
Meli memastikan bahwa Reno tak pernah mampu mendapat kabar dari luar penjara, seluruh kaki tangan dan orang kepercayaannya telah di lumpuhkan olehnya. Meli kembali dari tempat persembunyiannya setelah berhasil memenjarakan Reno dan membalaskan dendamnya, ia kembali mengambil anak dan mertuanya dirumahku. Perlahan Meli melangkahkan kakinya dan membuka pintu rumahku. Keadaan sore itu sangat ramai dan menyenangkan di pemandangan Meli hingga ia memanggil Raka dengan suara lembut dan bergetar menahan tangis akibat rindu yang ia pendam selama satu bulan lebih.
“Raka”, panggilnya dengan senyuman
“Mama ....”, balas Raka menoleh lalu berlari memeluk Meli.
Aku melihat ke arah sumber suara itu dan mataku tertuju pada Meli yang berdiri sejajar sambil memeluk anaknya. Yang bisa ku lakukan hanya tersenyum sambil memejamkan mataku karena pada akhirnya ia kembali dengan selamat dan aku tak melihat ada yang kurang dari dirinya.
“Mama mengapa lama sekali meninggalkan Raka? Raka merindukan mama”, ucapnya sambil bermanja pada Meli.
“Maaf sayang. Ada yang harus mama selesaikan, sekarang kita bisa pulang bersama”, ucap Meli dengan menyeka air matanya.
Aku berjalan ke arah Meli, akhirnya aku dapat melihat sahabatku kembali setelah sekian lama. Akhirnya aku melewati masa masa kekhawatiranku, ku rangkul Meli dengan sangat erat karena aku pun sangat merindukannya, aku takut hal buruk terjadi padanya. Tak bisa ku bayangkan bagaiman keadaannya diluar sana saat dirinya harus berjuang sendiri menghadapi ancaman dan menyelesaikannya seorang diri. Meli benar benar seorang wanita yang kuat dan tangguh.
“Aku sangat merindukanmu. Aku takut terjadi hal buruk padamu”, ucapku dengan memeluknya erat erat.
“Aku baik baik saja. Bagaimana keadaanmu?”, ucap Meli melepaskan pelukan kami.
“Aku baik”, jawabku singkat dengan menyeka air mataku.
“Terimakasih sudah menjaga anakku dan mertuaku” ucap Meli sambil memegang tanganku.
__ADS_1
“Tidak, keluargamu adalah keluargaku. Terimakasih telah kembali dengan selamat”. Balasku merangkul Meli dan mengajaknya masuk.
“Makan malam lah bersama kami. Aku merindukanmu, Sam pun pasti begitu”, ajakku.
“Baiklah, namun dimana bayi kecilku? Aku ingin memeluknya”, ucap Meli dan menanyakan Grace, anakku.
Dalam sel penjara, Reno terlihat sangat gelisah karena ia tak mendapat satu pun kabar, bahkan Kinan kekasihnya pun tak datang mengunjunginya. Perasaan takut dan gelisah bercampur menjadi satu dalam hati Reno. Ia tak menyangka bahwa dirinya akan berakhir didalam sel penjara.
“Meli!!! Hidup matimu adalah masalah bagiku”, geram Reno
Mobil terparik tepat di pintu masuk perusahaan dan Meli kembali menginjakkan kakinya di perusahaan itu. Semua mata tertuju pada Meli seakan tak percaya dengan apa yang mereka lihat saat ini.
“Apakah aku bermimpi? Benarkah itu Bu Meli?”, tanya salah satu karyawan.
Meli dengan santainya melewati semua karyawan yang bekerja dan berjalan menuju lift untuk menuju keruangannya. Ia mengerti bahwa orang orang bertanya tanya dengan apa yang sebenarnya padanya karena Meli menutup rapat rapat berita tentang dirinya.
“Langkah apa yang selanjutnya akan anda ambil? Saya yakin sebentar lagi dewan direksi akan sangat marah dengan tindakan anda yang seperti ini”, ucap Pak Hendra.
“Biarlah itu terjeadi. saya siap dengan segala resikonya, lagipula mereka tak ada niatan jahat”, balas Meli santai.
Meski Meli mampu memimpin dengan baik namun terkadang caranya mengambil keputusan sering tak sejalan dengan dewan direksi yang membuat mereka takut bahwa Meli akan merugikan perusahaan atau memberikan dampak negatif. Meski begitu cara Meli menyelesaikan masalah tergolong unik dan berbeda dari pemimpin pada umumnya yang membuat para dewan direksi sangat menghargai dan menyayangi Meli sebagai direktur utama perusahaan meski statusnya hanya sementara.
__ADS_1
“Baiklah, mari bekerja. Tolong beritahu seluruh investor dan perusahaan yang bekerjasama dengan kita untuk kembali membahas tentang kerjasama ini di minggu depan”, perintah Meli pada Pak Hendra.
“Baik bu”, jawabnya singkat.
Keadaan di luar ruagan Meli cukup ramai dan mereka saling berbincang satu sama lain mengenai kembalinya Meli ke perusahaan, beberapa dari mereka percaya dan ada juga yang tak percaya sebelum mereka melihat dengan mata mereka sendiri bahwa Meli saat ini tengah berada di ruangannya.
“Aku sama sekali tak percaya bahwa ia adalah Bu Meli. Bukankah sudah dikatakan bahwa Bu Meli meninggal akibat kecelakaan? Tak mungkin ia masih hidup”, ucap salah satu pegawai yang tak percaya.
“Aku melihatnya dengan mataku sendiri, Bu Meli turun dari mobil dan berjalan menuju lantai paling atas dan masuk ke ruangannya”, tegas karyawan lain.
“Aku juga melihatnya namun aku tak melihat wajahnya. Bisa saja orang itu adalah seorang tamu yang kebetulan memiliki jenis tubuh yang sama dengan Bu Meli”, seru pegawai lainnya.
Waktu terus berjalan dan pembicaraan mereka pun tak berhenti. Beberapa dari mereka bekerjsa sambil berbicara dan lagi lagi Meli adalah topiknya.
“Apa? Apakah anda bercanda? Karyawan yang bekerja di tempat ini hampi mencapai angka seribu dan anda ingin mentraktir mereka makan malam?”, tanya Pak Hendra terkejut.
“Mengapa terkeju? Sudah sepantasnya seorang pemimpin mentraktir anak buahnya bukan?”, jawab Meli singkat
“Namun apakah harus seperti ini?”, tanya Pak Hendra meragukan Meli
“Apakah salah jika saya ingin membagi kebahagiaan saya hari ini bersma dengan para karyawan? Biarlah mereka juga ikut merasakan kebahagiaan ini”, jawab Meli
__ADS_1
“Bagikan amplop itu pada tiap kepala divisi dan kepala bagian, biarlah mereka mentraktir anak buah mereka dengan uang itu. Kamu juga, pulanglah lebih awal dan makanlah sesuatu yang enak”, ucap Meli sambil menunjuk ke arah amplop yang telah ia isi dengan sejumlah uang didalamnya.