My First Love ( Kenanganku Terungkap Kembali)

My First Love ( Kenanganku Terungkap Kembali)
BAB 82 | Berkah atau Masalah?


__ADS_3

Keadaan Pak Rudy yang semakin lama semakin memburuk membuat Meli sangat khawatir pada ayah mertuanya hingga ia membawanya ke rumahnya dan merawatnya pribadi. Meli tak ingin mengambil resiko yang lebih berbahaya lagi ketika ia harus meninggalkan mertuanya hanya dengan asisten rumah tangga yang merawatnya. Uang bukan masalah untuk Meli, berapapun akan ia pakai untuk merawat mertuanya yang sakit sampai keadaannya membaik.


“Papa tenang saja. Meli akan ada disini untuk merawat papa, jangan khawatir dan cepatlah sembuh”, ucap Meli menghampiri ayah mertuanya


Perasaannya sangat tulus pada mertuanya, tak heran Pak Rudy sangat menyayangi Meli. Ia menjaga dan melindungi ayahnya dari segala macam bahaya, termasuk dari Reno yang bisa melakukan apapun untuk mencelakai ayah kandungnya sendiri.


Disebuah ruangan yang hanya ada Meli seorang, ia duduk sambil mengetuk ketukkan jemarinya di meja dan wajahnya terlihat cukup frustasi. Kali ini ia harus berjuang seorang diri untuk melindungi keluarganya dari Reno, diwaktu lalu Reno berhasil membuat ayahnya sendiri celaka dan tak ada yang tahu apa yang akan dilakukan Reno setelah ini.


“Aku tak bisa membiarkan papa atau anakku disentuh oleh Reno”,gumamnya dalam hati.


“Apakah ini saja cukup untuk melindungi mereka?”, ucapnya sambil menyandarkan tubuhnya di kursi tempat ia duduk.


Banyak hal yang dipikirkan Meli hingga ia tak bisa tidur malam ini, kantung mata hitam dan membesar mengatakan bagaimana keadaannya saat ini. Meli bersiap siap berangkat kerja dan lagi lagi ia harus meninggalkan Raka sendiri tanpa nya.


“Raka, mama berangkat lebih dulu. Kamu akan diantar oleh sopir ya sayang”, ucap Meli mencoba mencium kepala anaknya.


Raka menghindar dari Meli yang hendak menciumnya dan memasang wajah kesal dan matanya berkaca kaca. Napasnya sesunggukkan sambil menyeka air matanya yang turun, Meli melihat anaknya yang bertingkah seperti ini padanya dan memasang wajah bingung.


“Ada apa? Mengapa kamu menangis?”, tany Meli.


“Tidak bisakah mama yang mengantar Raka? Sudah satu bulan lebih mama tak pernah menemani Raka seperti dulu lagi. Raka merindukan mama yang dahulu”, ucap Raka menangis.


Meli mengerti perasaan anaknya, ada harga yang harus ia bayar jika ia ingin melindungi keluarganya. Bekerja keras adalah solusinya untuk memberikan mereka rasa aman dan nyaman. Meli mendekati Raka dan mencoba untuk memeluknya namun Raka tetap berusaha untuk menghindar dan mendorong Meli menjauh darinya. Ia hanya merindukan sosok ibu yang dahulu selalu ada bersamanya dan menemaninya dalam situasi apapun.


“Kalau Raka bisa memilih, lebih baik kita hidup seperti dahulu. Meskipun sedih namun mama selalu ada untuk Raka”, ucapnya mencoba mengatakan isi hatinya.


Meli menatap ke arah anaknya dan memejamkan kedua matanya lalu menggelengkan kepalanya. Baginya, Raka masih terlalu kecil untuk memahami apa yang ia lakukan saat ini. Meli tak sakit hati dan tak marah melihat perlakuan Raka padanya , dengan cepat ia mendekap Raka anaknya dan menahannya dalam dekapannya.

__ADS_1


“Kamu masih terlalu kecil untuk mengerti apa yang mama lakukan saat ini sayang. Maafkan mama jika mama terkesan seperti tak memperhatikan Raka. Percayalah mama melakukannya untuk Raka dan untuk opa. Sekali lagi maafkan mama yaa nak”, ucapnya mencium kening anaknya.


Meli mengambil tas dan kunci mobil yang ia letakkan di meja makan dan tersenyum pada anaknya. Ia pergi meninggalkan rumah untuk kembali bekerja, dalam hatinya Meli cukup sedih mengingat perlakuan Raka atasnya namun Meli menguatkan hatinya dan melakukan apa yang dianggapnya benar.


“Semangatlah Meli. Kamu harus melindungi keluargamu”, ucapnya dalam mobil.


Dengan menginjak pedal gas Meli berangkat ke kantor menggunakan mobilnya dan membiarkan anaknya diantar oleh seorang sopir. Mengingat anaknya yang sedang kesal padanya, Meli memutuskan untuk mengajak anaknya makan siang bersama dan mengosongkan jadwalnya hanya untuk anaknya.


Aku mengingat bahwa hari ini Meli mengajakku makan siang bersama dan ia berjanji untuk menceritakan apa yang terjadi padanya selama ini. Ku bawa Mira dan Grace juga pengasuhnya bersamaku. Setelah menjemput Mira ku istirahatkan ia sebentar karena aku akan mengajaknya keluar.


“Mira, hari ini Mira jangan bermain yaa. Tidurlah karena siang ini mama akan mengajak Mira makan siang dengan tante Meli juga kak Raka”, ucapku setelah menjemput Mira.


“Baik mama”, jawabnya manis


Aku menghubungi Sam meminta ijinnya karena aku akan menemui Meli saing ini. Saatnya pun hampir tiba, aku menyiapkan Mira dan Grace di bantu oleh pengasuhku lalu kami berangkat ke tempat makan siang seperti biasanya. Berniat ingin berangkat, Meli mengirimi ku pesan singkat yang bertuliskan


Tulisnya yang membuatku tertawa membacanya. Segera aku lekas berangkat bersama kedua anakku dan pengasuhku, sesampainya aku disana ku lihat Meli telah siap dengan minuman yang berada tepat di hadapannya sambil memainkan ponselnya dan sesekali melihat ke arah luar.


“Maafkan aku yang selalu terlambat”, ucapku sambil menggandeng Mira.


“Selalu saja seperti ini. Untung saja kamu sahabatku”, ucap Meli


“Mama.. Mira bermain yaa”, ucapnya meminta ijinku karena melihat Raka yang sedang bermain dengan gembira


“Pergilah bermain sayang. Tolong awasi Mira dan bawa Grace bersama mu yaa. Dan pesan apa saja, saya yang akan membayar”, ucapku pada pengasuhku


“Baik bu”, jawabnya

__ADS_1


Meli menarik kedua tanganku dan membuat sanggahan kepalanya, ia menutup matanya dan menghela napas panjang. Aku tertawa melihat tingakhnya yang masih tetap seperti ini, aku membiarkannya sekejap sampai ia membuka matanya kembali dan mengangkat kepalanya.


“Aku sangat lelah Rein, kehidupan ini sungguh amat sangat melelahkan”, keluh Meli padaku


“Ada apa? Sebesar apa masalahmu hingga kamu mengeluh begini?”, tanyaku pada Meli


“Intinya saat ini aku merawat mertuaku di rumah. Aku tak bisa meninggalkannya sendiri bersama asisten rumah tangga. Seperti yang ku katakan saat aku aku menghubungimu, Reno yang menyebabkan masalah ini dan alasan mengapa aku bekerja sebagai pemimpin perusahaan menggantikan mertua ku adalah karena ia yang menuliskannya pada surat wasiat”, ucap Meli


Aku menatap terkejut padanya, aku tahu bahwa Pak Rudy sangat menyayangi Meli namun aku tak pernah berpikir bahwa ia akan memberikan perusahaan atas kendali Meli meskipun hanya untuk sementara.


“Apa? Jadi saat ini kamu bekerja di perusahaan menggantikan posisi Pak Rudy untuk sementara? Lalu bagaimana dengan Reno?”, tanyaku


“Aku tak tahu dan tak terlalu peduli tentangnya. Yang pasti sebentar lagi Reno akan mengetahui bahwa papa tak ada di rumahnya dan bisa ku pastikan bahwa ia akan mencari ke tempatku”, jelasnya.


Penjelasan dari Meli membuatku menyadari bahwa alasan Raka murung dan tak bersemangat seperti biasanya adalah karena ini, Meli pasti tak memiliki waktu untuk Raka semenjak ia bekerja di perusahaan. Aku tak tahu ini adalah sebuah berkah atau masalah untuk Meli, disatu sisi saat ia menjadi pemimpin perusahaan maka ia bisa memberikan yang terbaik untuk anaknya namun disisi lain hal ini pasti merebut hampir seluruh waktu Meli untuk anaknya


“Raka pasti kesepian bukan?”, tanyaku langsung.


“Maksudmu?”, tanya Meli tak mengerti


“Mira sering mengatakan padaku bahwa Raka sering murung dan tak bersemangat ketika ia di sekolah. Mira mengatakan ia tak pernah makan meskipun membawa uang dalam jumlah cukup banyak jadi beberapa kali aku sering menitipkan bekal Raka pada Mira”, ucapku lambut.


“Benarkah? Raka tak pernah mengatakannya padaku. Mengapa kamu tak mengatakannya Rein?”, tanya Meli


“Sama halnya dengan kamu menganggap Mira anakmu, Raka juga sudah seperti anakku Mel, tak banyak yang bisa ku lakukan untuknya”, ucapku sambil melihat ke arah Raka yang tersenyum bahagia


“Kamu benar benar sahabatku yang terbaik. Terimakasih Rein, aku tak tahu bagaimana jadinya kalau aku tak memilikimu disisiku”, balas Meli dengan menggenggam kedua tanganku

__ADS_1


__ADS_2