
“Raka? Ada apa kemari?”, tanya Sam yang tiba tiba datang tak tahu dari mana. Pakaiannya terlihat sangat santai menandakan ia tak bekerja hari ini, Sam duduk disampingku sambil memandangi Raka yang duduk dihadapannya.
“Hari ini Raka akan pergi bersama Mira, mungkin sampai malam”, jawab Raka singkat.
“Tapi Raka, kamu tahu bahwa Mira saat ini memiliki kekasih?”, tanya Sam sedikit mengubah percakapan mereka. Raka terdiam dan sedikit menunduk mendengar pertanyaan dari Sam yang seperti menusuk dirinya, ia seperti merasa bahwa Sam sedang menunjukkan bahwa Mira saat ini telah memiliki kekasih dan tak seharusnya ia pergi dengan pria lain seharian meskipun bersama seorang sahabat sekalipun. Bagaimanapun Mira dan Raka tak memiliki hubungan yang lebih dari seorang sahabat. Raka kembali menegakkan kepalanya dan tersenyum pada Sam.
“Raka mengetahuinya. Namun, Mira adalah serang sahabat, kami bersahabat dari kecil jadi ku rasa Mira juga takkan keberatan jika dia pergi bersamaku meski itu seharian”, ucapnya mencoba menjawab tanpa membuat Sam memikirkan yang tidak tidak tentangnya.
“Ah, baiklah. Jaga Mira baik baik dan meskipun kamu adalah sahabatnya..”
“Pulagkan Mira sebelum jam sembilan malam. Raka takkan melanggarnya”, jawabnya memutus perkataan Sam yang belum selesai.
Sam tersenyum mengangguk pada Raka. Sebuah langkah kaki terdengar menuruni anak tangga, ia adalah Mira, menggunakan pakaian seperti yang dikatakan oleh Raka padanya lengkap dengan jepit yang menghiasi rambut panjang indahnya membuat kesan imut dan menggemaskan layaknya gadis SMA. Dalam sekejap Raka terpanah dengan penampilan Mira yang sederhana namun mampu membuat jantung Raka berpacu dengan cukup cepat. Gadi cantik itu telah mencuri perhatian dan juga hati Raka dalam sekejap.
“Baiklah, aku siap”, ucapnya dengan tatapan yang sedikit kesal pada Raka karena ia harus bangun sebelum waktunya.
“Om, tante, Raka dan Mira pergi dahulu”, ucapnya berpamitan pada ku dan Sam lalu menggandeng tangan Mira dan meninggalkan rumah. Aku melihat ke arah Sam, entah apa yang ia pikirkan. Mengapa ia menanyakan masalah kekasih pada Raka? Aku merasa bahwa Sam tak ingin Raka dekat dengan Mira hanya karena Mira telah memiliki kekasih.
__ADS_1
“Apa? Mengapa menatapku seperti itu?”, tanay Sam yang tak mengerti mengapa aku menatapnya dengan tatapan kesal apda suamiku sendiri.
“Ah, karena aku menanyakannya pada Raka? Apakah itu salah? Aku hanya menanyakannya, aku tak bermaksud apapun”, jawab Sam dengan santainya sambil mengangkat kedua bahunya secara bersamaan.
“Benarkah? Sepertinya kamu tak menyukai Raka dengat dengan Mira hanya karena Mira telah memiliki kekasih”, balasku kesal.
“Bukankah wajar? Ketika wanita memiliki kekasih seharusnya ia tak boleh terlalu denagn pria manapun, termasuk sahabatnya sendiri”, balas Sam mencoba menjawabku. Aku pun merasa ucapan Sam ada benarnya. Namun pria itu adalah Raka, mengapa Mira tak boleh dekat dengan Raka?
“Sejujurnya, aku lebih menyukai Raka yang menjadi kekasih Mira dari pada Arka. Aku tak tahu mungkin karena aku belum mengenal Arka sepenuhnya seperti aku mengenal Raka”, ucap Sam dengan meneguk secangkir kopi dihadapannya lalu kembali menatapku. Aku tak menyangkal perkataan Sam namun bukan berati aku menyetuji pemikiran Sam.
“Bagaimana denganmu? Arka atau Raka?”, tanya Sam balik ke arahku. Aku hanya bisa terdiam dan tak mampu menjawab pertanyaan sesederhana itu. Aku memutar bola mataku alih alih mencari jawaban menentukan pilihan.
Dalam mobil yang terkesan cukup sepi itu, Mira beberapa kali menghela napas dalam dan matanya sama sekali tak memandang Raka. Meski begitu Raka hanya bisa tertawa memandang kelucuan Mira yang sedang merajuk itu, Raka mencubit kecil pipi Mira yang sedikit chubby dan kenyal namun Mira menepis tanga Raka yang mencubitnya.
“Fokuslah menyetir dan jangan ganggu aku!!”, ucap Mira kesal sambil melipat kedua tangannya sejajar dengan perutnya. Raka terkekeh melihat tingkah lucu Mira dan ia menyentil lembut kening Mira yang membuat Mira berpura pura kesakitan seakan akan sentilan Raka cukup menyakitkan.
“Jangan menyentilku terus!! Bagaimana kalau Arka tak ingin menikahiku karena aku bodoh?”, tanya Mira kesal sambil memegangi keningnya yang tak terasa sakit sama sekali itu.
__ADS_1
“Maka aku yang akan menikahimu”, jawab Raka segera membuat Mira menatap padanya, mereka berdua saling menatap, tatapan Raka lebih kuat hingga Mira tak kuasa menatapnya terlalu lama, Mira memalingkan wajahnya. Berkali kali Raka berhasil membuatnya berdebar dan kali ini Mira tak menolaknya seperti biasa, ia tersenyum tipis mendengar ucapan Raka meski itu hanya becanda.
Mira mencoba memberanikan diri memandang Raka, ia menoleh perlahan memastikan Raka tak menyadari bahwa ia sedang memperhatikannya. Pria yang selama ini disebut dengan kakak, pria yang selama ini membantunya dan membuatnya tertawa, pria ini jugalah yang mampu membuat Mira berdebar meski ia memiliki kekasih. Dalam sedetik ia tersadar bahwa dirinya telah memiliki kekasih, tak seharusnya ia seperti ini, tak seharusnya Mira berdebar. Namun perasaan ini pun tak mampu ditolaknya begitu saja.
“Tidak. Aku tak mungkin berdebar, perasaan ini hanya karena aku terlalu sering bersama kakak saja, ingatlah Mira, kamu milik Arka!!”, ucapnya lalu kembali memalingkan wajahnya dari Raka. Raka menyadarinya, ia menyadari bahwa sejak tadi Mira terus saja memandanginya, ia juga melihat bahwa Mira tersenyum padanya diam diam, membuat Raka merasa seperti dirinya masih memiliki kesempatan untuk mendapatkan hati Mira.
Mereka berdua melewati hari ini bersama, mengunjungi beberapa tempat, makan bersama dan bermain di taman hiburan, berfoto, segalanya mereka lalui bersama. mIra terlihat sangat bahagia, bahkan ia lebih bahagia ketika bersama Raka, beberapa kali Mira merasakan ponselnya berdering namun ia tak menghiraukannya karena terlalu asik bersama Raka, ia merasa sesuatu yang salah tengah terjadi namun perasaan bahagianya dan perasaan senang yang dirasakannya membuat dirinya lupa akan kekasihnya.
Ponsel Mira terus berdering, panggilan dari kekasihnya beberapa kali ia biarkan tak terjawab. Dan Raka pun mengetahuinya, ia sengaja membuat Mira untuk fokus dengan dirinya dan tak menghiraukan siapapun mengganggunya, Raka merasa senang ketika Mira lebih memilih dirinya dari pada Arka saat itu. Hingga hari mulai malam, Mira tak lagi bisa tak meghiraukannya. Mira mencoba meraih ponsel yang ada didalam tasnya namun Raka menahannya dengan wajah yang memohon.
“Mira jangan, ku mohon jangan angkat panggilan itu”, ucap Raka menggenggam tangan Mira mencoba menghentikan aksinya. Mira yang terus mendengar dering ponselnya mencoba untuk melepaskan tangannnya dari genggaman Raka.
“Aku tak bisa lagi kak. Sejak tadi aku tak menghiraukan Arka yang mencoba menghubungiku. Aku pergi denganmu namun aku tak mengatakan apapun pada Arka”, ucap Mira mencoba melepaskan diri dari genggaman Raka. Namun Raka terus saja mencoba menghentika Mira, ia tak ingin siapapun mengganggu hari ini, harinya dengan Mira.
“Kamu bersamaku. Ku mohon jangan angkat. Teruslah bersamaku hingga akhir”, ucap Raka memohon dengan lebih keras. Hingga pada akhirnya, Raka terpaksa melepaskan Mira pergi, ketika Mira mengatakan satu hal yang membuatnya sedikit tersadar.
“Arka adalah kekasihku. Tak seharusnya aku keluar dengan pria lain tanpa sepengetahuan kekasihku kak. Termasuk kamu”, ucap Mira dengan terpaksa mengatakan hal itu, meski ia tahu bahwa kata kata itu cukup menyakitkan untuk Raka namun apa boleh buat? Raka takkan melepaskan genggamannya. Dan Mira pun pergi, pada akhirnya Mira memilih untuk kembali pada Arka yang adalah kekasihnya.
__ADS_1
“Aku takkan menyerah Mira, aku tahu kamu juga memiliki perasaan yang sama. Lihat dan tungg saja”, gumamnya dalam hati