My First Love ( Kenanganku Terungkap Kembali)

My First Love ( Kenanganku Terungkap Kembali)
BAB 92 | Dia seorang Pria atau Seorang Kakak?


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul sebelas malam namun kedua orang tua Mira dan Grace tak kunjug pulang, begitupun dengan Raka yang masih merasa betah berlama lama di rumah Mira. Karena sangat jarang sekali Raka bisa mengunjungi Mira semalam ini sejak ia beranjak remaja, bukan karena tak ingin namun karena Sam yang menjadi lebih posesif terhadap anak gadisnya. Bagaimanapun mereka bukanlah saudara kandung meski mereka sangat dekat layaknya adik kaka.


“Kak, ini sudah lewat dari jam sepuluh malam. Kakat tak kembali pulang?”, tanya Mira yang masih menemani Raka di ruang tengah sambil memainka ponselnya.


“Aku tak ingin pulang. Apa kamu sudah mengantuk?”, tanya Raka.


Mira menggeengkan kepalanya dan kembali memainkan ponselnya, berbeda dengan Grace yang sedari tadi menahan rasa kantuknya untuk tetap berada di ruang tengah bersama beberapa camilan yang masih belum habis termamakan. Dengan terus memaksa kan kedua matanya untuk terbuka meski sudah memerah, Grace melihat ke arah Mira dan Raka.


“Tidurlah Grace. Lihatlah matamu yang sangat merah itu”, ucap Raka lembut.


“Aku tak mengantuk kak”, balas Mira sambil menopang wajah dengan kedua tangannya.


“Mengapa kakak tak pulang? Apa kakak tak takut pulang terlalu malam?”, tanya Mira mulai khawatir dengan Raka.


“Tenanglah. Aku laki laki dewasa, aku tak takut apapun di jalan. Lagi pula aku sudah tak pernah lagi mengunjungimu hingga selarut ini bukan? Papamu selalu mengusirku tepat pukul tujuh malam”, ucap Raka dengan memainkan resleting pada jaket kulit yang ia kenakan.


“Bukankah kita selalu bersama sejak kecil? Aku menginap pun tak masalah saat ini. Namun mengapa ketika aku mulai duduk di bangku SMA papamu selalu membatasiku?. Seperti orang asing saja”, gerutuya kesal dengan sedikit memanyunkan bibirnya.


Mira tertawa melihat kakak kesayangannya itu terlihat kesal dan menggerutu seperti itu, ia menyadari bahwa Sam sangat posesif padanya karena ia adalah anak perempuan pertama Sam. Meski dirinya juga sedikit kesal namun melihat Raka memanyunkan bibirnya seperti itu benar benar sangat lucu bagi Mira, salah satu tangannya menutupi mulutnya saat tertawa dan tangan lain menepuk lengan Raka dengan pelan yang membuat Raka tersenyum manis melihat adiknya yang tertawa lepas seperti ini.

__ADS_1


“Mungkin karena papa melihat kakak bukan lagi anak anak melainkan seorang laki laki. Karena itu papa membatasi kakak dan sedikit menjaga jarak antara kakak dan aku”, ucap Mira sambil menyeka ujung matanya yang mengeluarkan air mata akibat tertawa.


“Lalu, apa kamu juga melihatku sebagai seorang laki laki? Atau kamu tetap melihatku sebagai seorang kakak yang menyayangimu?”, tanya Raka melihat kedalam mata Mira.


Mira terdiam mendengar perkataan Raka padanya, seakan seperti bom waktu yang menghentikan waktu yang berputar disekelilingnya. Tanpa disadari matanya terus menatap ke arah Raka, entah sejak kapan ia merasakan jantungnya berdebar. Perasaan yang tak pernah ia alami sebelumnya, mereka saling berpandangan dan tak ada satupun dari mereka yang mampu melepaskan pandangan mereka.


“Sadarlah Mira, dia kakak mu. Mengapa jantungmu berdebar? Kendalikan perasaanmu bodoh”, gumam Mira dalam hati sambil terus memandangi Raka.


“Dia benar benar tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat cantik. Tak ku sangka dia bisa mengetarkan hatiku seperti ini. Dia adkmu Raka, sadarlah”, gumam Raka dalam hati.


Hingga suara seperti barang terjatuh membuyarkan lamunan mereka, Grace yang mengantuk tanpa sadar terjatuh karena tak lagi kuat menahan kantuknya sedari tadi. Meski jatuh hingga melukai tubuhnya pun Grace takkan terbangun jika ia sudah sangat mengantuk. Entah gempa bumi, tsunami bahan suara petir menyambar dengan begitu hebatnya pun takkan mampu membanguunkan Grace yang tertidur pulas. Mira dan Raka melihat ke arah Grace yang sudah terjatuh sambil menahan tawa mereka. Beruntunglah lamunan mereka berakhir bersamaan dengan Grace yang terjatuh, kalau tidak, takkan ada yang tahu apa yang akan terjadi pada mereka berdua.


“Jadi kakak akan pulang sekarang?”, tanya Mira yang melihat Raka turun dari kamar Grace.


“Apa kamu masih menginginkanku disini?”, tanya Raka sambil tersenyum lembut.


Mira mengertutkan keningnya dan mencoba memalingkan wajahnya yang terlihat malu karena jawaban dari Raka sambil melipat kedua tangannya. Raka berjalan dan duduk disamping Mira, sudah hampir tengah malam dan Raka masih tetap berada di samping Mira, menunggunya sampai ia mengantuk.


“Jadi bagaimana hari harimu di SMA? Apa kamu sudah memiliki kekasih?”, tanya Raka sambil memainkan jari jarinya dan sedikit menunduk mecoba melihat wajah Mira dengan jelas.

__ADS_1


“Kekasih? yang benar saja. Kakak lupa bagaimana posesifnya papa terhadapku? Pergi berdua denganmu saja aku harus kembali di rumah pukul delapan malam, bagaimana bisa aku mendapatkan kekasih? Jangankan denganmu kak, teman laki lakiku yang menghampiriku di rumah, berbicara denganku hanya lima menit namun dengan papa bisa sampai satu jam. Benar benar menyebalkan!!”, gerutunya dengan memasang wajah kesal.


Raka terkekeh dengan cerita Mira yang sungguh lucu menurutnya,ia mencubit kedua pipi Mira yang chubby dengan lembut sangking gemasnya dengan adik kesayangannya itu lalu membawa tubuh Mira kedalam pelukannya yang biasa dilakukannya dahulu. Mira tersenyum dan membalas pelukan Raka sambil bermanja pada Raka seperti yang sering dilakukannya ketika ia kecil.


“Kalau kamu anakku. Mungkin aku akan melakukan seperti apa yang papamu lakukan. Jangan sampai anakku yang cantik salah memilih pria untuk menjadi kekasihnya”, ucap Raka sambil mencubit kecil hidung Mira.


“Haaachimm... Hhh..haa..Haaaciim”, Sam tiba tiba bersin ketika dirinya sedang tidur sambil memelukku.


Dengan terkejut aku tersadar dan membuka kedua mataku. Aku tertidur pulas tiba tiba terbangun karena suara bersinnya yang cukup kencang dan bertenaga itu.


“Ada apa?”, tanyaku dengan menggosokkan mataku


“Aku tak tahu, aku merasa hidungku gatal. Sepertinya ada yang sedang memicarakanku diam diam Rein”, ucap Sam sambil terus menggosok hidungnya hingga memerah.


“Apa? Bagaimana bisa kamu bersin karena orang lain sedang membicarakanmu? Ada ada saja kam”, balasku dengan menepuk wajah Sam menyudurhnya kembali tidur.


“Benarkah? Ah, aku yakin ada yang sedang membicarakanku saat ini. Namun siapa yang menggosipkan ku malam malam begini?”, pikirnya mencoba menebak nebak siapa yag sedang membicarakannya.


“Sudahlah, jangan kamu pikirkan. Kembali tidur, sebentar lagi matahari akan terbit”, ucapku sambil mencubit hidung Sam yang mancung itu. Sam memelukku dan melanjtkan kembali tidurnya dan tak lagi memikirkan tentang bersinnya.

__ADS_1


__ADS_2