My First Love ( Kenanganku Terungkap Kembali)

My First Love ( Kenanganku Terungkap Kembali)
BAB 84 | Rencana Bunuh Diri


__ADS_3

Teguran pria tua yang menghalangi mereka berdua dan menarik perhatian Meli. Dengan napasnya yang terengah ia berdiri tepat di hadaan Meli dan Pak Hendra sambil menunjuk mobil yang hendak mereka pakai. Meli dan Pak Hendra saling menatap karena mereka bingung dengan perkataan pria tua ini.


“Maafkan saya namun jangan gunakan mobil ini. Ini sangat berbahaya”, ucap pria tua itu


“Apa maksudnya?”, tanya Pak Hendra tegas.


“Tak perlu didengarkan, mari kita berangkat”, perintah Meli segera


Mobil itu mulai berjalan dengan kecepatan penuh hingga pada akhirnya ia kehilangan kendali. Tak ada yang dapat mengehentika mobil yang berjalan dengan kecepatan tinggi di sebuah jalan yang cukup sepi saat itu. Hingga pada akhirnya mobil itu menabrak truk bermuatan air sebanyak 15.000 Liter, kecelakaan yang terjadi cukup menggemparkan, mobil itu terpental dan terbalik hingga akhirnya terbakar hingga hangus tak bersisa. Yang tertinggal hanya sebuah plat nomor yang bertuliskan P 175 SW.


Mobil Meli terbakar habis dalam kecelakaan itu, tak lama setelah kejadian itu aku melihat sebuah berita lewat ponselku. Sebuah mobil putih yang terasa sangat familiar menjadi gambar highlight dalam berita itu. Mataku terbelak melihat mobil dalam berita itu, terasa sangat tak asing bagiku, ku coba untuk memperbesar memastikan bahwa dugaanku salah namun ternyata tidak. Aku sangat mengenalnya, itu adalah mobil milik Meli. Ku rasakan jantungku berhenti dalam sekejab dan napasku hilang dalam sesaat, dadaku terasa sesak melihat berita itu dan air mataku mengalir. Seperti tak bisa berbicara rasanya setelah melihat berita itu, dengan menahan tangisku ku ku coba menghubungi Meli meski tanganku bergetar namun ponselnnya tak bisa dihubungi. Aku terus mencobanya berkali kali sambil memukul dadaku yang sakit.


“Cepatlah angkat Mel”, gumamku dalam hati.


Aku membanting ponselku ketika aku tak mendapatkan jawaban dari Meli. Hal yang membuatku sangat yakin bahwa benar itu Meli adalah karena plat nomornya yang sesuai dengan milik Meli. kakiku bergetar tak kuat menopang tubuhku hingga akhirnya aku jatuh tersungkur sambil menangis kencang. Aku berteriak sejadi jadinya, dalam benakku aku masih tak mempercayainya namun bukti yang ku lihat sangat kuat.


“Tidak.. Tidak!!! Melllliii”, teriakku.


Sekali lagi aku kembali menangis, kehilangan orang yang sangat disayangi sangatlah menyakitkan, Meli sudah seperti saudaraku sendiri dan aku tak percaya bahwa ia telah tiada. Ku dengar ponselku berbunyi namun tak ku hiraukan, tak ada yang dapat menghentikan tangisku kala itu, asisten rumah tanggaku atau seorang pengasuh pun tidak, aku menepuk dadaku dan terus memanggil manggil nama Meli hingga Sam datang menghampiriku dan memelukku. Aku tak bisa membendung kesakitan yang ada dalam hatiku saat itu, emosiku keluar begitu saja setelah mengetahui musibah yang dialami oleh sahabatku.


“Rein, tenanglah. Belum tentu itu Meli. Polisi masih belum menemukan jasat Meli” ucap Sam mencoba menenangkanku


Aku tak mempedulikannya dan terus saja menangis, tak ada satupun yang dapat menenangkanku saat itu, aku merasakan sakit yang luar biasa hingga aku tak dapat mengatasinya dan hal itu merenggut kesadaranku, aku jatuh dan pingsan setelahnya.

__ADS_1


********Flash back beberapa jam yang lalu*************


“Ku mohon dengarkan aku. Aku mengatakan yang sesungguhnya. Seorang pria akan mencelakaimu, ia memotong kabel rem dan memasang sebuh bom di bawah mobilmu. Priksalah jika tak percaya padaku” ucap pria tua itu berusaha meyakinkan Meli.


Langkah Meli terhenti dan melihat pria tua ini yang seperti serius dengan perkataannya, Meli tak melihat suatu kebohogan pada wajahnya yang kala itu sangat panik, ia menyuruh Pak Hendra untuk memastikan perkataan pria tua ini apakah ia berbohong atua tidak.


“Pak Henra, tolong periksalah mobil ini dan pastikan perkataan pria in berbohong atau tidak?”, perintah Meli.


Dengan segera Pak Hendra melihat ke bagian bawah mobil untuk mencari sebuah bom yang terpasang menurut pria tua itu dan ia tak menemukannya. Ia beralih ke arah kap mobil dan membukanya, wajahnya cukup serius saat ia melihat setiap kabel yang terpasang hingga matanya tertuju pada sebuah benda yang berkedip dan mengambilnya.


“Bu Meli, speertinya pria ini mengatakan yang sebenarnya. Saya menemukan sebuah bom berukuran kecil seperti ini”, ucapk Pak Hendra


“Kamu yakin itu bukanlah alat pelacak?” tany Meli dengan melihat benda kecil di tangan Pak Hendra.


Meli terkejut dan ia sangat marah karena ia tahu siapa yang merancangkan sebuah kejahatan seperti ini padanya. Meli melihat ke arah pria tua ini dan tersenyum padanya sambil menjabat tangannya. Ia tak tahu bagaimana ia harus berterimakasih kali ini karena pria tua ini telah menyelamatkan nyawanya.


“Saya berterimakasih pada anda. Namun bisakah anda berpura pura tak melihat dan mengetahui saya? Jangan katakan apapun tentang masalah ini. Jika anda melakukannya saya akan sangat berterimakasih”, ucap Meli dengan rendah hati.


Pria tua itu mengangguk dan meninggalkan Meli, Pak Hendra melihat ke arah Meli dengan mengerutkan keningnya tanda ia tak mengerti dengan maskud Meli, Pak Hendra merasa bahwa Meli memiliki sebuah rencana kali ini.


“Apa yang anda rencanakan?”, tanya Pak Hendra.


“Mobil ini bisa dikendalikan dari jarak jauh. Mari kita lakukan seperti yang dia inginkan, aku akan melakukannya sesuai dengan keinginannya”, ucap Meli tersenyum

__ADS_1


Ia mengetahui bahwa Reno adalah dalang dibalik sega ayang terjadi. Dengan mematikan ponselnya dan ia juga memerintahkan Pak Hendra untuk mematikan ponselnya. Rencana yang hanya diketahui oleh dua orang itu mulai dijalankan. Dengan pengendali jarak jauh, Meli menjalankan mobil miliknya sendiri dengan menaiki mobil mlik Pak Hendra, sekertarisnya.


DUUUUAARRR


Dan kecelakaan itupun terjadi bahkan lebih dahsyat dari apa yang ia bayangkan. Meli menatap sebuah mobil kesayangannya yang dengan susah payah ia beli pada saat itu namun sekarang Meli harus mengorbankannya untuk mencapai sebuah tujuannya..


“Mari pergi dari sini ke tempat yang sudah saya katakan”, perintah Meli


Mobil yang disetir oleh Pak Hendra melaju ke tempat yang sudah Meli katakan. Di tempat yang tak ada satupun yang mengenal mereka, untuk sementara Meli bersembunyi hingga waktunya tepat.


“Bagaimana dengan Raka?”, tanya Pak Hendra


“Rein pasti telah mengambil Raka dan membawa mertuaku ke dalam rumahnya. Rein takkan membiarkan keluargaku disentuh oleh Reno”, ucap Meli tenang


“Maksud anda, ini semua ulah Reno?”, tanya Pak Hendra


“Siapa lagi yang dapat melakukan hal gila seperti ini jika bukan dirinya? Berkali kali ini mencoba menjatuhkanku namun segala upayanya gagal hingga ia merencanakan untuk membunuhku”, ucap Meli


Dalam hatinya pastilah ia khawatir dengan anak dan mertuanya yang terpaksa ia tinggalkan untuk sementara waktu, Meli memejamkan kedua matanya dan menghela napas panjang, ia meneguhkan hatinya untuk melangkah ke tahap selanjutnya setelah ini.


“Setelah mengantarkanku, tolong amankan pria tua yang telah menyelamatkan nyawaku. Aku akan membutuhkan bantuannya setelah ini dan juga hubungi Rein dan katakan bahwa aku baik baik saja namun rahasiakan keberadaanku. Aku yakin ia pasti menangis dan menggila saat ini mendengar kabar mengejutkan tentangku”, ucap Meli mencoba tenang untuk menyusun langkah selanjutnya


“Baik bu”, jawab Pak Hendra

__ADS_1


__ADS_2