba tiba diam seperti ini.
“Mira memikirkan apa?” Tanya ku penasaran.
Mira hanya menggelengkan kepalanya dan melihat kearahku sambil tersenyum
“Mama, mama sayang papa kan?” Tanyanya.
Mira sering sekali menanyaiku pertanyaan seprti ini. Aku pun tak tahu mengapa.
“Mama jangan bertengkar dengan papa lagi yaa. Mira sebenarnya suka tinggal bersama kak Raka, namun Mira tidak mau jauh dari mama. Mira takut mama.” Pintanya dengan wajah yang mulai sedih.
Aku melihat ke arah Mira dan membelainya juga mencobit kecil pipinya. Dengan menghela napas panjang aku menjawab
“Mira, urusan mama papa biar mama papa yang selesaikan, Mira tidak perlu memikirkan sampai seperti ini. Mama mengerti Mira sayang mama dan Papa dan tidak mau melihat mama papa bertengkar, tapi ini bukan hal yang harus Mira pikirkan, Oke” Jawabku dengan senyum
Aku benar benar paham kalau Mira cukup ketakutan saat itu, pertama kali baginya mendengar perkataanku seperti itu dan melihatku menangis juga dipisahkan dari orang tuanya. Pasti sangat menakutkan bagi anak seusianya.
Kami hanpir sampai ke tujuan kami. Dan dari jauh Mira sudah bisa melihat oma dan opanya tersenyum menunggu kedatangan kami. Mira melambaikan tangannya sambil tersenyum senang. Kami sampai dan turun dari mobil. Mira langsung berlari dan memeluk oma opanya.
“Aduh aduh. cucu oma sudah besar dan cantik yaa.” Puji oma dengan senyuman.
“Astaga cucu opa cantik sekali. Kamu cantik seperti mamamu sayang” Sambil memegang wajah mungil Mira.
Aku turun dan memeluk mama papaku dengan tersenyum.
“ma, pa.” Sambil memeluk.
Kami masuk kerumah untuk berbicara sebentar, sambil mengistirahatkan tubuh. Mama berjalan dengan membawa nampan teh untukku dan susu untuk Mira.
“Ayo minum dulu, pasti kalian lelah karena perjalanan sangat panjang.”
Mama menyuruh Mira untuk bermain sebentar denggan ikan dan anjing kecil di taman belakang.
“Mira, bisa ke taman belakang sebentar? Oma punya anjing kecil yang lucu, Mira ke sana sebentar yaa” Suruhnya.
Aku melihat ke arah mama dan papaku, aku sudah menduganya, Mira hanya sebuah alasan, dan tujuan sebenarnya bukan karena benar benar merindukan Mira.
“Mama tidak benar benar merindukan Mira?” Tanyaku dengan tatapan sedikit curiga.
Mama hanya mengerutkan alisnya dan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Kami merindukan Mira, Mira cucu satu satunya, kami kesepian disini Rein” Jawab papa.
“Kalau mama papa merindukan Mira, lalu mengapa menyuruh Mira bermain di taman belakang?” Tanyaku semakin curiga.
“Kamu tidak berubah ya Rein” Kata papa dengan sedikit senyuman diwajahnya.
Ku lihat Mira sedang asik bermain dengan anjing kecil di taman belakang dengan gembira dan kembali melihat orang tuaku.
“Mama papa mau bicara apa sama Reina?”
Dengan sedikit berhaarap bahwa mereka tidak membahas tentang hubunganku dengan Sam. Aku benar benar malas mendengarnya.
“Kamu bahagia sama Sam?” Tanya mama.
Aku menarik napas panjang sambil memejamkan mataku sekejap.
“Rein baik baik saja dengan Sam ma, Rein bahagia karena kami punya Mira sekarang” Jawabku.
“Reinamamamu hanya takut kalau kamu tidak bahagia hidup bersama Sam, kami hanya ingin kamu bahagia” Kata papa.
Aku melihat kearah orang tuaku dengan tatapan datar. Mereka ingin melihatku bahagia, mereka berharap aku bahagia, dengan cara memaksaku menikah disaat aku belum siap dengan segalanya sampai saat ini. Disaat aku benar benar sedang sedih dengan kepergian Rey, mereka menjodohkanku dan menikahkanku dengan laki laki yang bahkan aku tak mencintainya. Dan mereka mengatakan ingin yang terbaik untukku dan ingin melihatku bahagia?
Aku menahan rasa sakit didadaku mengingat hari itu, hari dimana aku menikah dengan Sam.
“Mama papa ingin melihat Reina bahagia? Apa mama papa tahu kalau Reina berusaha untuk terlihat baik baik saja? Bahkan sampai sekarang Reina belum mencintai Sam, Reina masih merindukan Rey. Dan sekarang mama papa ingin Rein bahagia?”
Aku mulai menangis, mengapa kedua orang tuaku sangat egois padaku?
Aku berusaha menenangkan diri dan menghapus air mataku dan mengontrol emosiku, jangan sampai Mira melihatku menangis atau dia akan khawatir.
Papa datang dan duduk disebelahku sambil memelukku dan mencium keningku. Sedewasa apapun aku, papaku akan selalu memperlakukanku seperti putri kecilnya yang selalu dipeluk dan dicium.
“Rein, mama papa hanya tak ingin kamu terus menerus memikirkan Rey, karena itu kami menjodohkanmu agar kamu bisa menemukan kebahagiaanmu yang baru, namun mama papa tak menyangka kalau kamu tidak merasa bahagia bersama Sam. Maafkan kami nak” Seru papa dengan nada sedih.
Aku hanya terdiam mendengar perkataan papaku. Aku mengerti tujuan mereka baik padaku, namun kalau bukan karena Mira aku tak ingin hidup bersama Sam, meskipun aku tahu Sam sangat baik dan sangat mencintaiku.
.
.
.
.
__ADS_1
Hai semua.. Terimakasih yaa sudah baca novel ini. kalau kalian suka bisa di like dan kasi saran yaa. Saran apapun asal membangun dari kalian sangat penting loh.. 😘😘